
"Istri??" Elang terkekeh karenanya. Dia tetap fokus berbenah seolah tak menanggapi perkataan Mitha barusan.
"Ayo yang." ajak Elang pada Sindy yang tentu saja terlihat bahagia dengan senyum kemenangannya.
"Kak .." tak ada sahutan baik dari Sindy ataupun Elang. Sepertinya kedua orang itu sudah menganggap Mitha makhluk astral yang tak kasat mata.
"Kak...pulang jam berapa?" tanya Mitha lemah. Dia tak berharap Elang mendengar atau menjawabnya. Tapi tiba-tiba pria itu berhenti melangkah.
"Terserah aku." balasnya pendek tanpa mau menoleh.
"Tapi aku ingin bicara dengan kakak...."
"Aku sibuk."
"Tapi ini tentang wisudaku besok."
"Jangan manja. Kau bisa berangkat atau pulang dengan bang Udin."
"Tapi kak....." Elang melanjutkan langkahnya diiringi sosok sindy yang lagi-lagi memasang wajah culas padanya. Menyeringai licik lalu menggandeng lengan Elang pergi.
Deru mobil memecah keheningan, meninggalkan Mitha yang luruh ke lantai. Hampir satu jam dia terduduk di lantai yang dingin tanpa memikirkan apapun, jiwanya kosong. Dia tidak mungkin menelepon mama papanya dan meminta keduanya pulang hanya untuk menghadiri wisudanya. Menghancurkan terapi dan serangkaian pengobatan sang mama yang sudah berjalan baik. Tidak...Mitha tak seegois itu. Lalu pada siapa dia akan meminta? Sedang Elang, kakak sekaligus suaminya sudah terlanjur marah dan tidak peduli padanya.
Tertatih, Mitha meninggalkan ruang kerja Elang. Membawa kembali makanan dalam nampan ke meja makan.
"Non..." sapa mbak Sri hampir membuat Mitha yang melamun berjingkat kaget.
__ADS_1
"Iya mbak.."
"Apa tuan Elang tidak jadi makan malam dengan mbak Sindy?" Mitha menggeleng tak bersemangat.
"Kakak pergi ke rumah kak Sindy."
"Ya maklum non...lagi jatuh cinta." balas mbak Sri sambil terkekeh. Mitha hanya menundukkan wajahnya, menurunkan nampan itu ke meja.
"Non...enggg...belum makan? mbak Sri terlihat sedikit berpikir mengingat namanya, Mitha memang belum memperkenalkan diri secara langsung pada wanita akhir empat puluhan itu.
"Nama saya Mitha mbak. Saya masih kenyang."
"Tapi non...kata tuan Elang non Mitha belum makan sejak siang. Lebih baik non Mitha makan dulu. Lagian kasihan makananan ini non." Tiba-tiba Mitha teringat pesan Maria agar tak pernah membuang-buang makanan. Pelan dia menarik kursi dan duduk diatasnya.
"Mbak Sri sudah makan?"
"Kalau begitu temani saya makan." ujar Mitha sambil menepuk kursi disampingnya. Mbak Sri tersenyum rikuh.
"Saya..saya makan nanti saja dibelakang non." tentu saja Sri menolak. Dia cukup tau posisinya dan tata krama seorang pembantu di rumah majikannya.
"Udah nggak papa kok mbak..duduk saja. Lagian kakak juga nggak mungkin cepat pulang. Kita habiskan berdua. Adilkan?" Sri terpaksa menurut. Kikuk dia menarik kursi disamping Mitha dan duduk ragu disana. Ini hari pertamanya bekerja, tapi langsung makan berdua dengan majikan.
"Mbak sri ada hubungan apa dengan bik Ijah?" tanya Mitha basa-basi karena tak mau terlalu sepi.
"Saya adiknya mbak Ijah non. Sementara ini mbak Ijah belum bisa kembali karena sakit suaminya makin parah. Sedangkan bik Mun...mungkin sudah dilarang kembali oleh anaknya. Sudah tua non." Mitha hanya mendengarkan sambil sesekali menatap mbak Sri.
__ADS_1
"Hmmm..ya sudah, saya ke atas dulu ya mbak. Maaf nggak bantu mbak Sri bersih-bersih. Saya lagi capek banget. Mbak Sri udah tau kamarnyakan?" Memang, tidak biasanya Mitha tak membantu merapikan bekas makan malam. Jadi anak orang kaya tak membuatnya serta merta jadi pemalas dan selalu mengandalkan pembantu saja.
"Sudah..sudah non. Kamarnya bagus banget. Non Mitha istirahat saja. Ini tugas saya sudah." balas mbak Sri ramah.
"Semoga betah kerja disini ya mbak. Selamat malam."
"Insyaallah saya betah non. Selamat malam juga." Mitha lalu menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah tak bersemangat. Tubuh lelah bukan jaminan dia akan bisa tidur cepat jika pikira berjalan kemana-mana. Jika mahasiswa lain akan sibuk mempersiapkan hari wisuda mereka dan bergembira, maka dialah yang sebaliknya.
Hampir tengah malam. Tak ada tanda-tanda Elang pulang. Mitha terus saja mondar-mandir di kamarnya, tak bisa tidur. Perasaan resah, gelisah dan gundah bercampur aduk menjadi satu. Kemana suaminya itu? apa mereka benar-benar kerumah Sindy untuk bekerja? atau ketempat lain untuk menghabiskan malam bersama? larut dalam berbagai syakh wasangka, Mitha tertidur di sofa panjang di kamarnya.
Kicauan burung yang bertengger diantara ranting pohon mangga bersahutan tanpa henti kala Mitha berlahan membuka mata. Sebentar dia mengerjabkan mata, melirik jam dinding lalu dudul dan meregangkan tubuhnya. Entah jam berapa dia tertidur semalam.
Saat keluar dari kamarnya selepas mandi pagi dan menggendong tas hitamnya, Mitha berpapasan dengan Elang yang juga akan turun ke bawah. Tak ada pertanyaan atau sapaan dari pria itu padanya. Membuat Mitha kembali dirundung kecewa. Jika saat kecil dulu Elang tak peduli padanya, dia masih terima. Tapi sekarang? mereka sudah suami istri bukan?
"Kak ..aku ingin bicara sebentar saja." pinta Mitha sebelum lelakinya benar-benar menuruni tangga.
" Bicaralah." kata Elang terdengar enggan.
"Bisakah kakak datang di acara wisudaku nanti siang?" Elang berbalik dan menatapnya tajam, membuat Mitha terpekur karenannya.
"Kau tau...semua yang ingin bertemu aku atau minta bantuanku harus membuat janji terlebih dahulu. Aku tidak suka sesuatu yang mendadak. Dan tentang permintaanmu itu, simpulkan sendiri jawabanku." lagi-lagi ketus dan dingin.
"Tapi aku ini istrimu kak. Setidaknya kau bisa menggantikan papa mama saat mereka tak ada." nada bicara Mitha naik satu oktaf karenanya. Apa tadi? membuat janji? aahh...keterlaluan sekali!
"Istri? lagi-lagi kau mengucapkan kalimat itu tanpa tanggung jawab." senyum sinis menghiasi wajah tampan Elang.
__ADS_1
"Apa maksud kakak??!!"
"Kau menyebut dirimu istri tapi tak pernah bersikap sebagai seorang istri Paramitha. Pikirkan itu baik-baik." tegasnya sambil berlalu.