Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Surprise


__ADS_3

Hiruk pikuk terdengar dimana-mana saat Mitha turun di halaman kampus. Mungkin dia yang datang paling akhir karena di jebak macet sebelum meninggalkan salon langganannya untuk merias diri. Sempurna, itu kesan pertama yang ditangkap dari tampilannya. Tubuh tinggi langsing berbalut kebaya kuning gading kemarin, wajah ovale dengan hidung mancung, alis tebal dan bibir mungil yang seksi. Sayang, sama sekali tak ada senyum di wajahnya.


Mendung menghiasi iris coklat pekat itu. Apa yang bisa dia harapkan sekarang? acara yang dia impikan ini bahkan hanya menghasilkan kecewa. Orang tuanya masih fokus pada pengobtan nun jauh disana. Para sahabatnya yang harusnya hadir juga absen dengan berbagai alasan. Zahra masih bersama mamanya, Andra masih di Australia, dan Gea...Bian seperti sengaja menahannya agar tak bisa datang. Sekretaris papanya itu memang keterlaluan. Tak biasanya Bian tak mendengarkan dan berpihak padanya. Apa ada campur tangan Elang di dalamnya?


Acara sudah dimulai, toga juga sudah terpasang rapi. Mata Mitha nyalang menatap deretan tamu yang merupakan orang tua atau kerabat dekat para rekannya. Sayangnya hanya dia yang terlihat sendiri tanpa siapa-siapa. Dia hanya sanggup menutup mata, menahan kesedihan. Entah kapan namanya disebut agar bisa segera pergi dari sana. Ternyata sendiri itu menyakitkan.


"Mith...Mith..." bisik seorang rekannya yang ada di dekatnya. Spontan Mitha membuka matanya malas. Senyum lebar gadis itu makin membuatnya sebal. Tapi tak bisa disalahkan juga sih, hari ini semua wisudawan memang bahagia menyambut keberhasilannya, kecuali dirinya.


"Apa?" lagi-lagi bertanya malas.


"Ada oppa Korea tuh. Cakepnyaaa ya ampuunn...jadi gemess!!" ucapnya berapi-api dengan wajah dipasang sok imut. Mitha melangos. Dia sedang tidak mood untuk becanda, apalagi soal pria.


"Udah kulihat tadi. Kebanyakan orang tua wisudawan. Nggak ada yang cakep."


"Mitha ihh..kan barusan datang." ucap si empunya makin ngeyel.


"Mith..liatin dong....bentar aja!!" lanjutnya memaksa. Malas ribut, terpaksa Mitha menoleh mengikuti pandangan matanya. Kesal yang membuatnya terkesiap.


"Ka...kakak...!!" gumam Mitha tak percaya. Berkali-kali dia mengerjabkan mata tak percaya. Elang duduk di deretan depan lengkap dengan jas hitam dan celana senada. Wajah tampannya memang terlihat paling bening diantara semua tamu undangan. Tampan dan penuh pesona. Mata Mitha berkaca.


"Kakakmu? tampan bangeeeett....boleh daftar ya Mith!" colek si gadis makin semangat. Seketika Mitha menatap horor padanya.


"Dia suamiku." balasnya tajam.

__ADS_1


"Suami? oohh...ehh..maaf kalo gitu." ucapnya spontan sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia memang pernah mendengar berita pernikahan Mitha, tapi belum tau siapa suaminya.


Tatapan Mitha kembali lurus kedepan. Kali ini bukan tatapan sayu seperti tadi, tapi bola mata yang penuh semangat dan kebahagiaan. Senyum manis terukir tanpa henti di bibir mungil yang dibalut lipstik merah merona, kontras dengan kulit putihnya. Hingga namanya dipanggil dan naik ke podium, senyum itu tak pernah sirna.


"Kak." sapanya saat sesi foto dimulai. Elang mendekat dan berdiri di dekatnya, tanpa ekspresi.


"Pak, bisa diulang fotonya?" pinta Mitha pada juru foto yang memotret mereka.


"Tentu. Mau berpose lagi sama kakaknya?" tanya sang juru foto ramah.


"Dia suami saya." jelas Mitha membuat pria tadi meminta maaf juga padanya. Terlalu banyak kesalah pahaman yang akan terjadi bila hal ini diteruskan. Mitha mendekati Elang yang masih berdiri ditempatnya.


"Mas, kita foto sekali lagi ya. Tolong tersenyumlah." Sesaat Elang menatap tajam padanya, menelisik wajah ayu didepannya tanpa jeda.


"Hubby kumohon...." pinta Mitha seraya mengatupkan kedua tangannya didada, penuh permohonan. Tak ada sahutan, netra cokelat itu meredup dan menundukkan kepalanya. Tak ada harapan hingga dia merasakan telapak tangan besar mengenggam tangan mungilnya.


"Ayo." Elang menggandeng Mitha menuju tempat pemotretan.


"Lihat kesana dan tersenyumlah." ujar Elang saat melihat Mitha masih terpana melihatnya. Gadis itu tersadar dan dengan sedikit salah tingkah mulai berpose. Atas permintaan Elang, sesi foto dilakukan dalam tiga pose berbeda.


"Terimakasih kak...ehhh...hubby." Elang hanya tersenyum tipis mendengar perkataan istri kecilnya itu. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan hingga...


"Surpriseeeeeeee!!!!!" hampir saja Mitha berteriak kaget saat ketiga sahabatnya sudah berada di depannya dengan buket bunga indah ditangan masing-masing.

__ADS_1


"Zahra, Gea, Andra...kalian datang?" gumam Mitha tak percaya hingga Zahra dan Gea sudah berlari memeluknya dan mengucapkan selamat. Seperti anak kecil, ketiganya berjingkrak menyuarakan euforia keberhasilan.


"Boleh saya kesana kak.." Andra yang masih berdiri disamping Elang awalnya ingin ikut menghambur kesana memeluk Mitha juga. Tapi saat dia menyadari jika Mitha sudah menikah, hal itu dia urungkan.


"Pergilah." balas Elang datar. Andra mengucapkan terimakasih lalu mendekati tiga wanita cantik yang bertingkah bak bocah cilik itu.


"Selamat ya Mitha. Akhirnya wisuda juga." Tentu saja Mitha langsung tersenyum gembira. Sama seperti kedua sahabatnya, mantan pacarnya itu juga memberikan buket bunga sebagai ucapan selamat. Sekilas dia melirik Elang yang memperhatikan interaksi mereka. Ada rasa tak enak hati menelusup dalam benaknya. Tapi rasa takut lebih mendominasi. Ya...dia takut Elang marah dan mengabaikannya.


"Nona Gea..sudah waktunya anda kembali ke kantor." Seketikan semua berbalik kesumber suara. Sekretaris Bian berdiri gagah disana.


"Bolehkah saya disini sebantar lagi pak?" Gealah orang yang paling kecewa dengan kedatangan Bian yang tiba-tiba. Baru juga dia menikmati waktu dengan para sahabatnya, ehh..sskretaris galak itu malah sudah menyusulnya. Sangat tepat waktu, tidak pakai molor.


"Waktu anda sudah habis nona." Gea menghentakkan kakinya kesal. Sedang yang lain cuma saling pandang tak mengerti.


"Biarkan Gea tetap bersama mereka Bian." Entah sejak kapan Elang sudah berdiri di belakang Mitha dan mengeluarkan perintah pada Bian yang langsung mengangguk setuju.


"Kami akan merayakan kelulusan Mitha di S&M. Kau juga harus ikut." putusnya lagi.


"Baik tuan muda." balasnya patuh. Tentu saja Gea langsung bernafas lega karenanya. Seringaian penuh kemenangan terpasang di wajah gadis tomboy itu. Dia bahkan menjulurkan lidahnya secara terang-terangan ke arah Bian saat mata mereka bersitatap.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Elang pada ketiga sahabat Mitha.


"Siaaapp kak!!" benar-benar mirip pasukan satpam yang sedang berjaga saat ditanya. Serempak dan kompak. Mungkin saking semangatnya.

__ADS_1


"Mari berangkat." Ajak Elang berjalan lebih dulu. Namun langkahnya seketika terhenti saat sebuah tangan mencekal lengannya dan bergelayut manja disana.


"Mas, pelan sedikit jalannya. Aku nggak bisa cepet kalau pake baju beginian." ucap Mitha seperti merajuk. Gadis itu bahkan sudah tak peduli pada sekitarnya dan terus memeluk lengan suaminya mesra seakan ingin menunjukkan pada seluruh dunia jika pria ini adalah miliknya. Sudut bibir Elang terangkat, mencetak senyum tipis disana. Pria itu memelankan jalannya, membiarkan Mitha menyesuaikan diri dengannya.


__ADS_2