Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Pintu keluar


__ADS_3

"Dari mana saja?" tanya Elang lemah, namun penuh penekanan saat Mitha memasuki ruangannya. Wanita muda itu mengabaikannya, memilih duduk di kursinya. Elang yang menunggunya di sofa mendengus kesal dan bergerak mendekatinya.


"Sebagai atasan kau harus disiplin. Jika kau datang terlambat, bagaimana dengan bawahanmu? mereka akan mencontoh perbuatanmu." tekan Elang lagi. Mitha kembali abai, tak ingin menanggapi. Lagi-lagi Elang dibuat kesal karenanya.


"Mitha apa kau dengar perkataanku?" hardik Elang dipuncak rasa kesal. Mitha menatap lurus padanya, layu.


"Apa aku boleh mengatur kantor ini sendiri?" tanyanya lemah, nyaris seperti gumaman dengan mata kosong. Elang terdiam. Tak biasanya Mitha bersuara selemah ini. Istrinya itu selalu riang dengan nada tingginya. Tapi sekarang...wanita di depannya itu bak raga tak bernyawa. Tatapan tajam Elang melemah.


"Tapi kau masih perlu bimbingan Paramitha." jawab Elang tak kalah lirih. Ingin rasanya pria itu berlari menghampiri wanitanya, membenamkannya dalam pelukan hangatnya dan mengucapkan ribuan maaf dari bibirnya. Tapi semua itu mustahil terjadi. Rasa egoisnya menghalangi. Membuatnya hanya bisa membatu dengan suara tercekat di tenggorokan.


"Aku tau." pungkas Mitha kemudian. Diam dan menurut adalah pilihan terbaik baginya hari ini. Toh ada Gea yang akan menemaninya walau berada di luar ruangannya. Elang hanya menatapnya tanpa ekspresi. Pria itu memilih menarik kursi dan duduk disamping Mitha dan mulai bekerja.

__ADS_1


Mitha menghidupkan laptopnya, meneliti laporan yang sudah dikirimkan tiap cabang S&M di luar kota. Menyibukkan dirinya seolah tak menganggap Elang ada. Beberapa kali ponselnya berbunyi, tapi sama sekali tak dia hiraukan. Lebih tepanya malas. Suara ketukan di pintu menjeda kesibukannya.


"Masuk." Kata Elang tanpa mengalihkan pandangannya. Pintu terbuka. Mitha hanya melirik sekilas siapa yang masuk ke ruangannya. Ulat bulu itu lagi.


"Selamat siang pak." Tampak sekali dia ingin memamerkan bentuk tubuh idealnya yang hanya berbalut rok diatas lutut lengkap dengan atasan abal-abal yang bukannya menutupi tubuhnya, tapi malah lebih layak disebut baju penggoda ketimbang baju formal. Bagaimana tidak, atasan lengan pendek itu malah sangat pres body dan menampilkan belahan dadanya yang terlihat seksi, kontras dengan penampilan Mitha yang serba tertutup dan terlihat sopan dengan blazer dan celana panjangnya. Mitha berdecih sebal.


"Duduk." Bukannya duduk di kusi depan meja, Sindy malah memilih mendekat hingga hanya beberapa senti saja dari posisi duduk Elang. Lagi-lagi sang ulat bulu sengaja menundukkan tubuhnya, pura-pura menunjukkan letak dimana Elang harus tanda tangan. Tujuan utamanya tentu saja agar Elang bisa melihat **********. Norak.


"Jaga sikapmu sekretaris Sindy. Ini kantor, jadi bersikaplah yang benar. Disini saya atasan kamu." ucap Elang dingin. Berlahan Sindy menegakkan tubuhnya. Berdehem menata hatinya. Malu? tentu saja dia malu. Maksud hati ingin membuat panas hati Mitha, tapi yang dia dapatkan malah rasa malu berkepanjangan karena sikap Elang yang jelas-jelas menolaknya. Bersungut kesal Sindy menarik kursi depan meja dan mengarakannya ke samping meja Elang yang otomatis akan membuat mereka dekat.


"Maafkan saya pak." ucapnya kembali mendayu. Ingin rasanya Mitha pergi dari sana, tak ingin berlama-lama ada diantara mantan pasangan kekasih itu. Tapi begitu ingat ruangan itu adalah miliknya, maka dia mengeraskan hati untuk bertahan dan tetap di posisinya.

__ADS_1


"Sayang, bisa kita pindah duduknya?" pinta Elang lembut, sambil menyentuh lengannya lembut membuat Mitha yang awalnya pura-pura fokus pada pekerjaannya terpaksa menolehkan kepalanya, menatap Elang penuh tanda tanya. Pria itu mengulas senyum, menyematkan anak rambutnya yang menjuntai ke belakang telinga dengan tatapan mesra.


"Aku akan lebih nyaman disana." lanjut Elang lagi. Tanpa menunggu jawaban Mitha, pria tampan itu sudah menggeser kursi wanitanya ke sampingnya lalu dia bergeser kesamping. Mitha tetap diam seribu bahasa. Hanya tatapan tajam yang dia arahkan pada Sindy yang terlihat geram melihat perlakuan Elang pada dirinya.


"Saya akan mengeceknya dulu." perintah Elang kembali pada aura dinginnya membuat Sindy mendengus sebal. Tak kurang akal dia bergerak mengarahkan kursinya di depan meja Elang, namun dengan cepat Elang menarik laptop Mitha kehadapannya, seolah membangun jarak diantara keduanya.


"Pak, hari ini resto langganan kita ada promo akhir tahun. Bisa kita makan siang bersama?" tanya si ulat bulu tak tau malu. Wajahnya menunggu penuh harap. Tiba-tiba Elang menggemggam tangan Mitha dan mengecupnya lembut, membuat bola mata Mitha membulat sempurna.


"Saya akan makan siang dengan istri saya disini saja. Kami sedang ingin berdua saja. Jika tidak ada urusan lagi anda boleh kembali." Elang tampaknya mengusir sang ulat secara lembut.


"Pintu keluar disana nyonya." tunjuk Elang tegas . Sadar susah diusir, sindy segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi."pamitnya tanpa mau menoleh lagi.


__ADS_2