Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Terkilir


__ADS_3

Acara tasyukuran digelar besar-besaran di kantor S&M untuk peringatan kelulusan Mitha. Tak hanya para sahabat Mitha, semua staf dan karyawan disana diliburkan hari ini dan mengikuti acara itu dengan suka cita. Benar-benar kejutan besar untuk Mitha yang terus menitikan air mata penuh haru. Dia begitu bahagia hari itu. Hingga acara selesai, wanita muda itu tetap tersenyum tanpa jeda.


"Kami pamit dulu ya Mitha, kak Elang, terimakasih untuk semuanya." pamit Gea, Zahra dan Andra bersamaan. Lagi-lagi Mitha tertawa riang pada mereka dan melepas para sahabatnya dengan kebahagiaan sempurna.


"Saya juga pamit kembali ke kantor tuan muda." Bian tak kalah cepat ingin berpamitan karena mengingat tugasnya yang masih menumpuk di kantornya. Kalau bukan karena Gea, mungkin dia masih duduk manis dan menyelesaikan tugasnya disana.


"Hmmm pergilah." jawab Elang seraya menepuk bahu sekretaris papanya itu sebelum pria kepercayaan keluarga Abimana itu berlalu


"Terimakasih kak. Aku sangat bahagia hari ini. Sekali lagi terimakasih." Ucap Mitha dengan mata berbinar. Tak ada sahutan. Elang terdiam seolah menganggapnya tak ada. Kembali mengabaikannya dan memilih melangkah ke mobil. Mitha mengikutinya tergesa. Beberapa saat kemudian mitha baru sadar jika Elang kembali marah karena dia salah sebut saat memanggilnya.


"Mas..tunggu!!" teriak Mitha begitu Elang telah jauh meninggalkannya yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aaooooww!!" teriaknya keras saat tubuh sintalnya berdebum mencium tanah. Elang yang tadinya berjalan cepat berhenti seketika. Setengah berlari dia menuju ke arah Mitha yang masih meringis kesakitan.


"Kau terkilir. Semoga tidak parah." gumamnya lalu mengangkat tubuh Mitha tanpa banyak tanya. Kembali dia melangkah cepat ke mobilnya dan menyuruh seorang satpam membuka pintunya.


"Sakit?" tanyanya sambil menjalankan mobilnya keluar area kantor S&M. Mithq hanya mengangguk lemah sambil terus meringis kesakitan. Pergelangan kakinya bengkak tiba-tiba. Berdenyut nyeri tak terhingga, serasa tercabut semua rambut di ubun-ubunnya.


"Kita ke rumah sakit." Putusnya tanpa penolakan. Melihat Mitha kesakitan saja sudah membuatnya sakit juga. Tangan besarnya tak henti mengelus dan mengenggam jemari Mitha.


"Mas...kita pulang saja." ujar Mitha lemah. Kedua telapak tangannya berubah dingin dan terus saling meremas, gugup.


"Jangan takut..ada aku." bisiknya penuh penekanan.

__ADS_1


Elang memanggil seorang petugas kesehatan untuk meminta kursi roda. Dia tak mungkin menggendong Mitha hingga ke sana seperti adegan sinetron. Alhasil Elang hanya menurunkan Mitha dari mobil lalu mendorong kursi itu hingga ke UGD.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Elang ingin tau


"Tidak ada keretakan di kakinya pak, cuma lumayan parah terkilirnya." jelas dokter yang menangani Mitha sesaat setelah memeriksa. Dokter itu segera memberikan penanganan dan menuliskan resep agar Elang menebus obatnya di apotik.


"Sementara ini istri bapak jangan terlalu banyak gerak dulu biar cepat pulih dan pastikan minum obatnya secara teratur."


"Baik dok, kami permisi." Elang kembali mendudukkan istrinya diatas kursi roda dan membawanya kembali ke mobil.


"Obatnya?" Mitha ingin mengingatkan karena melirik label apotik di sudut rumah sakit. Elang menghela nafas panjang. Hampir saja dia lupa karena panik melanda.


"Aku kesana dulu."


"Mas...."


"Tolong belikan madu sekalian. Aku tidak bisa minum obat tanpa madu."


"Kau...tetap seperti yang dulu." Elang sudah melesat ke apotik saat Mitha ingin bertanya. Apa itu tadi? seperti yang dulu? apa mungkin Elang tau kebiasaannya dulu. Kebiasaan buruk yang menyebalkan. Takut suntik, tak mau minum obat, penuh drama dulu jika akan dibawa ke dokter. Madu..harus ada madu saat dia sakit. Tapi mungkinkah? bukannya selama ini sang kakak sangat membencinya?


Lima belas menit kemudian Elang kembali, meletakkan bungkusan obat di dashboard mobil lalu melajukan kendaraannya pulang.


Bik Sri yang membuka pintu rumah sempat kaget ketika melihat Mitha digendong. Buru-buru wanita itu membuka pintu lebar-lebar agar sang majikan bisa masuk dengan mudah.

__ADS_1


"Tuan, itu non Mitha kenapa?"


"Jatuh bik." balas Elang tetap berjalan menaiki tangga.


"Tolong bawakan air minum hangat ke atas ya bik." perintah Elang di ujung tangga.


"Baik tuan." dan bik Sri tergesa ke dapur mengambilkan pesanan sang tuan lalu membawanya ke atas. Berulang kali wanita itu mengetuk pintu kamar Mitha, tapi tak ada sahutan. Dia yang tidak berani membuka pintunya beralih ke kamar Elang, ingin minta tolong majikan prianya itu.


"Tuan maaf..tapi itu..anu..kamar non Mitha dikunci. Sudah saya ketuk berulang kali tapi tidak ada jawaban." jelas bik Sri tak enak hati.


"Mitha tidur disini bik. Kamarnya memang dikunci dari luar sejak pagi tadi."


"Tidur disini?" gumam bik Sri heran. Elang yang membaca kebingungan dibenak bik Sri berinisatif menjelaskan.


"Mitha itu istri saya bik. Kami sudah menikah beberapa bulan lalu."


"oohh saya kira non Mitha itu adiknya tuan. Soalnya panggilnya kakak gitu. Non Sindy kemarin juga bilang sama saya jika diancalon istrinya tuan." jelas bik Sri sambil bernafas lega. Bukannya berpikiran buruk, dia hanya merasa aneh saja tadi karena kakak adik yanh sudah sama-sama dewasa tidur dalam satu kamar meskipun dalam kondisi sakit.


"Mitha hanya belum terbiasa. Dan soal Sindy..dia cuma temans saya yang kebetulan jadi sekretaris saya di kantor." jelas Elang balik, tak ingin kesalah pahaman itu berlarut-larut.


"Kalau begitu saya permisi tuan." pamit bik Sri disertai anggukan kepala Elang yang langsung masuk kembali ke kamarnya.


"Mas..."

__ADS_1


"hmmmm..."


"Maaf, karena aku yang salah menyebutmu menjadikan semua orang salah paham tentang hubungan kita." Mitha mendegar jelas percakapan bik Sri dan Elang. Seharian ini entah untuk berapa kalinya kesalah pahaman itu terjadi karenanya. Sungguh Mitha menyesal karenanya.


__ADS_2