Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Pemilih


__ADS_3

"Permisi pak, tuan Andra ingin bertemu dengan anda." Elang yang sedang membahas proyek kemarin dengan Bian serentak menolehkan kepalanya menatap Gea yang berdiri tegak diambang pintu. Elang memberi isyarat agar Andra diijinkan masuk, hanya Bian yang berdecih kesal ke arah gadis itu. Elang hampir terbahak karenanya.


"Kau jangan terlalu membencinya Bi, ntar jatuh cinta beneran lho." Bian menyeringai kesal.


"Dia bukan tipe saya bos. Wanita kok nggak ada sisi femininnya. Lihat saja gaya pakaiannnya, lebih mirip bodyguard dari pada sekretaris kantor." kritik sang sekretaris senior pedas. Gea memang begitu. Dia tak terbiasa dengan pakaian kantor layaknya sekretaris yang memakai baju dan blazer ketat, rok pendek dan dandanan feminin. Gadis itu stagnan dengan celana hitam dan pakaian rapi walau tak pernah pakai blazer. Simpel memang, tapi terkesan smart dan cekatan. Mungkin hanya Bian yang selalu mengkritik dandanannya. Sedang Elang, dia cenderung menilai cara kerja seseorang saja. Asal tak terlalu terbuka dan masih dalam batas sopan, sang bos muda fine-fine saja.


"Selamat siang kak." sapa Andra yang hari itu terlihat tampan dengan kemeja hitam dan celananya. Lagi dan lagi Bian berdecih. Elang sampai geleng-geleng kepala karena kelakuan sekretarisnya itu.


"Tadi gadis itu, sekarang pemuda ini. Memangnya mereka tak ada koleksi baju lain selain seragam bodyguard?" gerutu Bian kesal. Andra yang mendengarnya hanya tersenyum simpul.


"Silahkan duduk." Bian bergesar kesamping, memberi ruang pada Andra untuk duduk.


"Mitha tak ikut ke kantor hari ini. Dia kurang enak badan." Elang yang menyangkan Andra mencari sesuatu segera memberi penjelasan. Andra mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Saya hanya ingin mengundang kakak di pernikahan saya dan Zahra." ungkapnya lirih. Bian yang mungkin sudah tau maksud kedatangan Andra ke kantor itu hanya menyibukkan diri dengan berkasnya.


"Kalian jadi menikah? Aahh...syukurlah. Kapan?" Elang terlihat amat antusias. Tak heran bukan jika dia merasa lega? Pernikahan Andra dan Zahra tentu saja membuat dia kehilangan satu pesaing walau dari pihak pemuda itu atau istrinya sama-sama menyatakan sudah tak ada apa-apa diantara mereka. Tapi sebagai pria yang sedang dimabuk cinta, dia tentu akan lebih merasa lega jika Andra benar-benar menikah. Artinya, kemungkinan mereka berdua menjalin hubungan akan sangat kecil mengingat Mitha yang amat menyayangi Zahra seperti kakak kandungnya sendiri.


"Lusa di rumah saya. Datanglah jam 10 pagi. Kami hanya akan akad nikah sederhana saja." Pernikahan di akhir pekan memang banyak dipilih karena pertimbangan waktu libur bagi pekerja seperti mereka.


"Baiklah saya rasa begitu saja kak. Sampaikan pada Mitha jika Zahra merindukan dia. Kak Bian, ssya pamit." Tapi Bian memilih menulikan pendengarannya dengan mengabaikan Andra.


"Kau atau Zahra?" pancing Elang hati-hati. Sungguh dia takut menyakiti hatinya sendiri saat mendengar jawaban Andra nantinya. Tapi diseberang meja sana sang tuan muda Renaldi grup tertawa lepas.


"Selamat atas pernikahan kalian." ungkapnya tulus sebelum Andra pergi dari sana. Sesaat lalu pendangannya beralih pada Bian yang bersikap cuek saja pada calon adik iparnya.


"Kenapa tak cerita jika mereka mau menikah?" Bian mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Itu acara mereka bos. Saya hanya kakaknya Zahra. Yang berhak bicara dan mengundang kan pengantinnya." elak Bian yang punya prosentase persetujuan amat kecil pada pernikahan itu. Dia seperti amat berat melepaskan Zahra pada Andra yang anak tiri pemerkosanya. Sebagai seorang kakak, tentu dia masih sakit hati.


"Ya. Tapi setidaknya kau harus peduli dan ikut datang lusa." Bian mengangguk. Setidak setujunya dia pada pernikahan itu, dia cukup sadar jika adiknya tak punya keluarga lain selain dirinya dan Leo. Akan terlihat amat jahat bukan jika dia juga memilih tak datang?


"Saya pasti datang bos." jawabnya pasti.


"Tapi sekarang aku jadi berpikir satu hal Bi."


"Apa?"


"Jodohmu."


"Aku?"

__ADS_1


"Ya, kau! Menurut tradisi Jawa, jika seorang kakak dilangkahi adiknya saat menikah..akan besar kemungkinan dia akan susah mendapatkan jodoh. Takutnya kamu nggak laku." goda Bian dengan tawa lebar.


"Bukan tak laku bos, tapi saya ini pemilih!" tegas Bian meradang.


__ADS_2