
"Tak ingin kehilangan sahabat??" manik coklat terang itu menelisik. Elang tak menanggapi dan tetap fokus menyetir hingga mereka tiba di rumah. Mitha bergegas turun dan berjalan tergess menaiki tangga.
"Mitha berhenti!!" tapi Mitha tetap melangkah memasuki kamar dan merebahkan tubuh lelahnya ke atas ranjang.
"Apalagi yang kau pikirkan hemm??" Elang yang baru menyusul ke kamar duduk ditepian ranjang.
"Tidak ada." Sahut Mitha.
"Apa sekarang kau sudah percaya padaku?"
"Percaya apanya?" tanya Mitha malas. Sungguh dia lelah dan tak ingin berdebat. Jangankan berdebat, melihat sosok Elang saja dia malas.
"Percaya jika aku dan Sindy hanya bersahabat." jawabnya dengan mantap. seketika Mitha terduduk. Matanya nyalang menatap ke arahnya.
"Sahabat? Kenapa kakak sangat ingin aku percaya?" senyum mengejek begitu terlihat jelas di wajah cantik sang istri yang putih bersih. Lihatlah, kulit itu sangat kontras dengan rambut hitam pekat yang menjuntai menutupi pipinya.
"Mana ada sahabat yang memanggil sahabatnya dengan kata 'yang'? kenapa pula kak Bian yang menjemput kak Sindy jika suaminya hanya bekerja di kejaksaan? bukannya kantor kak sindy bekerja dan kejaksaan searah? tk sulit bagi kak Leo menjemputnya, lain halnya dengan kak Bian yang harus berputar kesana. Satu lagi ..kak Leo itu lajang, bukan pria yang sudah menikah. Mereka juga datang tak berjarak lama. Apa ada yang kau sembunyikan dariku kak? apa ini bukan sebuah permainan?" Wajah Elang seketika berubah mendengar penuturan Mitha. Rahang pria itu mengeras.
"Apa maksudmu?" sarkas Elang cepat.
"Kak Leo..kami pernah beberapa kali bertemu. Jika kak Leo memang benar suami kak Sindy, alangkah malangnya pria itu karena punya istri yang tak setia. Dan kakak.....seorang mantan yang...mengenaskan karena berakhir sebagai pebinor." sindir Mitha tajam. Jemari tangan Elang mengepal erat.
"Bilang saja kau cemburu." ujarnya keras Suaranya terdengar begitu dingin dan menakutan.
__ADS_1
"Sama sekali tidak. Untuk apa aku cemburu jika aku tak punya perasaan apapun pada kakak? aku ini cantik, menarik dan pintar. Bukankah seharusnya aku pantas medapatkan pria tampan dan punya segalanya? Maaf ..bukan perjaka tua seperti kakak." Kilatan kemarahan begitu terlihat dimata Elang. Rahang pria itu makin mengeras dengan tangan terkepal.
"Apa kau pikir aku tidak tampan? Pria miskin? atau tak terpelajar?" Pria itu mengikis jarak diantara mereka. Menghimpit Mitha yang duduk bersandar dikepala ranjang. Namun bukannya takut, gadis itu malah menatapnya tajam.
"Sama seperti perkataan kakak tempo hari...kakak juga bukan tipeku."
"Errggghhh...Mitha!!"
"Aku tidak tuli kak."
"Kau hanya berasumsi sendiri." ketusnya menyembunyikan sesuatu.
"Asumsi realistis yang mengaitkan mantan pacar suaminya saat SMA, wajar bukan?"
"Kalau begitu aku akan diam." Mitha benar-benar diam saat merasakan jemari Elang yang mengusap kepalanya amat lembut lalu beranjak pergi. Nafas lega keluar dari hidung dan bibirnya saat pria itu berlalu. Mitha kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba menutup mata. Namun betapa terkejutnya dia saat merasakan ranjang di sampingnya bergerak, pertanda ada orang lain yang menaikinya. Spontan matanya terbuka.
"Kakak??"
"Hmmmm."
"Mau apa?" bukannya menjawab, Elang malah menyuruhnya duduk. Sebuah buku album kenangan SMA yang sudah terbuka dia letakkan di pangkuan Mitha yang mengernyit heran.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Kau bisa baca bukan? ada nama sekolah dan kelasku disana." Mitha meneliti buku itu. Ada nama Elang narendra abimana di nomer urut 9 dikelas IPA 1. Pemuda yang amat tampan dimasanya. Mitha tau pasti itu. Kakak sekaligus suaminya itu amat populer dikalangan para gadis karena selain tampan, dia juga ketua osis, atlet voli juga aktif diberbagai kegiatan sosial.
"Hanya itu?" Elang menggeleng, jari telunjuknya bergeser pada sebuah foto gadis cantik berambut pendek di nomer absen 12.
"Kahiyang Sindy parameswari." gumam Mitha lirih membaca nama gadis itu.
"Dia.."
"Dia Sindy. Sekarang kau tau bukan alasanku memanggilnya yang? bukan sayang..tapi kahiyang. Di sekolah dia populer dengan nama itu." jelas Elang penuh penekanan.
"Jika kau tanya kenapa kami tetap bersahabat, itu karena Leo juga teman seangkatanku walau beda kelas. Bian menjemputnya juga atas perintah Leo yang tadinya belum bisa pulang karena ada rapat. Tak taunya rapat ditangguhkan. Baca ini." Elang menunjukkan chat Bian padanya setengah jam sebelum bertemu di kantor tadi.
"Leo tak ingin Kiara terlalu lama ditinggal bersama pembantu baru mereka." lanjutnya lagi. Kali ini dia mengambil alih album itu dari tangan Mitha dan menaruhnya diatas meja samping ranjang. Pria itu ikut berbaring dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah istrinya.
"Sekarang apa lagi yang ingin kau tanyakan?" lembut dan amat sabar, itu kesan yang Mitha tangkap dari lelakinya.
"Tidak ada." gugup ditatap intens membuatnya memilih mengakhiri percakapan mereka.
"kau yakin?"
"Kenapa kakak terus menjelaskan dan ingin aku percaya?" tanya Mitha memburu kemudian. Mau ditahanpun dia tera ingin tau. Bukannya selama ini dia memilih diam dan mencoba tak peduli pada Elang. Dia juga tak butuh penjelasan apapun karena dia tau, hati pria itu bukan miliknya. Dia hanya punya raga tanpa rasa dari lelaki itu. Mengenaskan bukan?
"Kau istriku Paramitha. Kau harus percaya padaku." tegasnya penuh penekanan. Tatapan tajam itu juga terasa menghujam dada wanitanya yang tetap memilih diam sebagai reaksinya.
__ADS_1
"Hmmmm." balas Mitha tak lagi berkata.