Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Berkaca


__ADS_3

"Ge....mari menikah." Langkah Gea kembali terhenti mendengar suara berat Bian. Entah kenapa jantungnya bertalu. Gea menatap lekat wajah tampan Bian tanpa suara. Wajah serius tanpa kebohongan disana. Sebelum Gea mengeluarkan suara, Bian sudah mendekati ibunya dan bersimpuh dikaki wanita paruh baya itu.


"Bu, ijinkan saya menikahi Gea." Tentu saja bu Asri jadi terharu kerenanya. Ibu guru TK itu mengusap kepala Bian yang duduk di lantai dan menengadahakan kepalanya. Mata bu Asri berkaca. Akhirnya ada juga yang datang meminang putrinya.


"Kalau itu...itu terserah Gea saja nak, ibu hanya mangikuti kemauannya." balas bu Asri dengan suara bergetar. Padahal dalam hati bu Asri sangat berharap jika Gea menerima Bian yang mapan, sopan dan menyayangi orang tua seperti dirinya.


"Gea itu nurut sama keputusan ibu. Saya sudah berulang kali menyuruhnya berterus terang pada ibu tentang hubungan kami, tapi dianya tidak mau."


"Jadi selama ini kalian pacaran?" lirih bu Asri menyelidik. Bian buru-buru menganggukkan kepalanya lali kembali memasng wajag melasnya. Entah dari mana dia belajar akting dan merubah ekspresi sedemikian rupa.


"Bu, itu semua tidak benar! Kami tak pernah..."


"Sampai kapan kau akan terus berbohong pada ibu Argea?? Kapan kita bisa menikah kalau kau begini terus?" sela Bian menghentikan protes Gea yang masih membelalakkan matanya tak mengira Bian akan mengatakan hal aneh itu pada ibunya yang terlihat amat bahagia malam itu. Apa Gea sanggup melihat cahaya bahagia yang sudah lama menghilang itu meredup lalu sirna?

__ADS_1


"Aku...."


"Kalau begitu menikahlah secepatnya!" putus bu Asri setelahnya. Gea melonjak kaget kontra dengan Bian yang melonjak bahagia. Entah itu real atau cuma setingan.


"Tapi maaf nak Bian, ibu tidak punya banyak simpanan untuk menikahkan kalian seperti layaknya orang-orang. Bagaimana jika kalian akad nikah sederhana lalu tasyukuran saja?" Bian menatap dalam calon ibu mertuanya. Dari beberapa kali pertemuan dengan wanita sederhana itu dia tau jika bu Asri memang bukan orang berada. Jadi kepala sekolah TK pelangi bunda itu baginya hanya pengabdian. Gaji tak seberapa dan mesti mengambil kerja sambilan di luar sana untuk membiayai kuliah Gea hingga lulus. Sekarang, setelah Gea bisa bekerjalah bu Asri berhenti dari pekerjaan sambilannya sebagai pengurus anak. Jadi wajar saja jika dia tak punya cukup banyak tabungan untuk menikahkan Gea. Bian mengelus punggung tangannya lembut.


"Ibu cukup mengijinkan dan menyetujui saja. Soal biaya nikah dan lain-lain biar Bian yang pikirkan bu. Setelah ini ibu juga harus ikut pulang ke rumah saya." Gea hanya menatap interaksi Bian yang amat manis pada ibunya yang tak henti tersenyum bahagia. Kenapa Bian jadi semanis itu sekarang?


"Kami akan menikah minggu depan, bu." Gea kembali kaget mendengar perkataan Bian.


"Pak Bian!! Kenapa bapak mengambil keputusan sendiri sih?" sentak Gea dikuasai amarah. Tapi Bian tak menanggapinya dan kembali fokus pada ibunya.


"Ge...yang sopan nak." ingat bu Asri pada putrinya. Gea menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Besok saya akan datang bersama kakak dan adik saya untuk acara lamaran resmi bu. Maaf, saya tidak punya orang tua atau kerabat lainnya karena kami yatim piatu. Keluarga kami banyak yang meninggal saat tsunami Aceh bu." Bu Asri mengangguk, dia cukup mengerti keadaan Bian. Tak masalah jika tak ada orang tua yang datang. Yang penting Bian serius dan menyayangi putrinya. Itu saja sudah cukup untuk kabahagiaan seorang ibu sederhana seperti dirinya. Cukup lama mereka bercakap dan menyisakan Gea sebagai pemirsa setia yang lebih banyak diam dan mendengarkan hingga Bian berpamitan pulang. Gea segera berdiri mengikuti Bian keluar. Hal yang tak biasa. Tapi bu Asri memilih masuk ke kamarnya. Anak dan calon menantunya itu perlu ruang untuk bicara.


"Pak Bian! Kenapa bapak melakukan semua ini? ibu saya bisa kecewa. Jangan libatkan ibu jika pak Bian ingin balas dendam dengan saya." Kata Gea setelah jarak mereka cukup dekat. Bian membalikkan tubuhnya, menyeringai.


"Aku tak ada dendan denganmu. Aku juga harus melibatkan ibu disini. Apa kau paham?"


"Apa sebenarnya yang pak Bian inginkan dari saya? dengan mengatakan banyak kebohongan bapak pikir ibu tak akan kecewa jika tau kenyataanya.'' Gea terlihat amat kesal karenanya. Kegalauan yang sejak tadi menguasai hatinya butuh dikeluarkan. Dan sekaranglah waktunya.


"Apa kau tuli Argea? Yang kuinginkan adalah menikah denganmu. Bukan mengajak pacaran seperti pria itu!!" sergah Bian dengan nada rendahnya.


"Tapi saya tidak mau pak!!" balas Gea sengit. Bian tersenyum smirk.


"Itu terserah kamu. Jika pernikahan ini gagal artinya bukan aku yang mengecewakan ibumu, tapi kau sendiri orangnya Ge!!"

__ADS_1


__ADS_2