Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Salah paham


__ADS_3

"Masih sakit?" tanya Elang penuh perhatian setelah kembali membaluri kaki kanan Mitha. Gadis itu menggeleng. Kakinya memang sudah baikan. Sudah bisa berjalan normal meski belum bisa pakai sepatu hak tinggi.


"Sudah, mas Elang pergi ke kantor saja. Kemarinkan udah nggak masuk. Kasihan kak Bian dan....ayangmu itu." entah kenapa Mitha jadi malas menyebut nama ulat bulu itu. Ingat kejadian kemarin malah membuatnya makin sebal. Jika kemarin dia bisa menguasai meja makan dan dapur, lain hari mungkin kamar ini yang akan dia kuasai juga.


"Ayangku?" gumam Elang dengan dahi mengkerut. Sesungguhnya pagi ini dia juga masih enggan ke kantor karena Mitha juga belum bisa beraktifitas di S&M lagi. Lebih tepatnya Elang masih melarangnya kesana. Takut jatuh lagi.


"Pura-pura tidak tau." sindir Mitha kesal. Elang hanya tersenyum simpul saat istri kecilnya itu buru-buru menarik kakinya.


"Kau cemburu?" Sontak Mitha melengos amat geram. Siapa yang kemarin minta di jaga, siapa yang kemarin minta hukum balas budi?


"Nggak."


"kok sewot?"


"siapa yang sewot? aku hanya tidak suka mas panggil dia yang, yang, yang, yang!!! orang yang tidak tau apa-apa pasti mikirnya mas pacaran sama dia trus manggilnya sayang. Mirip bik Sri kemarin. Kalau aku panggil mas Elang kakak aja trus yang lain salah paham, mas marah. Trus sekarang......"


"Ssstttt....sudah. Nanti aku rubah panggilannya oke?" Elang yang gemas dengan bibir Mitha yang maju beberapa senti mirip bebek berenang langsung menempelkan telunjuknya di bibir merah merekah itu hingga Mitha diam seketika. Sepasang mata Elang bak nama pemiliknya itu kembali menguncinya.


"Mas Elang janji?" tanyanya ragu. Elang hanya mengangukkan kepalanya tanda setuju.


"Apa kau baik-baik saja kalau kutinggal hemm??"


"Iya mas. Aku udah baikan kok. Aku nggak akan naik turun tangga sebelum mas pulang."

__ADS_1


"Bagus, tidur di kamar tamu saja dulu. Tunggu aku pulang." Elang bergegas masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Mitha yang ditinggal di ruang keluarga hanya menatap punggung tegap itu menjauh. Untuk sementara waktu Elang memang melarangnya terlalu banyak naik turun tangga.


"Selamat pagi tuan." Bik Sri datang membawa amplop berwarna coklat dan menyerahkannya pada Elang.


"Dari siapa bik?" tanya Elang karena tak melihat nama pengirimnya. Hanya ada tulisan namanya saja di depan amplop.


"Tidak tau tuan, tadi pak Ali dititipi seorang laki-laki di pos depan. Suruh memberikan pada tuan."


"Ya sudah. Makasih ya bik."


"Ya tuan." dan Bik Sri sudah kembali ke dapur saat Elang mengambil duduk dan membuka amplop itu.


Kedua mata Elang melebar. Tangannya terlihat bergetar hingga foto ditangannya juga terlihat sama bergetarnya dengan dia. Wajahnya memerah dengan rahang mengeras. Tatapannya beralih pada Mitha yang masih duduk santai di sofa panjang, tak jauh darinya.


"Kau bisa jelaskan ini??" Elang meraih tangan Mitha kasar dan meletakkan dua lembar foto yang sengaja diperbesar pada Mitha. Wanita muda itu melihat foto itu dengan seksama. Pantas saja Elang marah. Ada foto dirinya dan Andra sedang check in di hotel, sedang foto satunya adalah saat mereka berdua sedang tidur bersisihan disuatu tempat.


"Ini????"


"Ya. Jelaskan padaku kapan kau berduaan dengan mantan pacarmu itu hingga masuk hotel, lalu tidur bareng seperti itu!!" bentak Elang penuh kemarahan dan tuntutan. Dadanya serasa terbakar.


"Mas duduk dulu." ajak Mitha sambil menarik lengan Elang, tapi pria itu melerainya dan memilih tetap berdiri, menunggu penjelasan. Moodnya ke kantor sudah hilang.


"Baiklah...Dua foto ini diambil di dua tempat berbeda, juga waktu yang beda pula. Ini terjadi akhir 2021 lalu. Saat kami liburan ke Bali. Kami memang menginap di hotel, tapi nggak berdua saja mas. Ada Zahra dan Gea juga. Kamarnya juga beda. Andra tidur sendiri di kamar sebelah. Dan yang ini...foto saat kami camping setelah lulus SMA. Kelihatankan kalau aku masih imut mas?" Elang tak peduli dengan pertanyaan bernada candaan dari bibir Mitha. Dia sudah amat kesal sekarang.

__ADS_1


"Jadi camping sambil tidur bareng gitu?" ketus Elang makin emosi.


" Nggak gitu mas, kita juga tidurnya bareng-bareng itu. Pas itu aja Andra cuma foto doang lalu pergi. Yang disampingku ya Zahra sama Gea."


"Alasan!"


"Mas nggak percaya?"


"Buktinya jelas!"


"Tapi aku juga punya buktinya mas." jemari lentik Mitha tergesa membuka aplikasi ponselnya. Mengusap layar beberapa kali hingga menemukan foto itu secara utuh lalu menyerahakannya pada Elang.


"Nih..mas lihat sendiri saja." Mata Elang menelisik. Benar yang dikatakan Mitha. Foto itu seperti sengaja dipotong untuk menimbulkan kesalah pahaman.


"Udah lihat?"


"Tapi aku tetap tidak percaya."


"Apalagi sih mas? aku benar-benar nggak seperti itu. Semua ini salah paham."


"Aku hanya tidak percaya jika kau masih virgin." timpal Elang tegas. Wajah Mitha berubah marah.


"Teganya mas menuduhku seperti itu. Jangankan berhubungan, kamu bahkan orang pertama yang menciumku!!" kali ini Mitha berteriak marah dan masuk ke kamar tamu dengan wajah amat kesal, meninggalkan Elang yang tersenyum samar disudut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2