Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Duka


__ADS_3

Gea hanya termangu ditempatnya saat Elang memaksa masuk. Suami sahabatnya itu juga memaksanya menunjukkan dimana Mitha berada. Berat hati, Gea menunjukkan kamarnya. Elang yang sudah membuka pintu kamar itu berbalik ke arah Gea berada.


"Terimakasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu Ge." ujarnya sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada. Gea hanya mengangguk samar sebelum Elang masuk dan menutup pintu kamar. Dia bergegas mengunci pintu depan lalu menuju kamarnya. Lebih baik dia segera istirahat dari pada memikirkan keberadaan sepasang suami istri yang tiba-tiba menginap dirumahnya.


Elang mengunci pintu kamar tamu pelan. Lampu kamar yang redup membuatnya harus menyesuaikan diri dengan cahaya. Pria bertubuh athletis itu melangkah mendekati ranjang dimana istrinya tertidur dalam posisi meringkuk. Wajahnya tampak sembab, pasti Mitha menangis dalam jangka waktu lama. Isakannya bahkan masih terdengar disela helaan nafasnya yang teratur. Jemari Elang terulur mengelus kepala wanitanya, mengecup dahinya penuh perasaan. Bahkan wangi itu tetap membuatnya merasakan resah dan kerinduan yang tak berkesudahan. Elang membaringkan tubuhnya, memeluk sang istri dalam keheningan.


Paramitha menggeliat saat merasakan sebuah pelukan. Nyaris saja dia berteriak jika sebuah tangan tak segera menutup bibirnya. Mata si wanita terpaku, mencoba menggali kesadarannya yang baru saja raib terbawa dunia maya. Netra hitam pekat itu memakunya.


"M...mas...Elang." desisnya tak percaya. Kapan pria itu menemukannya, masuk ke kedalam kamar rumah Gea yang jadi persinggahannya kala direjam lara? bahkan pria itu sudah naik ke tempat tidurnya tanpa suara yang bisa membuatnya terbangun. Sontak Mitha berusaha bangun, namun lengan kekar Elang menahannya. Mau berontak tapi kalah tenaga.


"Lepaskan mas." desisnya lagi dengan amarah membuncah.


"Kenapa? bukannya kau mau menginap disini?" tanya Elang sama lirihnya.


"Tentunya tanpa mas Elang disini." Mitha melengos. Rasa kesal dan sakit hati masih mendominasi.

__ADS_1


"Tanpa aku? bagaimana bisa kau melakukannya? aku suamimu Paramitha." jawab Elang dengan suara rendah. Mitha tetap berontak ingin bangkit walau tetap tak bisa bergerak lebih.


Beruntung ponsel Elang berdering kala mereka masih saling menatap tajam. Elang yang semula enggan mengangkat panggilan itu karena masih ingin punya privacy diluar jam kerja menjadi mengangkatnya dalam kerisauan.


"Opa...." bisiknya lirih, namun tetap membuat Mitha terdiam. Dia cukup tau jika ada sesuatu yang penting hingga opa Elang menelepon dari negara nun jauh disana.


"Hallo opa...." sapa Elang.


"Elang..." suara disebarang sana menggantung tiba-tiba.


"Kau harus segera datang kemari nak, Richard sudah membokingkan tiket untukmu besok pagi. Ikut penerbagan pertama dan bawa istrimu." kata sang kakek dengan suara bergetar.


"Opa...katakan ada apa sebenarnya?" tanya Elang dengan suara yang hampir sama bergetarnya dengan kakek Hans diseberang sana.


"Mamamu....Maria sudah berpulang nak." tangis kakek pecah setelah mengucapkan kalimat itu. Elang yang kaget sampai sesak nafas karenanya. Kenapa tak ada yang mengabarinya sebelum kejadian itu? Mengapa kakek dan Richard seolah menyembunyikan keadaan mamanya dengan berkata bahwa semuanya telah baik-baik saja? bukankah dia adalah putranya? dia berhak tau keadaan orang tuanya. Lalu kenapa juga Abimanyu juga bersekongkol dengan tak pernah mengangkat teleponnya. Sungguh Elang merasa amat lelah dengan segala prasangka.

__ADS_1


"Kita pulang..." desisnya lirih. Air mata sudah menggenang dipelupuk manik mata sehitam jelaga itu.


"Apa...apa yang terjadi mas?"


"Mama sudah meninggal." Sontak Mitha berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya tanpa bisa Elang cegah. Suara langkah kaki mendekat, menggedor pintu kamar mereka dan tanpa basa-basi membukanya paksa.


"Pak..apa yang anda lakukan??!! keluar dari rumah saya!!" bentak Gea garang. Tangannya mendorong tubuh tegap Elang hingga hampir terjungkal karena tak siap mendapat serangan tiba-tiba meski dari seorang wanita. Mendengar tangisan Mitha membuat hatinya teriris sakit.


"Mama...mama meninggal Ge...." lirih Mitha membuat Gea membatu ditempatnya. Elang sontak memeluk Mitha yang terus menangis tanpa henti.


"Sayang kita harus pulang. Besok pagi-pagi kita akan ke London. Ahh Ge...maafkan kami ya." Elang yang lebih dulu bisa menguasai keadaan berusaha membuat segalanya lebih baik.


"Saya yang harus minta maaf pak." Gea langsung saja tak enak hati karena insiden tadi. Bisa-bisanya dia menyerang bos besarnya tanpa bertanya dulu apa masalahnya. Ceroboh.


"Kalau begitu kami permisi. Terimakasih sudah memberi kami tumpangan."

__ADS_1


" sama-sama pak." Lalu Elang menggandeng Mitha keluar, membuka pintu mobil lalu menjalankan kendraannya menuju kediaman Abimana.


__ADS_2