
Sejuknya udara sore berhembus saat Elang turun dari mobilnya dan memasuki rumah besar keluarga Abimana. Rumah telihat sepi. Jam segini bik Sri pasti masih dihalaman belakang mengurus cucian kering. Sedang Mitha?? entah dimana istri kecilnya itu berada. Elang berjalan lambat menuju kamarnya dilantai atas, membukanya dengan harapan menemukan Mitha disana. Kali ini dia harus menelan rasa kecewa karena tak menemukan wanitanya disana.
"Kemana dia?" gumam Elang sambil menuju kamar Mitha yang bersebelahan dengan kamarnya. Tinggal berdua dengan Mitha sedikit banyak membuatnya tau jika istrinya sangat suka pindah kamar saat dirinya merasa tidak enak hati dengannya.
Kosong. Lagi-lagi Elang dibuat bertanya-tanya. Hampir saja Elang mencari ketempat lain andai ekor matanya tak melihat ke jendela yang terhubung dengan taman samping. Pria tampan itu mendekati jendela itu, menyibak kordennya dan menemukan Mitha yang sedang asyik bercakap-cakap dengan bik Sri yang benar saja...sedang mengumpulkan jemurannya.
Ada senyum tipis di sudut bibir Elang saat melihat Mitha tertawa lepas dan melontarkan candaan yang juga ditanggapi hal serupa oleh bik Sri. Celana pendek warna cream dan kaos putih tanpa krah yang dipakainya menimbulkan kesan santai namun tak menghilangkan kecantikannya. Lihatlah rambut sepunggungnya yang diekor kuda menampakkan leher jenjang yang terlihat seksi dengan tetesan keringat disana. Elang segera berjingkat turun saat bik Sri bergerak memasuki rumah.
"Bik, sini bentar deh." si bibik yang terjejut karena melihat sang majikan yang pulang sebelum waktunya segera meletakkan keranjang pakaian dan mendekatinya.
"Ada apa tuan muda?" tanyanya masih dengan ekspresi heran.
"Itu kenapa istri saya bikin tenda diluar situ? kayak mau kemah aja."
__ADS_1
"Non Mitha mengajak saya kemah disana nanti malam tuan."
"Mitha...ngajakin bibik tidur diluar? kayak nggak punya rumah untuk tidur saja. Memangnya dari kecil sampai kuliah nggak pernah camping apa?" tukas Elang kesal. Bisa-bisanya istrinya itu malah tidur diluar saat mereka ada masalah. Padahal dia tidak mengusir untuk tidur diluar seperti cerita dalam novel penuh konflik yang sering dibaca emak-emak seIndonesia raya merdeka.
"Katanya non Mitha pengen ganti suasana tuan."
"Apa dia sudah terlalu bosan dengan suasana rumah ini?" gumam Elang mendapat gelengan kepala tanda tak tau dari bik Sri.
"Ohh ya." dan Elang segera menyingkir masuk ke ruang kerjanya. Pelan dia memijit kepalanya yang terasa pening. Niatnya pulang awal ingin menemui dan bicara empat mata dengan istrinya kandas sudah. Ohhh...tapi bukannya bicara sekarang lebih baik? Lebih baik masalah ini cepat selesai. Dia sudah terlalu banyak merenung dan menghabiskan waktunya dikamar itu. Elang kembali keluar dari ruang kerjanya, berjalan cepat ke taman.
"Mitha...Mith...." tak ada sahutan meski dia sudah mengitari tenda juga kembali masuk ke rumah untuk mencari Mitha. Dia disambut kesunyian saja.
"Istri saya kemana bik?" tentu saja bik Sri yang barusan kembali mengantar makanan ke pos satpam keget.
__ADS_1
"Non Mitha keluar setengah jam lalu tuan." jawab bik Sri. Elang meruntuk dalam hati. Andai dia tak terlalu lama merenung, pasti seluruh masalah mereka sudah selesai
"Kemana??" telisik Elang ingin tau. Bola matanya memindai gerbang rumah yang tertutup rapat.
"Katanya ke tempat temannya."
"Temannya siapa?"
"Saya tidak tau tuan." Elang menghelan nafas kasar. Dia melirik jam dinding lalu meraih ponselnya, menghubungi Bian.
"Apa Gea sudah pulang?" tanyanya sesaat setelah telepon tersambung. Sekarang memang sudah waktunya pulang kerja. Dia hanya ingin memastikan saja.
"Ya, masih disini tuan muda. Dia bersama istri anda di lobi." jawab Bian tegas. Kebetulan sekarang dia juga sudah sampai dilobi dan melihat Gea bercakap-cakap dengan Mitha.
__ADS_1