Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Esoknya


__ADS_3

Gea terus saja menggerutu saat bu Asri menyuruhnya beberapa kali untuk membantu menyiapkan hidangan untuk para tamu mereka. Bian benar-benar keterlaluan. Dia bukan hanya memaksanya menerima pernikahan ini karena dua alternatif yang dia tawarkan. Resign tapi menikah dengannya, atau membayar denda satu milyar sesuai perjanjian asli yang dia tanda tangani karena resign sebelum kontrak usai. Artinya, Bianlah yang akan membayar denda itu pada perusahaan. Saat dia mencoba menemui Elang tadi siang, jawaban bosnya itu juga sama sekali tak membuatnya bahagia. Elang malah menunjukkan kekuasaannya dengan menyuruhnya mematuhi kontrak. Jika tak mau menikah, maka dia harus tetap bekerja di sana dan terus menerus bertemu wajah menyebalkan Bian.


Sebenarnya pilihan itu yang paling masuk akal dan sedikit ringan untuknya, tapi bu Asri sudah telanjur antusias pada pernikahannya. Entah pelet apa yang dipakai Bian agar ibunya benar-benar setuju seperti sekarang. Padahal bu Asri itu tipe cerewet soal pasangan bagi anaknya. Biasanya juga selalu mengkritik teman laki-laki Gea termasuk Andra yang dulu dikira pacarnya karena bolak-balik mengantanya pulang. Tapi pada Bian.....ibunya itu langsung klik setelah tau dia sekretaris utama Elang. Bukannya Andra malah sepuluh kaya dari dia? dasar aneh. Tapi sikap manis Bian jauh membekas dilubuk hatinya.


"Ge, cepetan mandi sana. Jangan lupa pakai baju yang sopan dan dandan yang cantik. Sebentar lagi pakde sama budhemu juga bakalan datang buat nemenin ibu. Nak Bian dan keluarganya pasti nyusul setelahnya. Jangan bikin malu ibu ya nak." Pesan bu Asri mewanti-wanti putrinya. Peraturan baru lagi. Gea tidak boleh pakai celana atau baju amburadul lain sesuai stylenya. Tapi wajib pakai kebaya modern dan sejenisnya yang entah didapatkan ibunya dari mana. Yang jelas baju-baju aneh itu sudah nangkring manis di kamarnya sejak pagi.


"Eehhh Mitha..sini..sini nak. Astaga, nak Elang juga...mari masuk sini nak." Langkah Gea langsung terhenti saay tau Mitha dan Elang datang. Diliriknya jam dinding. Baru jam lima sore. Padahal acara akan diadakan jam tujuh malam nanti. Gea segera keluar menghampiri bosnya itu.


"Selamat sore pak." sapanya seraya menyalami keduanya. Beberapa orang nampak membantu pasangan muda itu menurunkan beberapa kardus dari dalam mobil.


"Ehmm..sore Ge. Aku nitip Mitha sebentar ya."


"Maksudnya pak?" Gea tak mengerti. Mitha tertawa renyah.


"Ya aku mau disini dulu." jelas Mitha mendapat anggukan Gea yang masih menyimpan banyak tanya dibenaknya.


"Mith..apa yang kalian bawa?" bisik Gea lirih. Mitha tersenyum padanya.


"Hanya beberapa kue basah dan hantaran untuk pulang tamu kalian." sahut Mitha. Meski hanya acara lamaran, tapi menurut adat kampung Gea tetangga juga diundang, demikian pula para saudaranya. Jadilah rumah itu terlihat ramai sekarang.

__ADS_1


"Kenapa repot-repot?" Tentu saja Gea tak enak hati. Apalagi tadi pagi dia sempat kesal juga pada Elang karena keputusannya yang amat bertolak belakang dengan harapannya. Tapi suami istri itu bersikap seolah tak ada apa-apa yang terjadi diantara mereka.


"Sudahlah Ge. Sana cepetan mandi!!" perintah Mitha sambil mendorong sahabatnya itu ke belakang rumah.


"Tapi Mith..."


"Sudahlah. Nanti saja bicaranya. Cepetan mandi oke?" Dan Gea sudah tak mampu lagi mengeluarkan suaranya untuk membantah. Suami istri yang aneh. Tadi pagi mereka meminjamkan pekerja rumah mereka untuk bersih-bersih, memasak, mencuci dan melakukan kegiatan lain untuk membantu ibunya, sekarang juga datang dengan banyak bingkisan yang memenuhi satu ruangan dalam rumah sederhananya, nanti entah apalagi yang akan mereka lakukan.


"Sayang, sepertinya aku harus pulang dulu." pamit Elang setelah semua barang diturunkan. Tangannya mengelus perut Mitha lembut.


"Mas kesini jam berapa nanti?" Mitha bergegas mendekati suaminya.


"Lama banget mandinya Ge." Gea yang barusan membuka pintu merenggut kesal.


"Ya kan kamu tau sendiri kalau kamar mandi rumahku cuma sebiji Mith. Itupun harus gantian. Nggak sama kayak yang di rumahmu, satu kamar satu."


"Halah bentar lagi juga kamu bakalan begitu. Rumah kak Bian juga modelnya kayak rumahku walau tak sebesar milik orang tuaku." Gea terdiam. Rumah? bukannya selama ini Bian tinggal di apartemen?


"Hmmmm...kelihatannya hanya aku yang tak bahagia.'' ungkap Gea kesal. Mitha segera menyuruhnya berganti pakaian lalu memoles wajahnya dengan lipstik natural. Tak sia-sia dia ikut kursus kecantikan kala itu.

__ADS_1


"Aku jamin kau akan bahagia Ge." Gea melengos kesal.


"Bahagia? Yang ada berantem tiap hari Mitha. Kamu nggak lihat apa kalau raja onta itu nyebelin banget."


"Tapi mas Elang malah sepuluh kali lebih menyebalkan dari kak Bian di awal-awal pernikahan kami, Ge. Tapi sekarang....dia malah jadi pria paling baik dimataku. Kak Bian itu sebenarnya sangat baik dan setia. Aku tidak pernah melihatnya jalan dengan banyak wanita. Sekali tembak...langsung menikah."


"Tembak apanya sih? dia tiba-tiba main lamar saja tanpa tanya akunya mau apa nggak."


"Ya ampun Geeeee!! Pria kalau sudah langsung melamar artinya dia sudah benar-benar suka. Lagian kak Bian tuh tampan lho Ge." Mitha benar. Meski tak setampan Elang, tapi postur tubuh Bian ideal dan terlihat muda dari usianya. Dia juga sangat rajin dan bertanggung jawab. Aahh...kenapa Gea malah memikirkannya?


"Nah...selesai!!" Gea terkejut saat Mitha berkata begitu. Rupanya dia terlalu banyak melamun tadi hingga tak sadar jika Mitha sudah selesai melakukan tugasnya. Berlahan ditatapnya pantulan wajahnya di cermin besar.


"Cantik." Batinnya tak percaya. Rambut pendeknya sudah dicepol rapi. Wajahnya juga terlihat amat cantik dengan pulasan lipstik yang entah kenapa membuatnya pangkling.


"Ya ampunn...anak ibu cantik banget." pekik bu Asri ketika memasuki kamar putrinya. Binar bahagia lagi-lagi terpancar di wajahnya.


"Mari keluar. Mereka sudah datang." katanya lirih. Mitha yang barusan merapikan riasannya segera berdiri, ikut menggandeng tangan Gea yang kesulitan berjalan dengan baju panjangnya. Rasanya aneh pakai pakaian perempuan begini meski sudah dimodifikasi.


"Cantiknya kakak iparkuuuu." ujar Zahra yang berdiri lebih dulu menyambut sahabatnya itu dan berjalan bersama ke kursi yang sudah disiapkan untuknya dan Bian. Sedang Bian.....pria itu tampak tertegun menatap Gea yang berjalan pelan mendekatinya. Beberapa kali dia mengedipkan matanya terkesima.

__ADS_1


__ADS_2