Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Sore itu


__ADS_3

Seharian ini Mitha terlihat amat gelisah. Dia terus mondar-mandir tidak jelas. Sebentar duduk, sebentar berdiri lalu linglung seperti orang bingung. Capek berada dalam posisi itu, gadis cantik tinggi semampai itu merebahkan dirinya di sofa. Hampir saja berteriak frustasi jika tak mendengar suara langkah mendekat ke arahnya.


"M..mas ..." ucapnya terbata saat sosok tinggi athletis itu sudah berdiri menjulang di hadapannya. Netra hitam pekatnya menatap dirinya amat dalam hingga menyamai kedalaman samudra. Wajah itu terlihat mengaguminya.


"K...kok mas su..sudah pu... pulang?" entah kenapa Mitha dibuat tergagap oleh kehadiran sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Padahal sejujurnya, bukan sosoknya yang dia pikirkan. Tapi....malam pertamanya. Ketakutan, gugup dan salah tingkah seolah mencengkeram jiwanya. Padahal ini bukan kali pertama mereka tidur berdua, pelukan, atau ciuman. Bagi Mitha semua tetap terasa menegangkan. Jantung dirongga dadanya berdetak tak normal saat Elang malah berjongkok dihapannya, menahan dirinya yang hendak bangkit dari tidurnya.


"Mau kemana hemm??" tanyanya lirih. Istrinya benar, ini masih lewat tengah hari. Belum saatnya dia pulang. Tapi rasa rindu dan dorongan kuat dalam kalbu membuatnya tak bisa berpikir rasional lagi. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang dan melihat istrinya. Hal yang pertama kali terjadi setelah puluhan tahun tinggal jauh dari wanitanya.


"Itu...anu...ahhh...angkat jemuran dulu." hampir saja Elang terbahak. Mengangkat jemuran adalah hal yang tak pernah dilakukan Mitha sejak dulu. Bisa-bisanya istri kecilnya itu mengatakan hal yang tak masuk akal seperti itu saat gugup. Elang mengelus pipi semulus pualam itu lembut, membuat Mitha salah tingkah setengah mati.


"Cepatlah mandi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ujarnya penuh kelembutan. Mata Mitha membulat.


"Kemana mas?" Jantung Mitha kembali berdetak kencang saat Elang mengecup sekilas pelipisnya.

__ADS_1


"Kencan." kata Elang ringan.


"Kencan?" beo Mitha tak percaya. Bukannya usia suaminya sudah berkepala tiga sekarang? kenapa mengajak berkencan dirinya yang terlihat imut bak anak SMA?


"Ya, kita nonton film favoritmu." dan setelah mengatakannya Elang bergegas berdiri lalu pergi ke kamar mereka. Mitha yang masih terlihat linglung hanya menatap kosong padanya. Tangannya terus mengenggam dadanya yang terasa hampir meledak karena pria yang sudah menjadi suaminya itu bertindak diluar kebiasaan.


Hanya butuh setengah jam bagi pasangan pengantin baru itu bersiap. Mitha sudah memakai sweater pink dan celana jeans favoritnya saat turun menemui Elang yang sudah bersiap lebih dulu disamping mobilnya. Rambut panjangnya diikat jadi satu, menampilkan leher jenjang nan putih bersih. Hal senada yang dilakukan seorang Elang. Lihatlah, lelakinya itu terlihat amat maskulin dan sepuluh tahun lebih muda dari usianya saat mengenakan pakaian santai seperti sekarang. Hanya kaos polo warna putih dan celana jeans panjang seperti dirinya yang membuatnya.....sempurna.


"Terserah mas Elang." Balas Mitha riang. Dari dulu dia memang sangat ingin nonton dengan seseorang yang dia cintai. Apalagi ini film genre romantis yang jadi favoritnya selama ini.


"Kok nggak jalan mas." ujar Mitha sambil menatap Elang yang hanya menghidupkan mesin tanpa menjalankannya. Gadis itu langsung tertunduk malu saat tau Elang menatapnya amat intens.


.......cup........

__ADS_1


Mata kecoklatan Mitha kembali membola. Bukannya menjawab Elang malah mengecup bibirnya, membuatnya menahan nafas karena serangan tiba-tiba yang sudah memporak-porandakan pertahanannya. Tubuhnya melemah.


"Mas...lepas, takut ada yang lihat." protes Mitha lirih. Matahari bahkan masih dalam fase terang-terangnya. Sewaktu-waktu bisa saja ada yang melihat perbuatan mereka yang walau sudah sah dn bebas namun akan telihat memalukan bukan??


"Beautifull." bisik Elang lalu meneruskan ciumannya hingga mau tak mau Mitha hanyut di dalamnya. Tangannya sudah bergelayut dileher sang tuan muda, membuat kedua tubuh mereka menyatu. Saling sesap dan ***** hingga beberapa waktu lamanya.


"Turunlah." pinta Elang kala pria itu menyatukan dahinya dengan dahi Mitha, menata nafas yang tak lagi beraturan.


"Kok turun mas...katanya mau nonton." protes Mitha setengah sadar dengan mata yang masih saja terpejam karena tak kuasa bersitatap dengan suami tampannya yang juga sedang menatapnya intens.


"Ada hal yang lebih penting dari itu sayang." desisnya di depan bibir Mitha sebelum ********** lebih dalam. Tangan kekarnya bahkan sudah mampir kemana-mana, membuat Mitha melenguh samar. Tubuhnya bahkan sudah melengkung ke atas, mengikuti insting dirinya.


"Sayang turunlah...atau aku akan melakukannya disini." Mitha sontak tersadar. Dengan sisa kesadaran yang dimilikinya dia membuka pintu mobil lalu berjalan cepat menuju ke dalam rumah. Wajahnya merah padam menahan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2