
Elang berjalan mondar-mandir di ruang tamu penuh kegelisahan. Semenjak Bian melaporkan jika dua sahabat itu pergi berboncengan meninggalkan kantor Abimana crops, yang dilakukan Elang hanya terus melihat gerbang dan jam tangannya bergantian. Menghitung menit demi menit andaikata mereka berjalan pulang.
Sudah pukul 7 malam, namun tak ada tanda-tanda Mitha kembali ke rumah. Orang suruhannya yang ditugaskananya malah kehilangan jejak istri cantiknya itu. Elang makin tidak tenang. Dia bahkan sampai mengutus Bian ikut mencari keberadaan Mitha. Aahhh...andai Mitha hanya sebatas istrinya, dia tentu tak sekalut sekarang karena orang tua mereka mempercayakan Mitha padanya. Tapi apa iya jika karena alasan orang tua mereka membuatnya secemas itu? Semua masih abu-abu.
Gerbang terbuka saat seorang satpam yang berjaga membukanya, sontak Elang berdiri menghampiri jendela yang memang sengaja tidak ditutup gordennya. Wajahnya kembali kuyu saat melihat mobil Bian yang masuk, bukan Mitha seperti harapannya. Semangatnya berakhir dengan duduk lunglai di sofa ruang tamu mewah keluarganya.
"Selamat malam tuan." sapa Bian saat hendak masuk ke rumah. Elang melengos kesal.
"Ini bukan jam kerja Bi." balasnya sengit. Dulu saat remaja memang hubungan keduanya sangat baik karena Bian adalah kakak kelasnya. Meski dari keluarga tidak mampu, otak Bian berada diatas rata-tata hingga mendapat beasiswa dari perusahaannya kini. Bian bisa sekolah disekolah yang sama dengannya juga karena kebaikan papanya. Andai dulu dia tidak lari ke luar negeri, tentu mereka akan kuliah bersama dikampus ternama yang sama.
"Tenanglah, sebentar lagi adikmu akan pulang." Perkataan Elang disambut baik oleh Bian yang pintar membaca peluang. Seperti kesepakatan mereka, Bian hanya akan bersikap formal pada jam kerja. Selebihnya ya biasa saja tanpa meninggalkan adab.
"Dia istriku." desis Elang tak terima.
"Istri? udah pernah begituan belum? ntar kalau diduluin tuan muda keluarga yang onoh baru deh nangis kejer." ledek Bian santai. Awalnya hanya niat bercanda dengan menggodanya, tapi yang dia dapat malah wajah marah Elang yang mengerikan. Bian mencoba menebak-nebak kejadian sesunguhnya.
"Bukan urusanmu!" geram Elang menahan amarah. Bian hanya mengangkat bahu, tak berniat menyambung acara menggodanya. Bos barunya itu sedang sensitif rupanya.
"Kapan dia pulang?"
"Masih dijalan. Paling juga lima belas menitan sampai."
"Bagaimana jika melebihi 15 menit seperti perkiraanmu? apa kau mau tanggung jawab?"
"Potong saja gajiku." tukas Bian mantap. Mau tidak mau dia harus mulai menghitung detik demi detik jika ingin menang.
"Bagaimana jika aku benar?"
__ADS_1
"Khusus bulan ini aku memberimu kompensasi dua puluh lima persen dari gajimu." balas Elang tak mau kalah. Sebenarnya tanpa taruhan inipun Elang memang berencana memberikan bonus pada Bian karena sudah melatih Gea agar layak jadi asisten istrinya.
"Tawaran menarik. Dan aku yakin kau akan kalah." kata Bian penuh percaya diri.
"Sama siapa?"
"Ya Gea lah. Memangnya kamu pikir dia akan pulang bersama tua muda yang onoh?"
"Bi please...aku tuh lagi nggak mau bercanda." tegas Elang. Moodnya sudah hancur berantakan malam itu.
"Ohh oke..sebaiknya aku pulang saja."
"Tetap disana dan jangan pernah berpikir pergi dari sini tanpa ijinku, Bi. Aku tidak akan segan...."
"Memecatku bila aku melawan??" potong Bian cepat. Dia sudah hafal diluar kepala akan ancaman Elang. Kebal malah.
"Ya lantas aku mau apa disini hemm?? menemani pria galau ini?" ujarnya terkekeh.
"Itu salah satunya."
"Berarti masih sembilan puluh."
"Maksudmu??" kali ini Elang dibuat penasaran juga.
"Bukannya tadi kamu bilang salah satu? artinya dapat 90."
"Astaga Bian!! kita ini sudah bukan anak sekolah lagikan? Jadi bersikaplah sepeerti pria dewasa.
__ADS_1
Perdebatan sengit mereka pasti akan terus berlanjut jika tak melihat sepeda motor matic memasuki halaman. Sontak keduanya menatap keluar. Gea turun dari boncengan dan berdiri menunggu Mitha memasukkan motornya ke garasi samping rumah.
"Apa kubilang? benarkan mereka pulang."
Mitha memasuki rumah setelah mengucapkan salam. Gea mengikutinya dari belakang.
"Dari mana saja?" Mitha menengadahkan wajahnya.
"Jalan-jalan sebentar ke mall."
"Nggak bisa pamit duluan gitu? lupa kalau sudah punya suami?" Mitha hanya menatap nanar Elang dengan ekspresi tak terbaca.
"Maaf." balasnya kemudian. Ada Gea dan Bian disana, dia tak ingin bertengkar.
"Sudahlah." pungkas Elang juga tak ingin memperpanjang masalah.
"Gea akan tidur disini malam ini." ujar Mitha memimpin Tatapan Elang beralih pada Gea yang memundukkan kepalanya dalam. Salah tingkah. Andai dia tak menuruti ajakan Mitha tadi, mungkin dia tidak menghadapi situasi sulit sesulit ini.
"Dia anak gadis, tak boleh menginap dirumah orang lain semaunya."
"Tapi mas..."
"Bi, antarkan Gea pulang." Bian sudah berdiri setelah mendengar perintah sang tuan.
"Ayo!" dan tanpa menunggu perintah dua kali sekretaris tampan itu menggandeng tangan Gea keluar rumah.
"Mas jahat!!" pekik Mitha lalu berlalu ke luar rumah.
__ADS_1