
Zahra sudah berdandan modis dengan celana jeans, baju dan jilbab kekinian ditambah Ikacamata hitam yang bertengger manis diatas kepalanya. Tanpa dandan begitu juga Zahra juga termasuk golongan cewek cantik tapi jomblo akut. Hingga umurnya 23 tahun dia masih saja betah sendiri. Bukan pilih-pilih, tapi lebih pada Zahra yang malas ribet karena tidak bisa mengatur jam kerja dan pacaran yang menurut versinya malah bikin pusing. Tiap hari dalam hidupnya hanya kerja..kerja...kerja!
Raut bahagia terpampang jelas diwajah ayunya senada dengan mama Maria yang juga terlihat anggun dalam balutan dress panjang keluaran brand ternama yang senada dengan kemeja sang suami yang juga tak kalah gagah disampingnya. Hari ini mereka akan ke London mengunjungi opa Hans.
Ada ketegangan di wajah Abi. Ini pertama kalinya dia menemui mertuanya setelah membawa lari dan menikahi putri sulung tuan Hans tanpa ijin. Tentu saja ada sedikit kekwatiran dihatinya. Tapi Maria yang bijak terus menenangkannya dan mengatakan jika papanya mungkin keras diluar, tapi lembut di dalam. Papanya adalah pria penyayang.
Elang membukakan pintu untuk orang tuanya lalu menutupnya begitu mereka masuk. Tak dia hiraukan Mitha yang berdiri disampingnya. Melihat Zahra yang sudah masuk lebih dulu dan duduk dibangku belakang sambil memaninkan ponselnya membuatnya ingin menyusul sahabatnya itu. Bergegas dia membuka lagi pintu didekat Maria duduk.
"Lho Mith ..ngapain?" tanya sang mama heran.
"Mau duduk sama Zahra mah." jawabnya masih berharap mendapat ijin dari mama cantiknya itu. Baginya duduk dengan Elang tanpa perintah adalah bentuk ngeyel yang berlebihan, dan dia tidak butuh itu.
"Sana duduk sama suamimu!" perintah Abi tegas dan tak terbantah. Mitha menundukkan kepalanya lalu kembali menutup pintu.
Dengan gerakan lamban dia duduk disebelah Elang yang tersenyum mengejek menatapnya. Perasaan sebal itu kian terasa. Tak ada pembicaraan kecuali papa mama mereka yang sibuk bernostalgia dan saling menghibur pasangannya. Zahra lain lagi, gadis itu malah sibuk selfi dan posting sana sini. Kapan lagi bisa naik mobil mewah walau di jok paling belakang?
Hanya butuh satu jam lebih untuk sampai di bandara. Mereka kembali disibukkan dengan barang bawaan orang tuanya. Mitha sibuk dengan paper bag untuk oleh-oleh sang kakek ,sedang Elang juga disibukkan dengan koper papa mamanya hingga pemberitahuan pemberangkatan membuat mereka berpisah dengan adegan saling peluk.
"Lang, jaga Mitha. Sekarang dia bukan hanya adikmu, tapi juga istrimu." bisik Maria saat Elang memeluknya.
__ADS_1
"iya ma." jawaban singkat itu sudah membuat Maria tenang. Dia cukup tau watak putra satu-satunya itu. Jika sudah berkata-kata, dia akan berusaha menepati janjinya.
"Jangan bersikap seperti anak kecil. Ayo pulang!" Mitha hanya pasrah dengan hardikan Elang. Apa salahnya dia bersedih ditinggal orang tuanya ke London walau sering kali begitu tiap mereka mengunjungi Elang. Pelan, dia memaksa berjalan mengekori suaminya itu.
"Lang." panggil seseorang yang langsung berlari dan memeluk mesra suaminya. Mata Mitha membola.
"Yang...ngapain disini?" tanya Elang dengan ekspresi kaget. Ekor matanya melirik Mitha yang menatap Sindi dan dirinya terkejut.
"Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu disini?" balas wanita cantik tadi yang ternyata Sindy.
"Ngantar papa mama, mau ke London." sahutnya tanpa niat melepaskan pelukan Sindy pada dirinya.
"Owwh...kamu bukannya kurir yang waktu itu ya? adik Elangkan? apa kabarmu dek?" sapanya ramah sambil mengulurkan tangannya. Mitha mencoba tersenyum dan menjabat tangan halus itu hangat.
"Aku baik kak."
"Habis ini kalian mau kemana?"
"Mau antar bocah ini ke kampus trus ngantor. Kamu?" apa dia bilang tadi? bocah? Ingin rasanya Mitha berteriak tidak terima dikatakan bocah oleh suami sendiri. Dia bukan lagi bocah. Umurnya sudah dua puluh tahun, lebih sedikit malah. Tapi ....pantaslah dia disebut bocah, bukannya yang berdiri dihadapannya sekarang adalah om-om dan tante-tante gatel yang membuatnya jengah. Panggil yang-yang, peluk-peluk...Tak tau malu!
__ADS_1
"Gimana kalau kita sarapan dulu di kedai langganan kita?" tawar sindy pada Elang yang terus tersenyum lebar padanya. Sudut hati Mitha berdarah. Senyum itu...kenapa dia tak pernah mendapatkannya? Bukannya dia istrinya, tapi selalu bersikap dingin padanya? sedang dengan perempuan lain, pria itu malah bersikap mesra dan care.
"Ide bagus. Yuk!" ajak Elang antusias. Dia melangkah lebih dulu diikuti Sindy yang langsung menjajari langkahnya dan berceloteh riang, melupakan Mitha yang masih terpaku ditempatnya.
"Apa aku tak seberharga itu untukmu kak?" batin Mitha pedih. Kekecewaan membuatnya mengambil langkah menuju arah berlawanan dari pasangan yang terlihat bahagia itu.
Entah kemana kaki ini membawanya pergi. Dia hanya mengikuti kata hati untuk melangkah dan terus melangkah hingga sampai pada sebuah tempat yang amat tak asing baginya. Bangunan kecil yang dipenuhi suara berisik anak-anak yang riang gembira. Berlahan dia masuk kesana.
"Lihat ..ada bu guru Mitha." pekik seorang anak yang mengundang perhatian teman-temannya. Mereka berhamburan ke arah Mitha dan menyalami punggung tangannya bergantian. Hari ini memang waktunya pelajaran out door.
"Bu Mitha mau ngajar kami lagi?" sapa seorang anak bertubuh gemuk nan lucu. Mitha menggelang pelan.
"Bu Mitha masih sangat sibuk, jadi belu bisa mengajar kalian lagi. Maafkan ibu ya ..." serentak anak-anak itu mengiyakan lalu bubar berlahan karena dipanggil pengajarnya yang tak lain adalah Gea dan ibunya. Mitha segera mengikuti mereka dan bersalaman dengan mamanya Gea.
"Mith...tumben datang? sama siapa?" tanya Gea gembira. Sebenarnya dia kangen Mitha dan Zahra tapi mereka punya kesibukan ekstra akhir-akhir ini hingga jarang punya waktu bertemu. Yang paling sering cuma chatting.
"Aku....haahhh!! Oohhh ya Ampun...aku lupa membawa dompet dan ponselku!" pekik Mitha panik. Dia terlalu bersemangat saat akan mengantar orang tuanya tadi hingga melupakan tas selempangnya yang tertinggal di ruang tamu. Dasar ceroboh....makinya dalam hati.
"Udah..jangan sok panik gitu, nanti juga kuantar pulang." balas Gea cuek.
__ADS_1