Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Resto


__ADS_3

"Mas, nanti cepat pulang kan? Nggak lembur kan? Jangan mampir kemana-mana. Aku tuh pengennya mas cepetan pulang." Mitha yang biasanya hanya bicara seperlunya dipagi hari sudah merubah kebiasaannya pagi itu. Dari bangun tidur tadi yang dia katakan cuma agar Elang tak berlama-lama di kantor, jangan mampir, cepat pulang. Kata itu terus diulang-ulang hingga Elang capek menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Tapi melihat suaminya diam malah membuat jiwa bumil itu kesal. Bibirnya bahkan sudah maju beberapa senti dengan wajah cemberut saat memakaikan dasi di leher sang suami. Elang menarik nafas panjang. Rupanya mulai sekarang dia harus menyiapkan stok kesabaran unlimited setiap harinya. Kuotanya juga mesti penuh, nggak setengah-setengah lagi.


"Sayang, aku kan sudah bilang bakalan cepat pulang. Jangan cemberut saat suami mau berangkat kerja. Harusnya tuh malah senyum, di doakan yang baik-baik biar dapat rejeki berlimpah." nasihat si pria dengan sabar. Tangan besarnya mengelus pipi kanan sang istri.


"Kamu maunya apa hemm?? bilang saja." Mitha menundukkan wajahnya, tak sanggup menatap kedua bola mata sehitam jelaga suaminya.


"Mitha....." Elang tak ingin meninggalkan istrinya dengan mood buruknya. Ada calon bayi mereka yang harus dipikirkan juga di dalam perutnya.


"Aku ingin ikut mas...nggak kerja. Cuma mau ikut mas saja." Elang menarik sudut bibirnya. Istrinya terlihat takut saat berkata. Kepatuhannya memang patut diacungi jempol. Mitha tak pernah menolak permintaannya, juga membantah perkataannya. Apa Elang terlalu tak punya hati padanya?


"Hmmm..baiklah. Ganti baju sana. Mas tunggu kamu kok." bisiknya. Mana dia tega menolak? Mitha telihat amat manis dengan mata penuh harapnya.


"Beneran mas?" lihatlah, sekarang iris coklat terang itu melebar diikuti deretan gigi putihnya yang terpampang sempurna. Sepertinya dia amat bahagia meski dengan hal kecil seperti itu saja.


"Ya. Tapi jangan lama-lama. Ada meeting pagi ini." Tanpa menjawab, Mitha sudah melesat ke arah lemari, mengambil gaun selutut dan memakainya. Rambut sebahunya diikat asal lalu bergegas menghampiri suaminya yang masih memakai sepatunya.

__ADS_1


"Aku sudah siap." katanya bersemangat. Elang hanya melongo melihat penampilan istrinya. Paramitha mengajaknya berangkat? dengan baju seadanya, rambut awut-awutan, tanpa make up juga....ahhh...sandal rumahan yang lucu dengan aksen bebek diatasnya. Elang menggelangkan kepalanya, heran.


"Kenapa mas?" Mitha yang melihat tatapan suaminya juga ikut terheran-heran.


"Kamu...sayang apa kamu yakin mau berangkat?" Mitha langsung cemberut mendengarnya. Dia tau Elang tak menyukai penampilan anehnya. Tatapannya saja meremehkan. Dasar laki-laki!


"Mas Elang nggak suka ya sama dandanan Mitha? belum apa-apa juga mas sudah tak suka. Bagaimana jika nanti perutku makin besar, tubuhku melar, wajahku jadi jelek....."


"Sssssttttt....." Elang menempelkan telunjuknya di bibir Mitha yang masih mencebik kesal. Dia menatap dalam istri kecilnya lalu membimbingnya ke depan meja rias. Pria tampan itu mengambil sisir dan mengikat rambut Mitha rapi, lalu mengambil bedak dan memulaskannya tipis-tipis di wajah ayu istrinya.


"Tetaplah rapi meski kau tak lagi bekerja di kantor kita. Aku tak ingin ada wanita lain yang melebihi kecantikanmu Paramithaku." Wajah Mitha merona. Tangan kanannya meraba kesamping, mengelus kepala suami tampan rupawannya yang sudah meletakkan kepalanya di dagunya amat mesra. Mitha tersenyum lebar. Wanita mana yang tak suka diperlakukan begitu lembut dan di hujani banyak perhatian dan cinta dari suaminya?


"Sekarang ayo berangkat." Dan Mithapun berdiri, menggandeng lengan Elang amat mesra.


"Nggak sarapan dulu mas?" Heran juga melihat Elang melewati meja makan begitu saja. Tapi tampaknya Elang sengaja melakukannya.

__ADS_1


"Aku menyuruh bik Sri agar tak memasak untuk kita pagi ini. Aku ingin mengajakmu sarapan di luar." Lagi-lagi so sweet bangetkan? tau saja kalau istrinya bosan masakan rumah.


"Sarapan dimana mas?" tanya Mitha penasaran. Wajah Elang terlihat amat bahagia hari itu.


"Resto baru Bian." katanya ringan. Mitha segera mencekal lengan suaminya hingga langkah Elang tertahan.


"Kak Bian?" ulangnya tak percaya. Tapi Elang mengangguk penuh semangat membuat Mitha ikut tersenyum karenanya.


"Ya....Nageya resto. Resto makanan sehat dan harga terjangkau milik Bian. Kita wajib mencobanya sayang." Nageya? sepertinya nama itu terdengar familiar ditelinga Mitha. Tapi dimana?


"Kok kak Bian buka resto sih? siapa yang ngurus mas?" Tentu Mitha bingung karenanya. Bian saja sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, mana dia ada waktu untuk mengurus bisnis resto itu nanti?


"Ya calon istrinya."


"Calon istri? siapa? pacar saja tak punya. Jangan bilang kak Bian nikah kontrak ya? atau dijodohkan...kak Bian tak akan setuju." ujar Mitha menduga-duga.

__ADS_1


"lihat saja nanti."


__ADS_2