Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Minum


__ADS_3

Hujan sangat deras menguyur Jakarta sore itu. Jam pulang kantor sudah berlaku sejak beberapa waktu lalu. Tinggal beberapa staf kantor yang masih berkeliaran di lobi menunggu hujan reda. Kebanyakan sudah pulang karena sudah dijemput ataupun nekat berkendara menembus derasnya hujan. Beberapa yang biasanya naik angkot malah patungan membayar taksi online agar bisa pulang lebih cepat jika searah. Rasanya percuma menunggu hujan reda karena mendung yang nampak putih menandakan sang hujan akan lebih lama menyapa bumi. Diruangan CEO, Elang tengah berdiri didepan kaca jendela yang langsung menghadap ke jalan raya. Dia memang salah satu orang yang masih bertahan di kantor menunggu hujan reda.


"Mau dibikinkan kopi mas?" tawar Mitha seteiah selesai membereskan mejanya. Elang berbalik dan mendekati sofa.


"Hmmm...nanti saja dirumah." Minum kopi hangat ditengah hujan adalah favoritnya, tapi dia tak ingin menyusahkan Mitha untuk datang ke pantry membuatnya karena dia tau pasti jika para OB pasti sudah pulang. Kalaupun masih tersisa, rasanya tak tega juga menyuruh-nyuruh mereka lagi saat sudah waktunya pulang.


"Tapikan pulangnya masih lama mas? lagian biar nggak dingin-dingin amat." Mitha mengambil tempat duduk disamping suaminya dan menyilangkan kakinya. Seketika Elang disuguhi betis mulus juga sebagian paha Mitha yang terlihat seputih pualam saat roknya tersingkap. Lamat pria tampan itu menelan ludahnya. Entah sengaja atau tidak, Mitha sudah memancingnya berpikir ke zona dewasa walau wanita itu terlihat menatap ke jendela seperti yang dilakukannya tadi.


"Atau mau dibuatkan susu?" tawar Mitha yang lagi-lagi membuat Elang kesulitan menelan ludahnya. Saat Mitha menawarkan suatu hal secara gamblang dia malah menagkap hal lain dari tawaran istrinya. Elang meruntuk dalam hati kala otaknya berubah mesum disaat-saat seperti sekarang. Padahal dia sudah berusaha tidak memikirkan apapun yang menjurus pada kemesuman walau kata orang pengantin baru seperti mereka normalnya memang terus-menerus terpancang kesana, ketagihan malah. Tapi Elang benar-benar masih kecewa pada Mitha karena insiden malam pertama mereka. Tapi sungguh, nafsu berkuasa diatas segalanya.


Mitha hampir berjingkat kaget saat Elang mengelus pahanya lembut. Spontan dia mengangkat kepalanya menatap sang suami yang juga menatapnya dalam. Jantung Mitha bertalu. Wanita muda itu memilih menundukkan kepalanya, tetap melihat tangan Elang yang sudah bergerak nakal menyingkap roknya ke atas dan semakin meremas pahanya. Nafas Mitha tertahan. Dia hanya sanggup memejamkan matanya, menahan deru nafas yang memberat di rongga dadanya. Belum lagi Elang yang sudah mendekati pelipisnya dan mengecupnya lembut.


"Aku ingin susu yang kau tawarkan tadi." bisik Elang yang terdengar sangat dekat ditelinganya. Mitha sontak membuka mata, menyingkirkan tangan Elang yang masih setia mengelus pahanya lalu merapikan roknya.

__ADS_1


"Kau..mau kemana?" tanya Elang dengan suara yang terdengar makin berat dan sensual.


"Ehmm...membikinkan susu untukmu." sahutnya. Tapi tangan kekar Elang sudah lebih dulu menarik lengan Mitha keras hingga terjatuh ke pangkuan sang suami. Mitha bergerak salah tingkah saat mata setajam na pemiliknya itu memindainya makin dekat hingga tak berjarak. Menutup mata adalah pilihan akhir yang dia punya hingga bibir Elang menempel di bibirnya, ********** lembut.


"Sayang, balas!" desisnya tepat diatas bibir Mitha hingga membuat pemiliknya membalas ciuman itu sebisanya. Elang tersenyum smirk saat merasakan betapa kakunya ciuman sang istri. Apalagi tingkah groginya saat berada dalam jarak intens dengannya. Elang sedikit terkejut saat Mitha mendorong tubuhnya hingga berjarak dengan tubuhnya. Rupanya istri cantiknya itu kehabisan nafas karena ciuman panjang mereka.


"Hmm...aku..aku buatkan susunya dulu ya mas?"


"Tidak usah, aku tinggal minum saja." balas elang amat tenang.


"Sayang diam disini!!" perintah Elang seraya mendudukkan istrinya di ujung sofa panjang. Dia dengan cekatan langsung berbaring dipangkuan istrinya.


"Mas!!" desis Mitha saat tangan kekar itu mulai mempreteli kancing kemeja atasnya hingga sesuatu yang Elang harapkan muncul sempurna. Entah bagaimana awalnya, tapi sekarang pria itu malah sudah memegang dua gundukan itu dan menikmatinya bergantian.

__ADS_1


"Eehmmm....masss..." desah Mitha. Berkali-kali mencoba menahan, tapi wanita muda itu tak kuat pada akhirnya. Erangan demi erangan lolos dari bibirnya karena gerakan sensual lidah dan jemari Elang dikedua dadanya secara bergantian. Mitha terbakar. Bagaimanapun dia wanita normal yang menginginkan sentuhan dari suaminya. Sekali bercinta saja sudah cukup membuatnya mengingat momet indah itu di kepalanya.


"A...ayo pu..pulang mas." katanya terbata disela amukan hasrat yang sulit diredam. Sungguh dia takut tak bisa lagi menahannya.


"Hmmmm....." mendengar permintaan sang istri membuat Elang menyudahi aktivitas panasnya. Tangan besarnya mengelus bercak kemerahan diseputar dada Mitha hasil dari mahakaryanya lalu membantu istrinya merapikan pakainnya.


"Cepat masuk kamar saat sampai dirumah!"


"Ehmmm....."


"Sayang, kalau suami ngomong dijawab dong." protes Elang terdengar kesal.


"Iya mas. Lagian mau apa sih?"

__ADS_1


"Minum susu seperti tadi." bisik Elang membuat bulu kuduk Mitha meremang.


__ADS_2