Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Kedua kalinya


__ADS_3

"Brengsek!!" umpat Elang geram. Namun Andra segera meneruskan kalimatnya.


"Tapi Mitha adalah yang paling beruntung karena bisa selamat dari cengkeraman papa saya." Elang meraup wajah tampannya kasar. Hampir saja dia salah menduga untuk kedua kalinya. Berlahan dia mengambil tempat duduk di sisi Andra yang terlihat tertekan dengan Gea yang masih setia merangkul pundaknya. Terlihat sekali persahabatan yang terjalin erat diantara keduanya.


Mitha datang dengan segelas minuman hangat untuk empat orang. Rasanya mereka semua membutuhkan itu saat ini, terutama Andra. Jiwa dan raga pemuda itu terlihat lemah setelah perjalanan panjang dari Aussy yang terkesan tergesa setelah mendengar kabar Zahra.


"Minumlah." Kata Elang seraya menyodorkan gelasnya, dia juga membagikan kotak berisi makanan yang dibawa istrinya meski tau Andra tak begitu tertarik untuk makan.


"Apa itu artinya selama ini kalian menjalin hubungan serius?" Gea sedikit menekan kalimatnya. Dia tak tau harus apa. Sebagai seorang sahabat tentu dia merasa dibohongi karena dua sahabatnya berhubungan diluar pengetahuannya. Andra mengangguk lemah.


"Setelah Mitha menikahi tuan Elang aku sudah bertekat membuka hati dan melupakan masa lalu Ge. Zahralah yang selama ini mensuport aku hingga kami saling jatuh cinta." ungkap Andra dengan mata menerawang. Bayangan Zahra bermain di pelupuk matanya. Gadis itu memang tak secantik Mitha, tapi jiwa keibuan dan kemandiriannya membuat Andra terpesona.


"Lalu bagaimana kejadian itu...maksudku ayahmu...." Andra terdiam cukup lama hingga Elang mengeluarkan suaranya.


"Tak apa jika kau tak ingin bercerita tuan Andra. Kami cukup tau beban moral yang kau tanggung."

__ADS_1


"Kalian harus tau. Zahra...aku yang membawanya ke rumah untuk mengalkannya pada mama karena aku memang serius ingin menikahinya setelah lulus nanti. Aku sudah memilih waktu yang tepat agar papa tak tau kami berkunjung. Naasnya papa ada dirumah siang itu dan jadilah aku memperkenalkan mereka. Papa...dia menjebak Zahra sehari setelah aku kembali ke Aussy." kenangnya dengan mata sedikit berair. Sebagai sahabatpun dia tetap merasa bersalah, apalagi seorang pacar.


"Zahra tak pernah bilang padamu?" lagi dan lagi Andra menggeleng karena Zahra hanya berusaha menghindar dan menjaga jarak dengannya.


"Aku ingin papaku mendapat ganjaran dari semua perbuatannya." desisnya penuh dendam.


"Lalu bayi Zahra......"


"Ge, aku dan mas Elang sudah berniat mengadopsinya." sergah Mitha cepat. Dia tak ingin Andra terlalu banyak bebas yang ditimbulkan papanya dan menangung dosa dari kesalahan yang tidak dia perbuat.


"Apa...kau tak salah?" Mitha seperti berat mengucapkannya.


"Tidak."


"Tapi islam melarang sesorang menikahi mantan istri ayahnya termasuk wanita yang sudah bersetubuh dengan ayah kandungnya. Mereka haram dinikahi Ndra." Walau tak begitu kenal ilmu agama secara detail , setidaknya Mitha tau sedikit soal hukum pernikahan.

__ADS_1


"Andra boleh menikahi Zahra kerena tuan Permana bukan ayah kandungnya sayang." Semua yang ada disana saling tatap.


"Anda tau?" Elang tersenyum sekilas.


"Sekretaris saya sudah menyelidiki masa lalu ayah anda. Dan tentang permintaan anda untuk menjebloskan tuan Permana ke penjara...saya sarankan anda memikirkannya ulang. Nyonya Permana, ibu anda akan tertekan karenanya.'' Elang bukannya tak setuju ide penjeblosan Permana ke penjara. Tapi ibu kandung Andra yang kesehatannya sedikit bermasalah akhir-akhir ini akan sangat terpukul. Bagaimanapun dia amat mempercayai tampilan alim dan baik hati sang suami hingga rela menyerahkan pengelolaan perusahaan miliknya. Nama anak laki-lakinya dari pernikahan terdahulu juga menyematkan nama suami barunya meski Andra adalah anak bawaannya.


"Saya tetap ingin pria tua itu dipenjara. Soal mama....biar saya yang akan bicara padanya. Zahra atau siapapun yang sudah disakiti ayah saya harus mendapatkan keadilan. Papa bukan hanya menyakiti mereka, tapi juga membuat mereka depresi. Dan saya yakin Zahra juga mungkin akan mengalaminya." Semua terhenyak. Elang yang awas segera menangkap sinyal berbeda dari istrinya yang terlihat tremor pada bagian tangannya. Pria itu segera mengenggam jemari istrinya, memberinya ketenangan.


"Honey ..everythigs is oke." bisiknya lirih. Andra hanya tersenyum kecut melihat kemesraan mantan pacar sekaligus sahabatnya itu. Namun yang terbersit di pikirannya sekarang adalah keadaan Zahra.


Dokter keluar dari ruang periksa membuat mereka semua beranjak dari tempat duduknya. Elang dan yang lain menahan diri agar tak segera mendekat untuk memberi ruang pada Andra untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan dari dokter.


"Bagaimana istri saya dok?" Mereka semua saling pandang. Andra bahkan sudah mengakui jika Zahra adalah istrinya agar mempermudah semuanya. Semua tau jika gadis malang itu yatim piatu yang hidup sendirian di kostnya. Andralah yang sekarang mengambil tanggung jawab untuk merawatnya. Benar-benar pria yang penuh keihlasan.


"Nyonya Zahra sudah melewati masa kritisnya. Saya harap jangan membuatnya stres karena itu akan berpengaruh buruk pada janin yang dikandungnya." Andra terdiam. Tangannya terkepal kuat. Dia tau siapa penyebab semuanya. Dokter sagera berlalu setelah memberikan beberapa arahan yang sama sekali tak mampir ke otak ruwet Andra.

__ADS_1


"Tuan Elang...tolong bantu saya menjebloskan pria itu ke penjara, maka selamanya saya akan berhutang budi pada anda." pintanya penuh harap untuk kedua kalinya.


__ADS_2