
Jemari Mitha masih terus saling memilin saat kedua pria berbeda generasi di depannya itu menatap padanya dengan tatapan tak terbaca. Tiba-tiba kakek Hans tersenyum lebar.
"Kemari nak." panggilnya agar Mitha mendekat. Sontak istri Elang itu bangkit dari duduknya lalu beringsut mendekati sang kakek. Berlahan dia bersimpuh di dekat suaminya. Tangan sang kakek terulur membelai kepalanya.
"Kupercayakan cucu kesayanganku padamu paramitha putri pratama abimana. Jagalah dia seperti kau menjaga dirimu. Jangan pernah meninggalkan dia sendirian walau suatu saat nanti kalian diterpa kerasanya badai kehidupan. Ingatlah nak, badai pasti berlalu. Diujung sana, tangan suamimulah yang akan menggapaimu. Tetaplah bersama. Berjanjilah pada opa." ungkap kakek Hans dengan tatapan lembut. Mitha menoleh pada suaminya. Dia sudah berjanji pada almarhumah mama Maria untuk selalu mendampingi Elang. Janji yang terasa amat berat saat sudah dijalaninya. Apa sekarang dia harus berjanji pada kakek Hans untuk mempertahankan sebuah hubungan yang dia sendiri tak tau bagaimana nasib hubungan itu dimasa depan? sikap Elang sudah membuatnya gamang.
Elang yang semula menatap lurus sang kakek mengalihkan pandangannya ke arah Mitha yang juga memandangnya tanpa kedip. Tangan kekarnya bergerak cepat mengenggam jemari Mitha yang kembali terkaget dan membulatkan matanya. Tapi laki-laki itu seolah tidak peduli. Dia malah kembali menatap lurus sang kakek.
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya opa. Baik dalam kondisi susah maupun senang, sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin. Dia akan tetap disampingku hingga Allah memanggil salah satu diantara kami untuk pulang kepangkuannya." ucap Elang tanpa keraguan. Lagi dan lagi iris mata kecoklatan Mitha melebar. Apa yang dibilang Elang tadi serius? atau hanya untuk menyenangkan opanya saja seperti saat dia berjanji di depan mama Maria kala itu? pikiran Mitha berkecamuk. Dia tak ingin besar kepala atau berangan-angan terlalu tinggi pada hubungannya dengan Elang. Setidaknya dia tidak menipu dirinya sendiri untuk terus berharap. Sebuah remasan lembut menyadarkan wanita muda itu dari lamunannya.
"Ohh...ehmm...saya..." salah tingkah karena terlalu gugup. Itulah yang terjadi pada Mitha kali ini. Sungguh dia jadi merasa tidak enak hati. Di depannya, kakek Hans masih menatapnya intens.
__ADS_1
"Tinggal kau yang belum berjanji." tekan kakek Hans datar. Lagi-lagi Mitha gamang.
"Apa kau tak ingin melihat pria tua yang sedang bermuram durja ini tidur nyenyak karena sudah melaksanakan permintaan terakhir putrinya?" lanjutnya lagi tanpa ekspresi. Mitha menegakkan tubuhnya. Meraih tangan sang kakek lalu meletakannya diatas kepalanya bak adegan sinema India.
"Saya berjanji opa. Saya akan tetap berada disisi mas Elang hingga dia sendiri yang menyuruh saya pergi dari kehidupannya." kata Mitha lirih, namun tak kalah tegas dari janji yang keluar dari bibir suaminya. Janji yang amat singkron dengan pendiriannya. Bukankah dia hanyalah makmum dalam ibadah rumah tangga mereka berdua? Kewajibannya hanyalah mengikuti apa kata sang imam. Mau dibawa kemana hubungan itu juga tergantung pada imamnya. Seperti halnya dirinya yang sudah pasrah pada takdir sang raja manusia.
"Baiklah. Sekarang ikut opa." pria tua itu segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ruang kerjanya yang sangat luas dan nyaman. Elang dan Mitha hanya mengikuti dari belakang.
"Duduklah. Ini adalah surat kepemilikan atas saham dan juga aset Larsons company. Aku sudah membaginya secara adil menjadi dua. Satu untuk Maria, dan satu untuk Malika. Karena Maria sudah berpulang maka kaulah pewaris satu-satunya yang berhak menerimanya. Tanda tangani ini Lang."
"Diam dan lakukan perintah opa. Kau mungkin tidak membutuhkannya. Tapi cicit opa pasti memerlukannya." kata Hans amat tegas tak terbantah. Elang menandataganinya tanpa kata. Tangannya terasa bergetar saat melihat nominal yang terpampang disana. Dia amat tau jika Larsons company adalah perusahaan raksasa, tapi sama sekali tak menyangkan jika aset totalnya sebesar itu.
__ADS_1
"Meski kau tinggal di Indonesia seperti permintaan mamamu, dan meski Richard akan menjadi CEO tunggal di perusahaan, kau dan dia punya hak yang sama. Dan kau akan tetap mendapatkan keuntungan perusahaan tanpa harus memikirkannya. Fokus saja pada perusahaanmu disana." mata Elang berkaca. Secepat itu sang kakek bertindak. Dia bahkan sudah melihat aunty Malika lebih dulu membubuhkan tanda tangannya disana.
"Tapi papa??"
"Papamu akan tetap disini hingga opamu berpulang." lanjutnya mantap.
"Tapi opa..."
"Nak, pria tua ini hanya ingin melihat keluarganya berkumpul dimasa tuanya. Andai Maria tak menyuruhmu menetap disana..."
"Mama sudah jatuh cinta pada Indonesia opa." desisnya sebelum air mata jatuh dipipi sang pria tua. Kakek Hans tergugu.
__ADS_1
"Lahirkan seorang cicit untuk opa." lirihnya namun bisa membuat Elang membeku.
"Dan saat itu...pria tua ini akan datang dinegara yang dicintai putrinya untuk mengendong cicit pertamanya." kali ini baik Elang ataupun Mitha berlari memeluk sang kakek yang terus menangis menatap foto Maria.