Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tegang


__ADS_3

Ruang meeting dengan nuansa alam milik Abimana grup yang biasanya terasa sejuk sekarang berubah panas. Enam pasang mata yang hadir disana menampilkan raut masam dengan rahang mengeras atau wajah datar penuh penekanan. Tak terkecuali Tan Saiuw An. Pria muda itulah yang paling parah menahan emosinya hingga giginya bergemletuk karenanya. Sedang Bian, sang penyebab masalah malah memasang wajah tak berdosa.


"Aku tak akan segan menghancurkanmu karena menghina ibuku!" gertak tuan Tan. Tapi Bian malah mengangkat bahunya cuek.


"Anda yang mulai melalukan penghinaan lebih dulu. Apa anda lupa soal syarat tadi? kalau tak laku menikah setidaknya jangan menganggu istri orang." jawab Bian asal. Ingin rasanya Tan mendekat dan menghajarnya. Tapi dia cukup sadar jika berada di kantor orang. Dia juga yang memulai masalah dengan menginginkan one night stand dengan Paramitha. Pria itu tak ingat jika yang dia hadapi adalah pria-pria yang usianya jauh diatasnya. Tentu saja dengan jam terbang yang lebih tinggi dari dirinya. Mereka berdua juga amat pintar berekspresi dan menarik ulur emosi saat menghadapi klien.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu Bian Ardiansyah. Tunggulah saat itu tiba." kembali sebuah ancaman keluar dari bibir Tan. Kali ini pria itu segera berdiri diikuti Sindy yang sigap menyusulnya.


"Kalau begitu selamat menghitung tuan, catat sekalian bunganya agar anda puas." Tan sudah bergerak mendekat untuk memberikan Bian pelajaran garis keras jika sebuah tubuh tegap tak menghalanginya. Rupanya sang CEO pasang badan demi sekretarisnya.


"Anda mau apa?" Tan sedikit menengadah memandang Elang yang memang lebih tinggi darinya. Matanya memincing.


"Memberi sekretaris anda pelajaran." jawabnya tegas kembali dengan ekspresi dinginnya. Pria kelas atas sepertinya memang mudah tersinggung. Apalagi baginya seorang ibu adalah pahlawan yang tak boleh ternoda oleh apapun.


"Itu tidak perlu. Segeralah pergi sebelum kesabaran saya habis." gertak Elang membusungkan dada. Andai saat itu dia tak memakai jas, tentu dada bidang dan otot-ototnya akan terlihat sempurna. Apalah arti seorang Tan jika dihadapkan dengan CEO Abimana grup yang mantan atlet bela diri juga pemegang sabuk hitam karate.


"Saya tidak suka ada orang yang menghina mama saya. Apa anda sedemikian tak peduli pada hal seperti itu? bagaiman jika ibu anda yang dihina seperti sekretaris anda menghina mama saya tadi?" Elang gantian menatap presedir Redstar itu tajam.

__ADS_1


"Dan bagaimana jika istri yang anda cintai direndahkan orang lain? walau kami belum dikaruniai keturunan, tapi dia juga calon ibu bagi seorang anak. Anda tak ada bedanya dengan Bian, jadi tolong jangan membuat keributan dengan saling olok atau mengajukan syarat tak masuk akal seperti tadi karena saya ini seorang suami...bukan mucikari." tegas Elang dengan suara amat rendah hingga menyerupai ancaman.


"Kau memang bukan mucikari, tapi kau pria flamboyan tak punya perasaan yang mempermainkan hati perempuan." Sindy yang sedari tadi diam jadi angkat bicara.


"Hati siapa yang kupermainkan? kamu?" Elang terkekeh merasa lucu, tapi yang tertangkap adalah aura dingin yang jahat hingga Tan pun dipaksa diam karenanya.


"Ya. Kau!!" tuding Sindy penuh kemarahan. Tubuhnya hingga bergetar menahan amarah.


"Apa tak terbalik? kau bahkan sudah hamil anak Leo saat kita masih pacaran." sengit Elang diliputi kemarahan. Mitha segera mendekat, mencekal lengan kiri suaminya.


"Mas, sudah...biarkan mereka pergi." lirih Mitha penuh harap. Elang melirik dua tamunya bergantian.


"Bi, antarkan tuan Tan dan sekretarisnya keluar." Perintahnya sebelum menarik tangan Mitha keluar ruangan, naik ke lantai atas.


"Mas mereka...."


"Sssttt...biarkan Bian yang menanganinya." bisik Elang sebelum pintu lift tertutup.

__ADS_1


"Aku takut orang bernama tuan Tan itu menaruh dendam mas." lirih Mitha. Elang segera mendudukkan istrinya di sofa ruangan mereka.


"Dendam atau tidak, itu bukan urusan kita Mitha. Pasti ada persaingan dalam dunia bisnis. Masuknya Sindy ke dalam sekuad mereka juga wajib kita waspadai mengingat dia tau persis cara kerjaku."


"Kau benar bos." potong Bian yang barusan masuk ke ruangan CEO itu.


"Sindy pasti punya maksud lain. Dia juga terlihat dendam padamu." lanjutnya sambil duduk di singel sofa di depan Elang dan Mitha.


"Tetap awasi mereka Bi, kita juga harus fokus pada proyek Abimana karena sebentar lagi ada peluncuran produk baru."


"Baik bos." balas Bian. Mereka berdiskusi sejenak hingga Gea masuk membawakan teh hangat dan meletakkannya di meja.


"Ge, sini sebentar deh." ucap Mitha menunjuk sofa kosong disamping Bian. Gadis itu tak serta merta duduk, tapi malah menatap Bian yang juga balik menatapnya.


"Kenapa? toh kita tidak duduk satu sofakan? kalau mau duduk ya duduk saja." serang Bian hingga mau tak mau Gea segera duduk. Bagaimanapun dia cuma sekretaris junior dibawah arahan Bian sebagai sekretaris utama disana. Diluar jam kerja mungkin dia akan bersikap keras, tapi di jam kerja seperti sekarang...bersikap menurut mungkin lebih baik untuk karirnya dimasa depan.


"Baik pak." ucapnya lembut.

__ADS_1


"Tumben nggak kayak tarzan." sengit Bian membuat Gea mengepalkan tangannya. Selalu saja pria ini yang cari gara-gara.


"Mau sampai kapan kalian bertengkar hemm?? kita disini mau kerja!" sontak semua diam. Elang langsung menarik nafas panjang lalu mulai sesi diskusinya.


__ADS_2