
"Kalian sudah selesai belanjanya?" Elang segera merangkul tubuh Mitha yang makin berisi. Pria tampan itu tak malu mencium pelipis istrinya di tempat umum sebagai tanda cintanya. Mereka memang sudah janjian di lantai dasar tadi. Di belakangnya Bian berdiri tegak dengan pandangan mengarah pada Gea. Tatapan mata yang teduh hingga Gea dibuat salah tingkah karenanya. Apalagi saat dia melirik bibir padat Bian yang menggoda. Ciuman tadi pagi kembali melintas di otaknya. Bibir itu...ahhh...Gea menggeleng frustasi lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sudah. Aku hanya belanja sedikit mas. Selebihnya kami hanya jalan-jalan dan makan saja. Sayangnya Zahra nggak bisa ikutan." Suara Mitha terdengar manja, tak seperti biasanya. Tapi Elang malah mengelus kepalanya penuh kasih sayang.
"Sayang, Zahra itu sekarang sudah jadi nyonya muda keluarga Renaldi. Perusahaan mereka juga sedang ada masalah karena peralihan CEO. Andra harus lebih banyak menyelesaikan masalah awal sepertiku. Zahra juga lagi hamilkan? mungkin dia harus banyak istirahat." Nasihat Elang penuh kesabaran. Gea jadi ikut terdiam melihat mantan bosnya itu bersikap selembut itu pada Mitha. Siapa sangka orang sedingin es seperti Elang juga bisa bersikap hangat?
"Mau pulang sekarang?" tawar Elang juga masih dengan nada kalemnya. Mitha mengiyakan.
"Bi, Ge... kalau begitu kami pulang duluan ya."
"Baik bos." jawab Bian patuh. Mitha memeluk Zahra sebelum pergi dan melambaikan tangannya. Tinggalah Bian dan Gea disana.
"Sini belanjaannya." Bian meraih paperbag yang dipegang Gea. Hanya beberapa saja hingga Bian mengerutkan keningnya.
"Apa saldonya tak cukup?" tanyanya memastikan. Gea menggeleng. Nominal dalam ATM Bian bahkan diluar epektasinya hingga dia tak berani memakainya jika bukan karena dorongan Mitha.
"Lalu kenapa hanya beli segini?" Bian memincingkan matanya, memastikan belanjaan istrinya yang mungkin hanya empat potong baju saja. Padahal bukan itu yang dia harapkan.
"Itu...saya masih punya beberapa baju panjang dirumah pak. Saya hanya beli beberapa potong hijab instant untuk pasangannya saja." Gea jadi tak enak hati. Dengan tangan bergetar dia mengulurkan kartu itu pada Bian yang malah melotot menatapnya.
"Untuk apa dikembalikan? Itu untukmu." Tangan Bian mendorong tangan Gea, menolak kartu itu.
"Tapi pak..."
__ADS_1
"Baik jika kau tak mau beli. Tak masalah. Aku bisa membelinya via online. Mari pulang." ajaknya lalu mengajak Gea ke parkiran.
"Sepeda saya mana pak?" Tentu saja Gea bertanya. Bukannya tadi mereka berangkat naik motornya? Sekarang malah mau pulang naik mobil Bian.
"Sudah kusuruh OB membawanya pulang. Naiklah." Lagi-lagi Bian bersikap manis, membukakan pintu mobil untuknya. Mereka melaju dalam diam.
"Lho pak...kita mau kemana lagi? tikungan rumah saya sudah terlewat tadi." Gea berusaha mengingatkan Bian yang mungkin saja lupa jalan menuju rumahnya. Tapi bukannya mengerem, Bian malah kembali melajukan mobilnya, membuat Gea jadi merengut sebal karena merasa tak dianggap.
"Pak, ini perumahan elite lho. Bapak mau apa kesini? Disana ada rumah Andra lho pak." Gea yang kesal malah sibuk mengguncang lengan Bian yang masih fokus pada jalanan. Pria itu memperlambat laju kendaraannya, menekan klakson dan memasuki gerbang sebuah rumah yang seketika dibukakan oleh seorang satpam.
"Ayo turun." katanya sambil melepas seatbeltnya. Tangannya juga dengan cekatan mengambil dua buah tas plastik yang malah tak sempat dilihat oleh Gea tadi saking sibuknya memperhatikan jalan, takut kesasar.
"Pak, kita mau kemana ini?" Gea melangkah ragu dibelakang Bian yang dengan serta merta meraih telapak tangannya dan menggandengnya.
"kita?" ulang Gea dengan nada ragu. Rumah bagus ini?
"Ya, ini rumah kita. Ayo masuk. Ibu sudah menunggu kita di dalam."
"Ibu?" Gea nyaris seperti orang bodoh sore itu. Saat Bian menekan bel, pintu utama terbuka, menampilkan seorang wanita akhir empat puluhan yang tersenyum ramah pada mereka.
"Selamat sore pak, bu..." sapanya ramah.
"Sore juga mbak. Oh ya..ini istri ssaya, Gea. Dan dek...ini mbak Wati, asisten rumah tangga kita." Gea segera menyalami mbak Wati dan membalas senyum ramahnya.
__ADS_1
"Ibu dimana mbak?"
"Sepertinya bu Asih masih di kamarnya pak."
"Hmmm..baiklah. Lanjutkan pekerjaan mbak Wati, kami mau ke kamar ibu dulu." Bian yang tak mau melepaskan tautan tangannya mengajak Gea ke kamar ibu mereka. Rumah itu ternyata luas walau hanya dibangun dua lantai saja. Tapi terasa nyaman dan asri dengan desain minimalis modernnya. Ada empat kamar disana, tiga di depan dan satu dibelakang. Rupanya kamar itu ditempati mbak Dewi dan suaminya yang bekerja menjadi satpam tadi. Maka itu diletakkan terpisah dan punya akses langsung keluar rumah lewat samping untuk mempermudah keluar masuk ke pos.
"Mungkin ibu sedang istirahat pak, sebaiknya tak usah menganggunya." Gea segera mencegah tangan Bian yang akan mengetuk pintu kamar mertuanya. Bian menurut.
"Ayo ke kamar kita." Ajaknya yang membuat Gea mematung disana. Bian yang gemas kembali menariknya memasuki kamar utama. Untuk sesaat Gea menatap takjub. Dia hanya anak dari keluarga sederhana yang hanya beruntung punya teman kaya raya seperti Mitha dan Andra. Rumah mewah keduanya pula yang pernah dia masuki. Tapi sekarang...dia juga punya rumah yang tak kalah bagus meski tak semewah milik mereka berdua. Tapi setidaknya Gea sudah sangat bersyukur karenanya.
"Ibu...bagaimana dia mau diajak kesini?" tanya Gea heran. Ibunya bukan tipe wanita yang mudah dirayu, apalagi diajak meninggalkan rumah kenangannya bersama ayah Gea. Pasti ibunya akan kukuh ingin tetap disana.
"Maafkan aku yang hanya bisa membawa ibu beberapa hari saja ke rumah kita. Tapi kita akan sering mengunjunginya nanti." Bian memasang wajah sedih dengan mata berkaca.
"Pak...pak Bian baik-baik saja?"
"Aku kehilangan ibuku sejak kecil dek. Aku sangat ingin membuat ibu tinggal disini...tapi beliau tidak mau." ucap Bian penuh sesal. Gea jadi ikut sedih mendengarnya.
"Ibu memang begitu pak. Biarkan saja, bapak benar, kita akan sering berkunjung. Toh jaraknya tak terlalu jauh." Gea mengenggam erat jemari Bian hingga Bian juga heran dibuatnya. Tapi sekretaris tampan itu memilih diam.
"Bisakah kau berhenti memanggilku pak? Juga melupakan bahasa saya anda? Panggil namaku saja." Gea menatap suaminya tajam.
"Ibu akan marah."
__ADS_1
"Ya sudah terserah kau mau memanggilku apa, asal bukan pak lagi."