
"Menangislah hingga beban itu berkurang, setelahnya, mari keatas." Dan Mitha menyusut air matanya cepat, lalu kembali berdiri tegak disamping Elang, ujung jemarinya mengusap jas di bagian dada Elang yang sedikit basah karena air matanya barusan.
"Maaf." ujarnya lirih. Elang tak menyahut, tangan kekarnya meraih jemari Mitha yang terasa dingin dan mengenggamnya.
"Ayo!" dan pria tampan itu menggandengnya memasuki bangunan tiga lantai itu dengan langkah ringan. Dua orang cleaning servis yang memang datang lebih awal menyapa mereka seraya menundukkan kepalanya penuh hormat. Elang dan Mitha mengangguk ramah membalasnya.
"Kakak ini....."
"Ini kantor pusat S&M. Kita langsung ke ruanganmu." Mitha hanya menurut mengikuti langkah Elang memasuki lift ke lantai tiga.
Ruangan yang luas menyambut mereka. Hanya ada sebuah kamar tertutup berukuran besar dan tiga buah kubikel yang berjajar rapi di luar ruangan itu dengan sekat terbuat dari kaca transparan.
"Kubikel ini tempat sekretaris, asisten dan kepala keuangan. Mari masuk ke ruanganmu." Elang seperti paham isi pikiran Mitha yang terus bertanya-tanya.
Memasuki ruangan besar itu, Mitha seakaj diingatkan pada sang mama. Foto wanita berdarah Inggris itu terpajang rapi di dinding ruangan. Tapi sang mama tidak sendiri. Seorang wanita Asia seperti dirinya berdiri disampingnya dengan gaya Elegan. Mata Mitha tak berkedip menatapnya.
"Dia mama Sarah, mamamu..mamaku juga." bisik Elang saat Mitha makin mendekat dibawahnya. Cantik...mamanya sangat cantik. Wanita itu bahkan sangat bersahaja dalam pose biasa saja.
"Bisa kita mulai fase belajarnya?"
"Apa kakak ada acara lain? atau membuat janji dengan orang lain?" tanya Mitha gamang.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Rasanya aku...aku sangat asing berada disini tanpa kakak." cicit sang gadis lemah. Dia seperti kehilangan keberanian yang dibawanya dari rumah. Sekarang dia bak wanita lemah yang butuh perlindungan dari seorang Elang yang dewasa, smart dan leadership. Elang mengusap kepalanya lembut.
"Seharian ini aku akan menemanimu disini." ada kelegaan tersendiri yang merambati jiwa Paramitha.
"Kakak....."
"hmmmm.."
"Jangan tinggalkan aku." dan senyum Elang sudah terkembang sempurna setelahnya.
"Never." bisiknya lagi lalu mulai menyalakan laptop di meja. Pria itu juga menarik kursi lain agar mitha duduk disampingnya.
Dua jam berlalu sangat cepat. Lihatlah, Mitha yang awalnya berkecil hati sudah mulai menguasai seluk beluk usaha mamanya karena Elang sangat pintar mengajarinya bak tutor profesional. Dia juga sangat sabar dan perhatian. Sikap yang amat bertolak belakang dari sikap awalnya saat bertemu Mitha. Beberapa kali gadis itu terkesima pada suami sempurnanya. Ya, sempurna dimatanya. Salahkah dia yang sangat mengagumi suaminya sendiri? hal yang bahkan sudah dia rasakan saat masih kecil.
"Sekretarisku?" ulangnya ragu. Siapa? apa Elang akan tetap memilih Sindy sebagai sekretarisnya? terasa canggung memang, walau Elang sudah menjelaskan jika tak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan wanita itu.
"ya." dan tanpa persetujuan Mitha, suaminya itu sudah mendial nomer paralel dari telepon kantor.
"Saya ingin anda bertiga datang keruangan saya, sekarang." ucapnya dengan nada rendah namun tegas. Mitha acap kali dibuat kagum karena sikap seorang Elang.
Tak berapa lama pintu diketuk dari luar. Elang langsung menyahut agar si pengetuk masuk. Pintu terbuka, seorang wanita dan pria paruh baya masuk bergantian dan berdiri berjajar di depan pasangan suami istri itu. Tangan kanan Elang menahan gerakan Mitha yang akan bangkit dari duduknya agar tetap berada disisinya.
"Selamat pagi tuan." sapa keduanya bersamaan. Elang tersenyum ramah. Ohh Tuhan..kenapa pria ini begitu hangat pada orang lain?
__ADS_1
"Perkenalkan, ini Paramitha putri pratama abimana, istri saya. Mulai sekarang dia yang akan memimpin disini menggantikan mama. Mohon kalian bimbing istri saya pak, bu... dan honey, ini ibu Dita..sekretaris mama yang alhamdulilah tak jadi resign karena bujukan mama tentunya. Dan ini adalah pak Roni, kepala keuangan mama juga. jelas Elang saling memperkenalkan. Mereka berjabat tangan bergantian. Mithalah orang yang paling lega karena dugaannya melesat. Untunglah bukan Sindy yang akan menjadi sekretarisnya. Apa tadi?? Honey?? Elang memanggilnya honey??? kenapa sekarang pipinya merona??
"Mama tau?" bisik Mitha.
"Ya. Aku yang bilang padanya agar membujuk bu Dita." Entah berapa kali Mitha harus bersyukur hari ini. Elang sudah banyak berubah dengan segala perhatiannya. Sikap yang amat manis.
"Tolong berikan laporan dan kosongkan jadwal Mitha hari ini ya bu Dita. Dia masih harus bertemu para staf dan karyawan agar bisa kenal dekar dan memantau kantor ini."
"Baik tuan muda."
"Baik, kalian boleh kembali." Keduanya mengangguk hormat lalu keluar dari sana.
"Kenapa harus bertemu mereka semua kak..aku...aku belum siap." keluh Mitha tertunduk lesu. Andai dia tau akan begini...tentu dia akan memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Ternyata menjadi pemimpin itu butuh persiapan dan mental baja.
"Kau harus siap. Mama sudah menyerahkan tanggung jawab ini padamu. Tenanglah, seminggu ini aku akan tetap menemani dan mengajarimu."
"Tapi pekerjaan kakak?" Tentu saja Mitha khawatir. Yang Elang pimpin sekarang adalah perusahaan besar yang punya ribuan karyawan. Bagaimana bisa dia bersikap egois menahan pria itu untuk menuntunnya dan mengabaikan pekerjaannya sendiri? belum lagi perusahaan rintisannya yang sangat membutuhkan kehadirannya.
"Aku bisa bekerja disini bersamamu. Biar Bian dan Sindy yang datang kemari jika perlu sesuatu."
"Kak...maafkan aku yang merepotkanmu."
"Ssttt...tak ada suami yang merasa direpotkan istrinya." kali ini tatapan Mitha berbeda. Bolehkah author menyimpulkan jika itu tatapan penuh cinta??
__ADS_1