Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Dek


__ADS_3

Masih jam 6 pagi saat Mitha keluar dari kamarnya menuju dapur. Gadis itu segera mengambil peralatan memasaknya kala sebuah omelet mie sudah terhidang di meja makan. Baunya sangat harum dengan tampilan yang menggoda. Daun selada yang dipasang disekelilingnya, juga potongan tomat dan mentimun disana serasa membuat air liurnya menetes. Tapi Mitha buru-buru mengalihkan pandangannya. Bukan dia yang memasaknya, pasti Elang karena mereka hanya tinggal berdua saja di rumah itu.


Kalau saja dia bangun lebih awal...tentu dia akan lebih dulu menyiapkan makanan. Tapi untuk apa? bukannnya Elang tidak suka dengan masakannya yang dibilang rasanya aneh? lelah berpikir, Mitha memilih mengambil beras, mencucinya dan menanak nasi. Menu paginya akan sangat sederhana kali ini.


Elang muncul dari pintu penghubung saat dia selesai memasak. Rupanya dia baru dari kolam, mungkin memberi makan ikan piaraan mamanya. Pria itu menatapnya heran lalu mendekat hingga mereka hanya dibatasi meja dapur saja.


"Aku sudah memasak untuk kita." Mitha tak menanggapi. Dia memilih menunduk sambil membersihkan peralatan masaknya. Lebih baik begitu agar tak ada interaksi lagi diantara mereka. Bukankah itu sudah terjadi sejak dia kecil? jika sekarang tetap begitu lalu apa anehnya? toh dia sudah terbiasa.


"Jadi kau tak mau masakanku?" sarkas Elang dengan ekspresi kecewa. Lagi-lagi tak ada sahutan. Elang mendengus keras, mengambil dua porsi omelet di piringnya dan melangkah cepat ke pos satpam di depan.


"Selamat pagi tuan.." sapa Ari dan Udin yang sedang berjaga. Tentu saja pemuda itu kaget karena tuan mudannya tiba-tiba menghampiri mereka dengan dua piring di tangannya, masih pagi lagi.


"Pagi, kalian sudah sarapan?" lagi, kedua pemuda itu saling tatap lalu menggeleng bersamaan. Sarapan? bahkan sift malam mereka baru akan berakhir satu jam lagi. Mana bisa mereka sarapan diluar? sarapan di dalampun sangat tidak mungkin karena sejak pembantu rumah besar itu pulang kampung dan belum kembali, tak ada yang akan mengurusi mereka seperti biasa meski pintu penghubung dapur selalu terbuka jika mereka butuh sesuatu. Tapi nyatanya mereka enggan. Sungkan rasanya jika menganggu sang tuan rumah.


"Kebetulan, kalian sarapanlah." lanjut Elang sambil menyerahkan dua piring ditangannya pada mereka yang masih saling berpandangan bingung.


"Terimakasih tuan muda." ucap Ari yang sudah sadar duluan dari rasa kagetnya. Wihh...jarang-jarang mereka dapat jatah makan yang diantar langsung oleh sang majikan. Kesempatan langka mungkin.


"Hmmmm..." balas Elang sambil kembali berjalan memasuki rumah.


"Kak itu...." Mitha tentu dibuat kaget saat Elang sudah duduk di kursi yang harusnya dia tempati. Pria itu juga mengambil piringnya dengan percaya diri dan memakan makanan yang seharusnya miliknya.


"Kak, berhentilah!" pekik Mitha kesal. Elang benar-benar membuatnya amat-amat sangat kesal. Susah payah memasak hingga matang, ehh..suami menyebalkannya malah memakannya tanpa permisi. Dia hanya buat untuk satu porsi saja tadi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" wajah innocence itu kembali terpasang sempurna sambil melahap makanannya.


"Itu milikku."


"Milikmu milikku juga." Iris mata coklat itu melebar kembali saat Elang juga menyeruput kopi susu kesukaanya. Padahal dia menyiapkan menu itu agar moodnya membaik. Bukannya jadi baik, Elang malah membuatnya makin kesal dengan enak-enakan makan sedang dia masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Bukannya kakak yang bilang rasa masakanku aneh dan kakak terpaksa memakannya?"


"Itu kemarin. Sekarang aku ingin memakannya. Bukannya makan sayur itu baik untuk kesehatan tubuh?" balasnya tanpa rasa bersalah.


"Baiklah, terserah kakak. Lakukan saja apa yang kakak mau." pungkas Mitha sambil melepas celemeknya dan menggantungkannya di tempat semula. Perutnya terlalu lapar untuk berdebat. Lebih baik segera mandi dan berangkat. Lebih cepat lebih baik. Toh hari ini Elang tak lagi menemaninya ke kantor S&M. Ada sopir yang akan mengantar jemput dirinya meski Mitha menolaknya. Dia ingin menyetir sendiri. Tapi Elang sama saja dengan papa mamanya yang amat protektif padanya.


"Tentu saja dek."


"Kau mau jadi adekku kan? ya udah..mulai sekarang kupanggil dek aja. Selesaikan?" Tak ada sahutan. Mitha sudah berada di puncak rasa kesal.


"Dasar pria aneh!!" gerutunya sebal.


.....tok...tok...tok..


"Dek...adek..cepetan! ntar telat, aku ada meeting pagi ini." teriakan keras menggema, membuat konsentrasi Mitha merapikan rambutnya pecah seketika. Apa sih maunya Elang sebenarnya?


"Apa?" pertanyaan pertama Mitha setelah membuka pintu dan kepalanya hampir kena getok gara-gara Elang terlalu semangat mengetuk pintu tapi juga sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Ayo cepetan!"


"Kakak berangkat aja dulu. Kan ada sopir. Ntar aku agak siangan saja." Bukannya senang, Elang malah mengeram marah.


"Hari ini Udin masuknya siang. Aku tidak mau ambil resiko meninggalkanmu di rumah."


"Tapi aku ini sudah gede kak. Bukan anak Tk. Aku bisa berangkat dan pulang sediri." protes Mitha tak terima.


"Mau kamu gede sampai segede gaban juga kau tetap anak TK di mataku. Ayo!!" paksa Elang tak menerima penolakan. Terpaksa Mitha mengambil tasnya cepat dan berjalan di belakangnya.


Tak ada pembicaraan disepanjang jalan yang mereka lewati. Mitha dalam mode diam sambil menatap lurus ke depan, sedang Elang melajukan kendaraannya pelan sambil celingukan mencari sesuatu.


"Lho...kok berhenti." Elang tak menjawab. Setelah memarkirkan kendaraannya dia segera menyeberang jalan dengan langkah panjangnya. Lihatlah pria tampan itu...sempurna dengan langkah tegapnya. Mata Mitha terus mengikuti tujuan suaminya ke sebuah lapak yang cukup ramai dikerumuni para pembeli hingga tulisannyapun tak bisa terbaca karena tertutup kerumunan itu. Anehnya Elang hanya sebentar disana. Dia sudah kembali menyeberang jalan sambil menenteng sebuah bungkusan dan segera masuk ke mobil.


"Untukmu."


"Ini apa kak?" tanya Mitha tak mengerti.


"Nasi uduk lengkap." balas Elang singkat sambil kembali melajukan kendaraannya, kali ini dengan kecepatan normal, tidak lamban seperti tadi.


"Tapi aku sedang tidak....."


"Kau ingat pernah memintanya padaku puluhan tahun lalu? anggap saja aku memenuhi permintaanmu kala itu. Makan dan nikmarti saja selagi aku berbaik hati."

__ADS_1


Ingatan Mitha seketika melayang saat dia masih sepuluh tahun. Saat dia menjadi seorang gadis kecil berseragam merah putih yang meminta tolong kakaknya membelikan nasi uduk untuk bekal karena mama Maria tak menyiapkan bekalnya kala itu. Mamanya sibuk menemani papa Abi yang terserang jantung ringan di rumah sakit. Sedang pembantu rumah sedang tak ada seperti sekarang. Tapi bukannya menuruti dirinya, sang kakak malah meninggalkan dirinya sendiri dan pergi ke sekolah bersama Sindy yang sudah menunggu di depan pagar. Miris. Mitha kecil yang hanya bisa menangis menahan lapar dan sakit hati.


__ADS_2