
Paginya Mitha bangun agak kesiangan karena semalaman tak bisa tidur karena menahan lapar yang teramat sangat. Ingin mengambil cemilan juga dia ogah turun. Males juga kalau harus bertatapan dengan Elang dibawah. Bukan berargumen sendiri, dia kerap kali melihat Elang menyelesaikan pekerjaannya dimeja makan sambil minum kopi.
"Hufft ..lapar sekali." keluh Mitha sambil menyeret langkah turun ke dapur. Masih setengah tujuh pagi. Ada sedikit waktu untuk sarapan dengan semangkuk mie instan.
Mood Mitha kembali berubah buruk saat melihat Elang yang sudah duduk rapi di meja makan sambil memencet ponselnya.
"Nggak sadar punya suami ya?" tegur Elang tanpa melihat ke arah Mitha. Sindiran telak yang membuat leher Mitha teecekat karenanya.
"Nggak tau kewajiban istri? Ini yang dibilang mama...."
"Aku tau kak." pangkas Mitha cepat. Makin di dengarkan akan makin panjang urusannya, akan makin sakit pula hatinya. Dengan gesit dia mengambil cangkir dan menyeduh kopi hitam, lalu mengantarkannya pada Elang yang menyeringai sekilas. Aroma kopi itu begitu menggodanya.
Tak ingin disindir lagi, Mitha bergegas mengambil bumbu, peralatan masak dan mulai memasak sarapan. Tau begini dia akan datang ke dapur lebih pagi.
"Kau mau apa?" Mitha menatap jengah. Ingin rasanya dia melemparkan wajan yang dipegangnya ke wajah kakak menyebalkannya itu. Sudah tau dia mau masak, malah bertanya. Apa dia pikir Mitha mau mandi? Dasar muka tembok.
"Memasak sarapan." balas Mitha.
"Itu tidak perlu. Nanti sore saja masak makan malam."
"Tapi aku lapar kak...."
"Apa kau pikir aku tidak lapar?" Menyebalkan! dia yang semalam menghabiskan dua porsi masih saja mengeluh lapar, apa lagi Mitha?
"Kalau begitu aku akan masak."
"Kubilang tidak usah."
__ADS_1
"Lalu kita mau makan apa kak?" dengus Mitha kesal. Segini amat menikah dengan om-om.
"Kau tak lihat ada omelet di rak makanan?"
"Rak makanan?" ulang Mitha heran. Dia memang belum sempat memeriksa rak dindekatnya walau sudah mencium aroma masakan. Mitha hanya takut berhalusinasi karena sedang lapar. Tangannya bergerak membuka rak, benar...ada dua porsi omelet disana. Dia meraihnya dengan hati-hati.
"Kakak yang memasaknya?"
"Memang siapa lagi?" bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Mau sarapan sekarang?"
"nggak, tahun depan saja sekalian lebaran." aahh ya ampun! andai tak ingat Elang itu siapa mungkin piring ditangannya sudah melayang entah kemana. Ngeselin. Tapi Mitha berusaha menyabarkan dirinya. Diletakkannya piring itu dihadapan sang suami yang langsung meraih garpu dan sendoknya, mulai acara makannya, cuek.
Mitha menghela nafas panjang, mulai sekarang dia harus menyiapkan stok kesabaran diatas rata-rata agar bisa hidup lebih lama. Takutnya dia terkena serangan stroke diusia muda karena tiap hari dipaksa menghadapi muka datar mulut pedas dihadapannya.
"Mau kemana?" lagi-lagi Mitha dibikin geram karena Elang terus saja bertanya padanya. Kata pendek, tanpa ekspresi, parahnya sudah tau jawabannya.
"Kampus." balasnya singkat. Kalau Elang bisa irit bicara maka dia juga bisa. Dijawab panjangpun akan sia-sia karena lawan bicaranya iti minim ekspresi, tak bersahabat.
"Tunggu." Mitha hanya melongo melihat Elang berjalan ke kamarnya lalu kembali dengan tas kerja dan jas yang tersampir dilengannya.
"Ayo." Ajaknya sambil berjalan lebih dulu ke arah pintu. Aneh..yang ngajakin siapa yang ninggal siapa!
"Aku bisa naik taksi kak." protes Mitha. Dia memang sudah berencana naik taksi tadi. Nggak taunya kakak anehnya itu sudah gercep duluan.
"Kau sudah bersuami. Ikuti kata-kata suamimu!" hardik Elang keras.
__ADS_1
"Suami? Kedengarannya menarik juga." komentar pendek Mitha dengan seny hambar. Tumben-tumbenan Elang menyebut kata suami atau istri di depannya.
"Apa maksudmu?" lagi, wajah garang itu mendekat padanya dengan mata menyipit. Dalam posisi sedekat itu Mitha bisa melihat betapa bola mata hitam pria itu begitu tajam, setajam namanya...Elang. Bibir kemerahan dan kumis tipis yang membuat tampilannya begitu gentle.
"Apa kau sedang mengagumi wajahku nyonya Abimana?" tanyanya dengan wajah serius. Sontak Mitha memundurkan wajahnya, kaget dengan gerakan Elang yang tiba-tiba.
"Jika kau memang melakukannya, tampaknya kau harus bersiap patah hati nyonya. Orang tua kita boleh menikahkan kita dan menjadikanmu istriku, tapi tidak diriku." Mitha memasang wajah dingin. Raut wajahnya mengeras.
"Mau berapa kali kakak mengingatkan aku? aku tidak akan lupa kak, sama sekali tidak." sahutnya amat ketus. Elang memindai wajahnya lama. Ternyata Paramitha kecil yang keras kepala sama sekali tidak berubah.
"Syukurlah jika kau ingat." ujarnya lalu pergi ke arah pintu diikuti Mitha.
Sampai di mobil, Mitha yang duduk disebelahnya mendengar ponsel Elang berdering. Elang yang baru melajukan mobilnya beberapa meter menghentikannya di dekat gerbang.
'Ayank'
Batinnya mengeja nama yang tertera disana. Tiba-tiba hati Mitha sakit. Dia mengalihkan pandangannya ke samping. Jika memungkinkan dia malah ingin lari saja keluar mobil.
"Hallo yank." sapa Elang, samar-samar Mitha mendengar wanita diseberang sana berbicara. Elang diam dan mendengarkannya dengan takzim. Jengah....Mitha membuka pintu, lebih baik naik taksi saja kalau begini.
Gerakannya terhenti saat sebuah tarikan kuat memaksanya tinggal dan terjatuh. Dada bidang itu..dia terjatuh disana dengan wajah yang memerah.Saat dia mengangkat wajahnya, iris coklat itu melebar. Elang menatapnya penuh kemarahan dan mengakhiri panggilannya.
"Jangan pernah pergi tanpa ijinku."
ππππππππ
Hay readers, maafkan author yang lama nggak update ya, lagi kejar target soalnyaπ Tapi mulai hari ini isyaallah update rutin kok. Terimakasih sudah mampir dan mengapresiasi karya ini. Happy reading n ILOVE U allππππ
__ADS_1