Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Mahar


__ADS_3

"Selamat pagi bos...nyonya bos." sapa suara yang amat Mitha kenal ramah. Meski dari arah belakang, tanpa menolehpun dia tau siapa orangnya.


"Tau aja kita lagi sarapan. Sini...gabung!" kata Mitha riang sambil menarik kursi di sebelahnya, namun bergegas ditahan oleh Gea yang lebih dulu memegangnya.


''Ya taulah. Orang dari tadi aku disana!" Gea menunjuk meja kasir hingga Mitha melongo tak percaya. Meja itu memang satu-satunya yang tak gerjangkau oleh penglihatannya tadi karena terlalu asyik menikmati suasana dan menu sarapannya.


"Kau bekerja disini juga? Ahh...atau kalian joinan begitu?" Gea yang gemas ingin sekali mencubit pipi sahabatnya itu. Tapi hal itu urung dia lakukan. Bisa hancur resto Bian jika dia melakukannya. Cakar sang Elang tak akan melepaskan dirinya walau dikolong langit manapun.


"Aku butuh dia." Potong Bian cepat. Elang yang sudah menyelesaikan sarapannya beralih menyesap kopinya. Tak ada ekspresi berarti dari wajahnya. Kontras dengan Mitha yang malah mengerutkan keningnya.


"Butuh? Kau menggajinya secara layak kan kak?" Mitha hingga harus mencondongkan wajahnya pada Bian karena rasa ingin tau yang amat besar dalam dirinya. Bagaimanapun Gea juga sahabatnya. Mana ingin dia melihatnya hanya jadi pembantunya Bian yang mungkin memaksannya bekerja padanya dengan mengandalkan kekuasaannya di Abimana grup. Selama ini hubungan keduanya juga tak bisa dikatakan baik. Selalu saja bertengkar jika bertemu.


"Ohh..tentu saja nyonya bos. Kau jangan khawatir." Bian juga tak kalah serius dari Mitha. Mereka saling mencondongkan tubuh hingga mengikis jarak. Mereka terlihat amat dekat karena hanya terhalang meja kecil saja. Elang yang kesal segera meraih pundak istrinya dan memundurkannya di posisi normal.


"Sayang kau tak perlu bersikap over pada mereka. Toh mereka berdua sudah dewasa." nasihatnya amat sabar. Takut menyinggung bumil dengan hormon naik turunnya.


"Tapi mas, Gea bisa kecapekan karena kak Bian menyuruhnya bekerja disini juga. Kerjaan di kantor kita juga amat padat bukan? Lagian gaji mereka juga diatas standart tanpa harus bekerja lagi diluaran." gerutu Mitha terdengar penuh emosi.

__ADS_1


"Aku yang mau kok Mith ehh...bu...''


"Sudah jangan ba..bu. Panggil Mitha saja kayak biasanya. Ini bukan di kantor. Aku juga sudah dipecat sama mas Elang. Bukan atasanmu lagi!" sembur Mitha masih dengan rona kesalnya. Gea hanya nyengir kuda. Sudah biasa disemprot Mitha sejak dulu membuatnya sama sekali tak kaget.


"Ehmm...maksudku aku yang mau kerja disini. Bukan dipaksa pak Bian Mith. Lagian aku nggak perlu dibayar karena seluruh laba resto ini untuk membayar tanah tempat sekolah kita dulu." Seketika ingatan Mitha melayang pada Bu Ning, ibunda Gea yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak swasta yang juga berkembang membuka playgrup disana. Banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan anak-anaknya disana karena sekolah itu juga berbasis agama. Memang, beberapa kali pemilik tanah selalu mengancam akan meminta hak mereka padahal sudah jelas jika sekolah itu. berdiri diatas tanah wakaf. Bu Ning selaku kepala sekolah tentu saja punya beban berat, juga Gea yang putrinya. Sekolah itu juga sumber mata pencaharian ibunya serta guru-guru swasta yang menggantungkan hidup disana.


"Mereka bertingkah lagi?"


"Kebiasaan lama Mith. Sekarang malah minta ganti rugi yang tak masuk akal." Seketika pandangan Mitha beralih pada Elang.


"Memangnya berapa yang mereka minta?" akhirnya....si tampan itu buka suara. Gea dan Bian kompak menjawab dengan nominal yang sama.


"Bi, apa sudah pernah dilakukan upaya hukum pada tanah itu? jika cerita Mitha benar, ada kemungkinan mereka oknum yang tak bertanggung jawab. Kita bisa mendapatkan tanah itu secara cuma-cuma dan mengalokasikan dana perusahaan untuk pembangunan sekolah." Bian terdiam, mencoba mencerna perkataan bosnya. Salahnya memang yang tak pernah cerita pada Elang. Dia terlalu fokus membeli lahan itu saat Gea secara tak sengaja mengajaknya mampir ke sekolah itu. Dia lupa Mitha juga pernah mengajar disana. Artinya ada ikatan emosional antara istri bosnya itu dengan sekolah bu Ning.


"Tapi bos...mereka punya backing kuat."


"Cari tau siapa yang bermain dibelakang mereka lalu siapkan upaya hukum untuk pembebasan lahan itu. Ambil biayanya dari kas perusahaan kita." Entah kekaguman macam apa yang terihat di wajah Mitha. Kenapa dia jadi menatap calon ayah bayinya dengan penuh damba. Pria itu tak hanya tampan diluar, tapi juga di dalam. Tingkat kepeduliannya pada sesama, jiwa sosial dan ketegasan hakiki. Benar-benar mengesankan.

__ADS_1


"Itu tidak perlu kak...tanah itu sudah hak sekolah sekarang." Semua mata beralih pada sepasang suami istri yang mungkin baru datang karena masih dalam posisi berdiri di belakang Elang, tapi mengingat perkataannya..keduanya pasti sudah agak lama menyimak pembicaraan mereka.


"Andra....Zahra...!!" pekik Gea yang langsung bediri memeluk sahabatnya. Saat Mitha ingin melakukan hal yang sama, tangan kekar Elang lagi-lagi menahannya.


"Tak usah dekat-dekat dengan mantanmu. Aku cemburu." bisik si tampan tegas. Pipi Mitha bersemu merah kerenanya.


"Mari silahkan duduk." Bian sebagai pemilik resto tentu berinisiatif berdiri, mencarikan kursi dan meja lain lalu menyusunnya seolah mereka sedang dalam acara makan bersama. Andra mengambil duduknya berhadapan dengan Elang. Wajah tiga pria itu terlihat serius. Berbeda dengan para wanita yang heboh sendiri di samping mereka.


"Papakulah orangnya. Permana yang bermain dengan tanah itu karena dia ingin membuka lahan itu untuk kantor kami. Tapi begitu Zahra cerita, saya sudah membebaskan tanah itu kak. Sekarang bu Ning akan bebas mengajar anak-anak disana." jelas Andra. Elang bernafas lega karenanya.


"Syukurkah Ndra. Tadinya aku berpikir melakukan upaya hukum. Tapi demi kemajuan sekolah, perusahaan kami akan mendanai pembangunan infrastrukturnya." tegas Elang kemudian.


"Jangan hanya Abimana...perusahaan saya juga akan ikut ambil bagian." kata Andra meyakinkan.


"Resto ini juga." timpal Bian. Tapi Elang langsung melengos karenanya.


"Kau bilang akan mencarikan mahar bukan? Sekarang maharnya sudah dapat. Artinya kau tak harus bersusah payah mengumpulkan yangnya. Cukup lamar dia dan ajak menikah. Apa kau berani?"

__ADS_1


__ADS_2