
Disetiap bulannya, sang perwakilan dari benua Xie selalu datang kepada Yin Shi untuk meminta budak, sebenarnya Yin Shi tidak menginginkan itu, tapi apa boleh buat? Yang kuatlah yang berkuasa.
Sudah banyak upaya yang dilakukan Yin Shi untuk mencegah benua Xie yang terus-menerus memintai budak, hingga upayanya berhasil, dia berhasil membuat benua Xie mengambil 100 budak setiap bulannya, yang tadinya 1000 budak disetiap minggunya. Walaupun upayanya berhasil, Yin Shi tidak pernah merasakan bahwa upayanya berhasil, sebab pengambilan budak masih terus terjadi sampai saat ini juga, bila tidak dihentikan, bukan tidak mungkin penduduk benua Dongwu akan habis tak bersisa.
Yin Shi yang terus pusing memikirkan itu, merasakan perasaan lega saat sang juru selamatnya bilang akan menghentikan itu. Menurut kepercayaan para demi-human, ucapan sang juru selamat adalah mutlak, dan pasti akan terjadi.
"Tuan Xin, perwakilan benua Xie akan datang 1 jam lagi, apa tuan membutuhkan sesuatu untuk mempersiapkan pembicaraan kalian?" Yin Shi bertanya pada Xin Shuo yang sedang berdiri santai.
"Tidak ada Yin Shi, kau hanya perlu membiarkan kami berdua berbicara, tanpa menguping pembicaraan kami" Xin Shuo menjawab dengan senyuman hangat dan menenangkan.
"Baik tuan Xin, silahkan duduk disini, dan bila kau membutuhkan sesuatu, kau boleh bicara padaku" Yin Shi mempersilahkan Xin Shuo untuk duduk dikursi singgasananya, menggantikan dirinya.
Xin Shuo terlihat ragu-ragu, saat dipersilahkan oleh Yin Shi untuk duduk dikursi singgasananya. "Apakah aku benar-benar harus duduk disini? Aku itu hanya juru selamat, bukan raja"
Yin Shi tersenyum lega, sebab dia merasa bahwa sang juru selamatnya sangatlah sopan santun dan lemah lembut, membuat dia semakin percaya bahwa pemuda didepannya, benar-benar sang juru selamat. "Bagi orang lain, mungkin kedudukan raja lebih tinggi dari sang juru selamat, tapi bagi ku, kedudukanmu jauh lebih tinggi dariku, sangatlah jauh"
"Kau terlalu merendah tuan Yin, tapi bila itu keinginanmu, aku dengan terpaksa harus duduk dikursi kehormatan ini" Xin Shuo duduk dikursi itu dengan wajah yang seperti sedang dipaksa sesuatu.
Yin Shi terkekeh kecil melihat wajah Xin Shuo. "Hoho, kursi itu akan lebih terhormat bila diduduki olehmu"
Xin Shuo membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil.
Setelahnya, mereka terus berbincang-bincang bersama, dan kadang-kadang Dou Mao sang gadis kucing imut selalu datang untuk bersalaman dengan Xin Shuo, dia terlalu malu untuk berbincang dengan Xin Shuo, sehingga dia terus bolak-balik keluar dan masuk untuk menyentuh lengan Xin Shuo, Xin Shuo menanggapi itu dengan senyuman dan gelengan kepala.
Hingga setelah satu jam berlalu, seorang pria tua berjubah coklat datang, dengan tiga pengawalnya yang mengeluarkan aura kuat.
Yin Shi kehilangan senyumannya, lalu menyambut pria itu. "Halo tuan Nan Zhang" Yin Shi menundukkan sedikit kepalanya.
"Halo Yin Shi, aku datang untuk urusan yang seperti biasa" Pria tua bernama Nan Zhang itu melambaikan tangannya dengan santai.
"Tuan Nan Zhang, sebelum melakukan. hal itu, aku ingin kau berkenalan dengan juru selamat ku, Xin Shuo" Yin Shi mengarahkan tangannya pada Xin Shuo yang sedang duduk dikursi singgasana.
Nan Zhang menatap Xin Shuo dengan tatapan menyelidik dan kecurigaan, "Bocah ini juru selamatmu?"
Wajah Yin Shi menjadi gelap, lalu menatap Nan Zhang dengan sinis, "Kau boleh menghinaku, tapi kau tidak boleh menghina juru selamat ku"
__ADS_1
Merasa bahwa dia pasti akan mati bila bertindak lebih jauh, Nan Zhang tertawa santai dan bertindak bahwa dia sedang bercanda, "Hahaha, jangan dibawa serius Yin tua, aku hanya bercanda" Nan Zhang tertawa kecil, lalu menatap Xin Shuo, "Jadi kau adalah juru selamat ya? Namamu Xin Shuo?"
Xin Shuo menganggukan kepalanya, lalu menatap Nan Zhang, "Betul tuan, tapi bila boleh tahu, siapa nama tuan?"
"Hahaha! Mana kesopananku! Namaku adalah Nan Zhang, kaki tangan sekaligus jendral besar kekaisaran Xie"
"Wah, pangkatmu sangat tinggi, sangat tidak pantas untuk dijadikan calo penjualan budak"
Senyuman diwajah Nan Zhang perlahan-lahan menghilang, lalu menyipitkan matanya pada Xin Shuo, "Pangkat hanyalah sebuah sebutan, tapi uang tetaplah uang"
"Aku mengerti tuan Zhang, dan aku ingin membicarakan sesuatu tentang itu sekarang"
Nan Zhang menaikkan sebelah alisnya terkejut, "Oh, kau bisa bicarakan itu sekarang"
"Kau tidak mengerti tuan Zhang, aku hanya ingin berbicara berdua denganmu, bukan berlima" Xin Shuo menopang dagunya dengan senyuman kecil.
Nan Zhang menatap Xin Shuo dengan sangat dalam, lalu memberikan tanda pada ketiga pengawalnya untuk pergi.
Xin Shuo melakukan hal serupa pada Yin Shi yang sedang duduk tegak dibelakanganya.
Melihat semua orang sudah pergi, dan memastikan bahwa tidak ada yang sedang menguping pembicaraannya, Xin Shuo berdiri, lalu membungkukkan tubuhnya pada Nan Zhang. "Kejayaan bagi raja Anzhen!"
Nan Zhang melebarkan matanya terkejut, saat melihat hal yang dilakukan oleh pemuda dihadapannya. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu bahwa seseorang dengan pangkat setinggi dirimu tidak akan menjadi calo budak, kau pasti sedang mengumpulkan pasukan untuk perang yang akan datang sebentar lagi" Xin Shuo berbicara sembari menangkupkan kedua lengannya.
Nan Zhang meningkatkan kewaspadaannya, saat mendengar pernyataan pemuda didepannya yang sangat tepat. "Siapa kau?"
"Aku? Aku adalah anak dari jenderal naga kerajaan Anzhen, Xin Shuo" Xin Shuo menyeringai lebar.
Nan Zhang sedikit tersentak saat mendengar kata jendral naga. "Bila kuperhatikan, kau manusia setengah naga?"
Xin Shuo tertawa kecil, sembari menggelengkan kepalanya, "Tidak tuan, aku bukanlah manusia setengah naga, tapi iblis setengah naga"
Senyuman Nan Zhang mulai melebar dan melebar, "Jadi kau benar-benar anak sang jendral naga? Tuanku pasti akan senang saat mendengarnya"
__ADS_1
Xin Shuo dengan pura-pura menaikkan sebelah alisnya, "Tuanmu? Siapakah itu?"
"Hehe, Nak! Kau pasti sudah pernah mendengarnya dari ayahmu!"
"Tentang apa?"
"Tentang sang jendral keabadian, Tian Bufen" Nan Zhang menyebut nama itu dengan penuh kebanggaan.
"Hooo.... Tian Bufen ya? Sang jendral egois yang selalu memikirkan diri sendiri, ini bisa menjadi bidak yang cocok untukku" Xin Shuo menyeringai lebar, dibelakang Nan Zhang. "Tian Bufen? Maksudmu paman zombie itu?"
"Paman Zombie? Hahahaha! Benar! Dia memang zombie yang tidak bisa mati"
"Haha, dulu aku selalu diceritakan tentang Tian Bufen oleh ayah, tapi aku tidak pernah bertemu dengan paman Zombie, sehingga aku tidak terlalu mengenalnya" Xin Shuo tersenyum sembari menggaruk kepala belakangnya.
"Hahaha! Nanti akan kuberitahu, omong-omong, kau mau membicarakan apa denganku?" Nan Zhang tertawa sembari menepuk-nepuk punggung Xin Shuo.
"Aku ingin kau menyerahkan nasib para demi-human padaku, aku akan membuat mereka menjadi sangat kuat, dan membantu pasukanmu berperang"
Nan Zhang mengelus dagunya, dia memikirkan hal ini dalam-dalam. "Baiklah, tapi aku harus meminta izin tuan Bufen dulu"
"Baik tuan Zhang, tapi aku ingin kau menitipkan oleh-olehku untuk paman zombie" Xin Shuo menyerahkan sebuah kotak besar berwarna merah pada Nan Zhang.
Nan Zhang tentu saja menerima itu dengan senang hati, "Baik Xin Shuo, aku harus pergi dulu"
"Oh iya tuan Zhang, rahasiakan ini dari para demi-human"
Nan Zhang mengacungkan jempolnya, "Tentu saja, nak Xin"
.
.
.
.
__ADS_1