Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tak tau malu


__ADS_3

"Tapi berkas-berkas ini perlu ditanda tangani Lang. Jam 9 nanti kita ada meeting dengan PT Luv. Jadwalmu hari ini juga sangat padat di Elnata. Cepatlah, aku yakin Abimana crops juga sangat memerlukanmu." kata Sindy penuh bujuk rayu.


"Dari awal kita sudah berkomitmen akan bekerja secara profesionalkan Yang? jadi jangan coba-coba melanggarnya karena aku tidak suka mengulang perkataanku untuk kedua kalinya." kali ini suara datar dan ekspresi dingin Elang membuat Sindy terkesiap, meremas tangannya kuat namun mengulas senyum yang entah apa maksudnya.


"Hmmm baiklah, aku akan menunggumu hingga jam 8 nanti." putusnya kemudian sebelum Elang menutup pintu kamarnya tanpa banyak berkata lagi. Dia bahkan tak menunggu Sindy pergi dari sana. Benar-benar raja tega.


"Mas....itu kak Sindy masih di depan kamar lho." ujar Mitha memperingatkan. Menurutnya sangat tidak sopan jika seseorang menutup pintu sebelum tamunya pergi. Tapi Elang sama sekali tak menghiraukan perkataan istrinya. Dia malah mengandeng Mitha ke balkon kamar mereka dan mendudukkan wanitanya sofa kecil yang hanya muat dua orang disana.


"Kau tau...aku selalu saja melihat matahari pagi jika kangen Indonesia." katanya lirih sambil duduk disisi Mitha yang masih terbengong karenanya.


"Berarti mas tidak bisa merindukan negara ini sepanjang tahun." timpal Mitha sambil mengikuti arah pandangan Elang menyaksikan sang bagaskara keluar dari peraduannya.


"Ya, ada musim dingin yang membuatku tak bisa menatapnya. Musim yang menyerupai hatiku." Tiba-tiba Elang mengenggam jemari Mitha yang masih terdiam. Lagi-lagi tatapan mereka bertemu. Tatapan itu....entahlah. Mitha takut menerjemahkannya. Takut salah paham.


"Apa hati mas sedingin itu?" Elang mengangguk samar. Mitha yang menatapnya intens menjadi salah tingkah sendiri.


"Aku membencimu....bahkan pada hari pertama kita bertemu. Aku takut kau merebut perhatian orang tuaku. Dan kau tau....hal itu benar-benar terjadi. Papa dan mama seperti mengasingkan aku." tutur Elang tanpa diminta. Wajah sendunya membuat Mitha jadi sedih karenanya. Elang benar, dia sudah merebut kasih sayang yang seharusnya milik pria tampan itu tanpa sisa. Baik Maria ataupun Abimanyu, mereka selalu menomor satukan dirinya jika Elang yang sudah SMA berselisih paham atau berebut sesuatu dengan dirinya. Dan dia tau betul, Elang sering mengikuti berbagai acara diluar rumah untuk menghindari orang tua dan dirinya. Elang melakukan protes dalam diam hingga lulus sekolah dan memilih kuliah di Inggris bersama kakeknya.


"Ma..maafkan aku mas. Aku terlalu egois dan bersalah padamu. Jika mas tak ingin aku tinggal maka aku akan pergi."


"Pergi?? kau bahkan belum membayar hutangmu pada keluarga ini."


"Hu..hutang?"

__ADS_1


"Ya. Kau berhutang banyak pada mama dan papaku, juga pada diriku. Karena kau aku kehilangan semuanya."


"Aku tau mas. Sampai matipun aku tidak akan bisa membayarnya pada kalian." ucap Mitha sambil menundukkan kepalanya. Rasa bersalah sudah bersarang di dalam sanubarinya.


"Kau tau itu." pangkas Elang cepat. Tatapannya kembali tajam bak belati menikam ulu hati.


"Ya." balas Mitha pendek. Meski dia tidak tau bagaimana keseharian Elang selama di Eropa, namun dari cerita yang meluncur dari bibir mama papanya, Elang mengalami banyak hal disana. Bisa dikatakan Eropa adalah proses metmorfosa dalam hidupnya.


"Mama dan papaku merelakan 23 tahun hidup mereka untuk menjagamu Mitha. Jadi apa salahnya jika aku ingin kau juga menjagaku selama itu...atau bila memungkinkan seumur hidupmu?"


"Me...menjaga mas Elang?" tanya Mitha memastikan. Banyak tanda tanya berseliweran di kepalanya.


"Ya. Selain menjagaku dari gangguan kongkrit dan abstrak, kau juga harus menjaga hatiku. Apa kau mengerti nyonya Abimana?" Masih banyak hal yang ingin ditanyakan Mitha, namun pintu kamar mereka sudah lebih dulu diketuk dari luar. Tertatih Mitha mengikuti langkah panjang Elang menuju pintu.


"Maaf mengganggu tuan. Tapi nyonya Sindy bersikeras menyuruh saya memanggil anda untuk sarapan karena nyonya Sindy sudah memasak udang saus tiram kesukaan anda." ujar bik Sri penuh rasa sungkan.


"Baik bik..kami akan segera turun." sahut Mitha memotong pembicaraan mereka.Kata-katanya sontak mendapat pelototan dari Elang. Terlihat sekali suaminya merasa jengah mendengar Sindy masih di rumah itu.


"Mitha...apa maksudnya?" bentaknya pelan karena masih ada bik Sri diambang pintu kamar.


"Aku tidak mau makan berdua saja bersamanya. Kau juga belum pulih benar untuk bisa ke bawah." lanjutnya lagi. Mitha tersenyum mendengar penolakan suaminya. Raut wajahnya terlihat khawatir.


"Aku bisa kok mas. Nanti jalannya pelan-pelan saja. Lagian kamu nggak mungkin menyuruh siapapun yang ada keperluan denganmu ke kamar bukan? ada baiknya kita dibawah saja."

__ADS_1


"Tapi...."


"Hubby kita wajib menghormati tamu bukan. Lagian ini memang sudah waktunya sarapan. Jadi ayo turun." panggilan sayang dan tatapan penuh permohonan Mitha mampu meluluhkan kerasnya sikap Elang. Pria itu melunak dan menyetujui permintaannya.


"Hmmm baiklah."


"Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya." pamit bik Sri. Mitha mengajak Elang mengikuti bik Sri turun. Tangannya sudah melingkar manis di lengan kekar suaminya yang tanpa risih malah mengajaknya berjalan pelan dan hati-hati.


Senyum Sindy mengembang saat melihat keduanya turun. Cepat dia berdiri dari kursinya dan menarik kursi disebelahnya.


"Duduk sini Lang. Aku udah masakin udang saus tiram dan ayam kecap kesukaanmu." ucapnya penuh semangat. Dari bau dan tampilannya saja sudah terlihat jika masakan itu enak.


"Aku tau istrimu ini lagi sakit. Jadi nggak mungkin bisa melayani kamu dengan baik. Dari pada nunggu jam 8 dan aku bete, makanya aku masakin kamu aja." penjelasan panjang lebar yang tak dibutuhkan karena baik Mitha ataupun Elang malah sibuk dengan ponselnya setelah Elang menarik kursi lain untuk dirinya dan istri kecilnya. Dibawah tatapan sakit hati Sindy tentunya.


"Ini aku buatkan kopi mocca kesukaanmu." lagi-lagi Sindy mencoba mengambil hati Elang dengan bergerak cepat menghampirinya dengan gelas kopi yang masih mengepulkan asap beraroma segar. Tapi lagi-lagi tak ada respon dari Elang ataupun Mitha. Hal itu membuat Sindy kesal.


"Kalian ini sebenarnya mau sarapan atau bermain ponsel sih? nggak sopan amat." bentak Sindy kesal sambil berdiri dari duduknya. Dia merasa sangat diabaikan. Elang hanya meliriknya sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Berbanding terbalik dari Mitha yang juga langsung ikut berdiri saling berhadapan dengan Sindy dengan meja makan sebagai penghalang keduanya. Mata coklat terang itu berkilat.


"Tidak sopan dilihat dari sisi mana ya kak? ini rumah kami lho ya. Terserah kami mau makan atau tidak. Lagi pula bukan ranah kak Sindy untuk ikut memasak di rumah ini. Kami sudah ada pembantu yang akan mengurus dapur dan makanan. Jadi tidak perlu minta bantuan siapapun lagi." balas Mitha telak membuat Sindy makin geram.


"Kau ini mengaku istri tapi nggak becus mengurus rumah tangga. Semua mengandalkan pembantu. Istri macam apa kamu?" ejeknya jumawa. Mitha hanya tertawa ringan.


"Itu karena kami berasal dari keluarga kaya raya kak. Saya bisa menggaji mereka full lho Kalau bisa mudah, kenapa dibikin susah? mas Elang butuhnya istri lho..bukan pembantu. Iya kan hubby??" tentu saja Elang akan dengan serta merta mengamini pekataan istri cantiknya.

__ADS_1


"Tentu saja honey."


__ADS_2