Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Semangat


__ADS_3

Mata sembab Mitha masih terlihat walau sudah sekian lama dia mengompresnya agar tak begitu terlihat. Sejak Elang meninggalkan kamarnya semalam, dia juga memilih pergi ke kamarnya. Menangis semalaman entah untuk apa. Meratapi nasib? atau menyalahkan diri sendiri. Mitha memilih tetap bergelung dalam selimutnya meski sudah jam tujuh pagi. Rasa enggan dan kesedihan masih mendominasi dirinya.


Sebuah ketukan dipintu membuatnya menyandarkan diri ke kepala ranjang. Bik Sri masuk setelah dia menyuruhnya. Wanita paruh baya itu hanya menatapnya sekilas, mungkin tau jika dia sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa bik?" tanya Mitha lemah.


"Mbak Gea ada dibawah non." Seketika wajah sedih Mitha berangsur membaik. Dia menyibakkan selimutnya dan duduk.


"Suruh Gea naik bik." jawabnya bersemangat. Bik Sri segera turun. Pasti Gea sudah menghubunginya tadi dan Mitha baru sadar jika ponselnya tertinggal di kamar Elang.


"Mith...." panggil Gea setelah mengetuk pintu kamarnya.


"Ge...." Tangis Mitha pecah. Gea segera mendekat dan memeluknya. Menepuk punggungnya lembut dalam diam. Dia tau Mitha sedang sangat bersedih.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya lembut. Dengan suara lirih dan terbata karena sesenggukan menahan tangisnya, wanita muda itu menceritakan semuanya pada Gea yang menatapnya penuh kabut. Gea cukup mengerti perasaan sahabatnya itu.


"Jangan terlalu dipikirkan Mith. Hidup itu harus berjalan. Yang lalu biar berlalu. Kalau pak Elang nggak bisa terima keadaan kamu dan nggak mau percaya pada kejujuran kamu ya nggak usah dipaksa. Cukup kamu fokus sama kehidupan kamu sendiri. Yakin deh, aku akan tetap menemani kamu. Kamu nggak sendiri kok." hibur Gea menyemangi sahabatnya itu. Melihat Mitha sedih juga membuat hatinya pedih.


"kamu...ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Mitha tiba-tiba setelah agak lama diam dan mencerna kata-kata sang sahabat. Gea nggak mungkin datang tanpa alasan. Dia juga tidak menghubunginya dari kemarin. Pasti ada sesuatu yang penting.


"Pak Bian menyuruhku kemari. Hari ini aku sudah dipindahkan ke kantormu. Tapi kalau kamu sedang nggak baik-baik saja sih, biar aku sendiri yang kesana. Nanti pak Bian akan membimbingku sebentar." Mitha baru tersadar jika dia punya tanggung jawab.


"Tunggu sebentar. Aku ikut kamu ke kantor."


"Ya. Aku harus mengurus usaha warisan mamaku Ge. Hanya itu satu-satunya yang kupunya."


"Baguslah Mith. Jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Kamu harus bangkit." Mitha mencoba tertawa. Penuh semangat dia mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Semangaaaattt!!" pekiknya disambut tawa berderai Gea. Mitha tergesa ke kamar mandi dan mandi kilat, memakai setelan formalnya, membubuhkan make up natural pada wajahnya agar tak terlihat pucat dan sembab berlebihan lalu mengambil tasnya.


"Kita sarapan ditempat biasa ya Ge." katanya antusias. Kehadiran Gea dengan watak cerianya sudah membuatnya lebih baik tampaknya.


Wajah Mitha membeku saat melewati anak tangga terakhir. Ada Elang yang sedang duduk di meja makan menghadap kearahnya. Hari ini dia juga melupakan tugasnya, menyiapkan kebutuhan Elang juga sarapannya, padahal ini sudah kelewat siang. Harusnya Elang sudah berangkat.


"Selamat pagi pak." sapa Gea. Elang hanya mengangguk, tatapannya mengarah pada Mitha yang hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihatnya. Kata-kata pria itu semalam masih sangat menyakitinya hingga dia juga tak mau sekedar meliriknya. Mitha memilih berjalan lebih dulu ke pintu. Langkah yang dipaksakan agar terlihat baik-baik saja karena menahan perih dipangkal pahanya. Gea buru-buru berpamitan dan menyusul Mitha. Meninggalkan Elang yang masih menatap Mitha intens. Kaca tembus pandang dari ruang makan ke depan juga membuatnya tau saat Mitha mengrenyit sakit ketika akan naik ke boncengan sepeda matic Gea. Istrinya itu terlihat lemah, namun tetap memaksakan dirinya. Ada yang terasa sakit disudut hatinya. Apa dia terlalu jahat padanya?


Elang menatap kedua wanita itu hingga menghilang dibalik gerbang. Tangan kekarnya dengan cepat meraih ponselnya, menghubungi seseorang.


"Ya tuan." sahut seseorang disana.


"Bi, tetaplah dikantor karena hari ini aku yang akan ke kantor istriku. Handel semua pekerjaan dan kirim laporannya padaku." katanya tegas. Ada rasa tak tega saat membayangkan Mitha kenapa-napa. Bagaimanapun wanita itu tetap istrinya. Masih tanggung jawabnya. Ahhh....bicara soal tanggung jawab, benarkah ini cuma masalah tanggung jawab?

__ADS_1


"Baik tuan." balas Bian diseberang sana.


__ADS_2