Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Dugaan


__ADS_3

"Mas...."


"Hmmmm..."


"Apa kau serius ingin mengadopsi bayi Zahra? Elang menghentikan kegiatannya mengringkan rambut basahnya lalu mendekati istrinya yang duduk manis di sofa.


"Apa aku terlihat bercanda sayang?" Mitha menggeleng. Dia tau Elang tak suka bercanda. Suaminya itu tipe serius dalam segala hal. Mengarah kaku malahan.


"Kenapa ambil keputusannya tiba-tiba sekali? nggak bicara dulu." Elang malah sibuk menyalakan televisi dan mencari chanel favoritnya, mengabaikan pertanyaan sang istri yang tentu saja menanti jawabannya.


"Mas Elang menginginkan seorang anak juga?" Pertanyaan polos Mitha membuat Elang terkekeh geli lalu merangkum kedua pipi istrinya. Wanitanya itu malah seperti salah paham padanya.


"Kau atau aku yang menginginkannya hemm? Siapa yang sering menyimpan foto bayi lucu di ponselnya? atau diam-diam menscrol video baby? apa kau tau orangnya?" Mitha mencubit lembut perut suaminya. Dia memang menyukai tema bayi juga ingin punya bayi sendiri tapi tanpa adobsi. Sungguh, dia ingin menjadi seorang ibu dari darah daging yang lahir dri rahimnya sendiri. Tapi dia juga tak bisa mengabaikan Zahra begitu saja.


"Kita akan belajar jadi orang tua sebelum Tuhan menitipkan bayi kita dalam rahimmu sayang. Zahra butuh pertolongan kita, demikian pula bayi itu. Setidaknya kita akan memberikannya kesempatan untuk hidup." Elang benar, bayi itu berhak hidup apalagi Zahra. Dia tak ingin sahabatnya itu kenapa-napa.


Ponsel Mitha berdering , membuat pasangan suami istri itu menoleh ke atas meja tempat ponsel itu diletakkan. Elanglah yang pertama kali menjangkau ponsel istrinya lalu melihat siapa yang menelepon malam-malam begini.


"Gea telepon sayang."

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu pada Zahra mas?" Elang mengidikkan bahunya tak tau. Pria itu malah memberi isyarat agar istrinya segera mengangkat teleponnya.


"Hallo Ge ..."


"Mith....Andra adalah ayah dari babynya Zahra." Tentu saja Elang dan Mitha tercekat mendengar perkataan Gea dalam mode loudspeaker itu. Mata Mitha bahkan membulat sempurna karena rasa terkejutnya.


"A...Andra...ba...bagaimana bisa Ge?" Terus terang Mitha dibuat tak enak hati menyebut nama mantan pacarnya itu di depan sang suami. Dia takut Elang tersinggung.


"Zahra terus menyebut namanya."


"Jangan menarik kesimpulan sendiri Ge. Kita semua tidak tau apa yang sebenarnya terjadi." Gea menghembuskan nafasnya kasar.


"Barusan ayah Andra datang kemari. Dia ingin Zahra segera pergi dari kota ini. Dia juga meninggalkan banyak uang agar aku membawa Zahra pergi Mith. Apa kesimpulanku ini salah?"


"Tidak. Tapi Zahra histeris saat melihatnya hingga dokter terpaksa memberikan suntikan penenang agar Zahra tenang."


"Apa Bian ada bersamamu, Ge?" Elang mengambil alih ponsel istrinya karena merasa ikut bertanggung jawab pada keselamatan Zahra.


"I...iya..ada pak." Gea yang tak menyangka Elang akan ikut telepon tentu saja terkejut hingga tergagap menjawab pertanyaan sang bos.

__ADS_1


"Panggilkan dia Ge, aku ingin bicara." perintah Elang. Beberapa saat kemudian ponsel itu berpindah tangan.


"Ya bos...apa kau butuh sesuatu?" suara familiar Bian sudah menyapa Elang yang terlihat tegang.


"Bi....apa tuan Permana datang sendirian?"


"Ya bos, sepertinya beliau tergesa dan ketakutan." Bian amat teliti jika dihadapkan pada sesuatu. Mungkij hal inilah yang membuat Elang perlu banyak mengajukan pertanyaan padanya.


"Lalu setelahnya?"


"Keluar, setelah memastikan keadaan sekitar aman. Anehnya dia pakai masker dan kaca mata hitam saat malam hari begini." Sudut bibir Elang terangkat. Netra sehitam jelaganya berkilat seperti girang karena menemukan sesuatu.


"Ayah bayi Zahra adalah tuan Permana." Mitha hingga melotot pada suaminya yang mengambil kesimpulan secara asal. Bisa jadi fitnah dan pencemaran nama baik jika dibiarkan berlarut-larut.


"Apa anda punya bukti bos?" tentu saja otak cemerlang Bian akan langsung bekerja tepat sasaran.


"Kita harus mencari buktinya sekaligus membujuk agar Zahra mau bicara jujur." Bian menggerutu kesal. Tugasnya bertambah lagu di luar urusan kantor yang sudah membuat pikirannya pusing.


Mitha segera memborbardir suaminya dengan banyak pertanyaan saat lelakinya itu menutup panggilannya. Wanita memang dibekali jiwa ingin tau yang ada diatas rata-rata. Mereka selalu saja bersikap seolah masalah orang lain adalah masalahnya juga.

__ADS_1


"Mas yakin sekali jika tuan Permana pelakunya. Aku takut mas Elang dituduh macam-macam atau diseret ke ranah hukum." ada sedikit penekanan pada setiap kata yang keluar dari bibir Mitha. Wanita muda itu hanya khawatir pada sang suami, tak lebih.


"Pikirkan ini Mith. Jika memang Andra pelakunya, ayahnya tak akan datang diam-diam dan melakukan semuanya. Dia tinggal datang secara terang-terangan dan menunjukkan kekuasaannya agar Zahra meninggalkan anaknya bukan? Logikanya...dia melakukan semua itu untuk menutupi aibnya sendiri, bukan aib keluarganya." Mitha terdiam, mencerna setiap ucapan suaminya.


__ADS_2