
"Tetap saja aku seorang istri yang butuh nafkah batin mas." ujar Mitha lemah. Sebagai wanita baik-baik tentu dia amat malu mengatakan hal itu. Tapi harus bagaimana lagi? komunikasi adalah hal penting dalam sebuah hubungan. Dia juga tak ingin terus merasa bersalah walau dia sama sekali tak salah.
"Aku akan jelaskan mas...."
"Mitha, jangan ungkit hal itu." potong Elang cepat. Lagi dan lagi sebuah kecupan sayang mendarat di pucuk kepala sang istri.
"Maafkan aku yang sudah berkata yang tidak-tidak padamu." lanjut pria awal tiga puluhan itu lembut. Hidung mancungnya bahkan sudah menyentuh pelupuk mata wanitanya dengan hembusan nafas beraroma mint yang tentu saja membuat Mitha nyaman.
"Lalu kenapa mas Elang tak mau menyentuhku setelah kejadian itu?" Mitha yang kembali bersandar ke dada lelakinya mencoba kembali bertanya. Elang mengeratkan pelukannya.
"Sayang, ini bukan seperti apa yang kau bayangkan. Sementara ini biarkan saja begini."
"Apa semua ini karena mas Elang tidak mencintaiku?" sebuah kalimat yang sangat hati-hati. Mitha sangat ingin menjaga hati dan perasaannya sendiri karena tak ingin terluka. Apalah dia dibanding seorang Elang yang good looking juga punya segalanya. Jika pria ini mau akan banyak perempuan diluar sana yang akan rela melemparkan tubuhnya secara cuma-cuma pada dirinya, termasuk Sindy.
__ADS_1
"Apa diamnya mas Elang adalah jawaban?" Elang masih terdiam hingga Mitha menarik kesimpulannya sendiri. Berlahan diusapnya dada bidang sang suami.
"Baiklah jika mas tak mau menjawab." Lebih baik mengalah untuk mempertahankan rumah tangga bukan?
"Aku tak mau menjawab hal yang tidak penting Paramitha."
"Hal tak penting apa yang mas maksudkan? Cinta?? kenapa kalian para pria selalu menganggap remeh sebuah perasaan? padahal kami para wanita ....."
"Tapi benarkan...mas Elang sama sekali tak mau menyentuhku setelahnya? kenapa mas? Setidaknya berikan aku alasannya. Tadi di kantor menggebu, sekarang berubah lagi. Aku bingung mas. Sebenarnya mas Elang tuh butuh kau tidak?" Seulas senyum tergurat di bibir tipis Elang. Dengan gerakan cepat diangkatnya tubuh langsing Mitha dipangkuannya hingga wanita muda itu memekik kaget. Secara Refleks dia bahkan mengalungkan tangannya ke leher Elang.
"Jadi ada yang ngambek minta jatah nih?" godanya membuat pipi Mitha memerah menahan malu. Sebuah cubitan kecil mendarat di lengan Elang yang melingkari pinggangnya.
"Cuma tanya. Nggak minta." balas Mitha.
__ADS_1
"Tapi kalau dikasi maukan?" Elang hampir saja tertawa keras manakala melihat istri polosnya mengangguk penuh harap.
"Ya sudah..ayo!! sudah waktunya kau tidur. Jangan mikir yang aneh-aneh. Sementara ini biarkan saja begini. Aku sedan bad mood sayang. Lain kali saja ya? Mitha please...buat aku nyaman di dekat kamu." Lidah Mitha kelu. Malam ini dia ditolak secara terang-terangan, tapi dia bisa apa selain diam? Elang yang melihat Mitha melamun segera menggendong istrinya dengan langkah lebar ke kamarnya.
......drrrrttt...drrrttt....
Ponsel di sakunya bergetar saat Elang baru saja meletakkan tubuh Mitha dia tas ranjang besarnya. Ingin dia mengabaikannya, namun getarannya mau tak mau menganggu aktivitasnya. Mitha memberi isyarat agar dia memeriksa ponselnya. Betapa kesalnya Elang saat tau Bianlah yang meneleponnya. Sedikit malas dia mengangkatnya.
"Ya Bi...." Mitha segera turun dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi saat Elang sibuk bicara dengan Bian di telepon. Cukup cuci muka, sikat gigi dan ganti baju lalu tidur. Begitu lebih baik bukan? toh mood Elang sedang hancur. Dia tak tertarik dengan tubuh wanita.
"Bi, itu laporan harus....ahh ya Tuhan...." hampir saja ponsel di tangan kanan Elang jatuh jika dia tak refleks mengenggamnya. Bagaimana tak kaget? disisi kiri ranjang mereka, Elang yang tak sengaja menatap ke arah itu melihat Mitha berjalan amat percaya diri dengan rambut terurai, Tubuh indahnya terlihat amat seksi dibalut lingrie merah menyala dengan gerakan amat seksi menuju meja riasnya. Sungguh, Elang dibuat kesuliatan menelan lidahnya sendiri saat melihat belahan dada dan paha sang wanita yang amat mulus dan....menggairahkan.
"Bi, sudah dulu ya. Besok saja kita lanjutkan di kantor. Ada s esuatu harus ku kerjakan." Dan Elang langsung mematikan panggilan itu sekaligus ponselnya. Dia tak ingin diganggu siapapun malam ini.
__ADS_1