Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Kesiangan


__ADS_3

Mentari pagi menyapa dalam keremangan kala sepasang anak manusia masih saling berpelukan hangat dibawah selimut tebal. Lihatlah betapa nyamannya posisi tidur keduanya. Mitha begitu lelap dalam dekapan suami tampannya. Begitu pula Elang yang memeluk istrinya dengan sepenuh hati. Erat, seakan tak ingin lepas.


Elang yang pertama kali terjaga tersenyum lebar melihat Mitha yang tidur tenang dalam dekapannya.


'cantik.' batinnya sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah ayu istrinya dan menyelipkannya kebelakang telinga.


"Mitha..bangun!" serunya mengguncang lembut pundak wanitanya. Tentu saja dia tidak bisa leluasa bergerak karena Mitha menjadikan lengannya sebagai bantalan.


"Ooaaahmm...oh kakak, maaf. Pasti lenganmu kebas karenaku." Segera Mitha menyingkir dari tubuh Elang dengan perasaan tak enak hati. Masih dengan separuh nyawa yang terkumpul, gadis itu berteriak panik saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam.


"Aduhh...kenapa aku kesiangan? aku belum sempat mencuci, masak, bersih-bersih. Oh ya Tuhan...aku harus bagaimana?" pekiknya panik sambil menghambur ke kamar mandi. Tentu saja dia panik. Dia harus datang ke kampus jam 8 nanti. Padahal perjalanannya saja butuh setengah jam lebih. Entah berapa kali gerutuan keluar dari bibir mungil Mitha. Elang hampir saja tertawa keras saat istrinya itu hampir jatuh karena tergesa.


"Kak, lain kali bangunkan aku lebih pagi. Semua ini gara-gara kakak!" marah Mitha dengan wajah merengut kesal.

__ADS_1


"Kok aku?" Elang yang masih enak-enakan ditempat tidur bertanya tak mengerti.


"Tentu saja salah kakak. Suruh siapa peluk-peluk? bikin aku nyaman dan....." Seketika Mitha menutup mulutnya yang keceplosan bicara. Tapi sayangnya, Elang sudah terlanjur mengenalnya.


"Nyaman ya? nyaman aja apa nyaman banget?"


"Kakak nyebelin!!" dan gadis cantik itu berlari keluar menuju lantai dasar. Berdebat dengan Elang sama saja cari penyakit. Bukannya dapat menang, yang ada dia tambah emosi dan kerjaan nggak selesai-selesai.


Manik coklat terang itu membeliak kala ada dua orang yang membersihkan rumah besar mereka. Tak hanya itu, ruangan juga jadi rapi dan bersih.


"Itu...mereka??" tunjuk Mitha pada dua orang dilantai bawah.


"Mereka juru bersih-bersih yang kusewa dari agen langganan mama. Dua hari sekali mereka akan datang untuk bersih-bersih."

__ADS_1


"Tapi aku bisa sendiri kak." protes Mitha. Agak canggung juga kalau ada orang lain dirumah mereka.


"Hemat tenagamu, tugasmu hanya memasak dan melayaniku saja." ujar Elang lalu kembali masuk ke kamarnya.


"Owh ya..untuk pagi ini kau tak usah masak. Kita delivery order saja. Persiapkan dirimu dengan baik." lanjutnya sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu. Lagi, perasaan Mitha mengangat. Elang mungkin tak banyak berkata, tapi banyak bertindak. Dia selalu tau apa yang Mitha butuhkan. Pria yang sangat peka. Bolehkah Mitha berharap lebih padanya?


Tak ingin banyak berpikir, dia kembali masuk ke kamar. Menyiapkan baju kerja dan peralatan yang dibutuhkan suaminya lalu mengemasi keperluannya. Tangannya yang cekatan juga membersekan tempat tidur hingga kembali rapi.


Selepas sarapan, Mitha yang sudah siap keluar lebih dulu menuju teras rumah besar itu diikuti Elang yang tampil gagah dengan jas warna abu-abunya. Suaminya itu sudah memintanya menunggu agar bisa berangkat bareng nanti.


"Jangan gugup, biasa saja. Mereka cuma dosen, bukan raja iblis atau raja hutan, jadi santailah." nasehatnya saat mobil hitam itu sudah sampai di depan kampus. Tanpa aba-aba, jemari kokohnya mengenggam erat tangan halus Mitha.


"Tetaplah berusaha dan semangat oke?" Mitha yang salah tingkah hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Jantungnya berlomba.

__ADS_1


"Terimakasih kak. Pamit dulu ya..."


__ADS_2