Power System

Power System
Mengunjugi Makam


__ADS_3

"Hmmmm....." Sebuah bangunan besar bertingkat lima terpampang dihadapan Xin Huang. Didepan pintu masuk bangunan itu, ada sebuah plank besi bertuliskan Matahari Utara.


"Hooo.... Besar sekali bangunannya.... Aku akan mengajak Hua Mei belanja disini, mungkin dia akan suka.....", Setelah Xin Huang menghancurkan keluarga Zhi, dia berencana untuk berjalan-jalan dulu di kota Xuan, sekalian mengunjungi makam orang tuanya.


Xin Huang berteleportasi untuk pergi kerumah tempat Hua Mei berada.


***


"Egh..." dirumahnya, Hua Mei berusaha untuk menerobos kelevel Inti Emas tingkat dua.


Bang!


"Akhirnya....." senyuman muncul menghiasi wajahnya saat dia berhasil menerobos. "Dengan ini, aku bisa membantu Xin menghadapi para musuhnya" senyum Hua Mei bertambah saat memikirkan Xin Huang.


Wushhhh


"Xin?" Hua Mei merasakan ada seseorang yang tiba-tiba muncul didepan rumahnya.


"Halo Hua'er, ayo ikut aku" Xin Huang datang dengan senyuman hangat.


"Baik Xin" Hua Mei tanpa banyak tanya langsung mengiyakan ajakan Xin Huang.


"Teknik Ruang dan Waktu: Teleportasi" Xin Huang memeluk Hua Mei, lalu berteleportasi kedalam kota Xuan.


Wushhhhhhh


Para warga kota Xuan sangat terkejut, saat melihat sepasang muda-mudi yang tiba-tiba muncul ditengah jalan.


"A--Apa?!" ujar salah satu warga.


"Dia tiba-tiba muncul! apakah dia seorang master?!" ucap salah satu penduduk disana.


Xin Huang hanya mengabaikan mereka dan berjalan ke arah Utara, ke arah makam kedua orangtuanya.


....


Disepanjang perjalanan, Hua Mei selalu bercerita tentang apapun pada Xin Huang, dan Xin Huang hanya mendengarkan saja ocehan istrinya.


"Xin, kau tahu tidak?, aku barusan menerobos loh" Hua Mei bercerita sembari menggenggam lengan kiri Xin Huang.


"Tau kok" Xin Huang menganggukkan kepalanya.


"Aku hebat kan? aku bisa menerobos dari tingkat satu ketingkat dua hanya dengan satu malam"


"Ya, istriku memang hebat" Xin Huang mengelus kepala Xin Huang.


Hua Mei yang dielus kepalanya langsung tertunduk malu sembari mengeluarkan senyuman kecil, "Hehe..."


"Kenapa dia jadi manja sekali?, Oh iya, dia suka dimanja oleh orang tuanya, itu menyebabkan dia menjadi sombong saat bertemu denganku. Aku akan memanjakannya, tapi tidak akan berlebihan, aku juga akan mendidiknya menjadi wanita yang rendah hati"


"Ya, oleh sebab itu kau tidak boleh sombong dan tinggi hati, kau harus lebih rendah hati dan menjaga sikapmu" Xin Huang berkata sembari mengelus-elus kepala Hua Mei.


"Tentu saja Xin, kau tidak suka kan wanita yang sombong?"


"Ya, kau tahu itu"


"Baiklah, aku akan menjadi wanita yang disukai oleh mu" Hua Mei memeluk lengan Xin Huang lebih erat.


"Terima kasih Hua'er" jawab Xin Huang.


***


Setelah berjalan bersama selama 15 menit, Xin Huang akhirnya sampai di pemakaman kedua orang tuanya.


"Makam? Kau akan menemui makam siapa Xin?" Hua Mei bingung kenapa dia dibawa Xin Huang ke pemakaman.


"Ibu dan ayahku" jawab Xin Huang dengan senyuman sedih.


"Oh...." Hua Mei merasakan kesedihan yang dirasakan Xin Huang juga, sebab kedua orang tuanya sudah meninggal, dan yang lebih parah, mayat keduanya hancur menjadi debu.

__ADS_1


Xin Huang dan Hua Mei memasuki pemakaman itu, mereka berjalan selama satu menit, sehingga mereka berhenti saat melihat kedua makam batu dengan nama Xin Hei Long dan Fei Rong.


"Xin Hei Long adalah ayahku, dan Fei Rong adalah ibuku" Xin Huang memperkenalkan kedua orang tuanya.


"Iya Xin" Hua Mei mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Baiklah..." Xin Huang mendekati makam ayahnya. "Ayah... Sebenarnya aku tidak tahu kenangan apa yang dimiliki kita. Kau hanya terbaring sakit di atas ranjang, kau juga selalu menutup matamu, aku tidak pernah sekalipun berbicara padamu. Tapi, aku menyayangimu, karena kau, ayahku" Xin Huang menaburkan bunga yang dibelinya dari sistem ke makam ayahnya.


"Lalu...." Xin Huang mendekati makam ibunya. "Ibu... Kau adalah satu-satunya orang yang mengisi hatiku. Saat kau meninggalkanku, hatiku menjadi kosong dan tak terkendali. Tapi, aku sudah menemukan seseorang yang mengisi hatiku kembali, dan itu adalah istriku, Hua Mei" Xin Huang menarik lengan Hua Mei.


"Eh... Eh... I-Iya, kau juga mengisi hatiku yang kosong, Xin" ucap Hua Mei sembari memeluk Xin Huang.


"Dan ibu, semoga kau tenang di alam sana bersama ayah dan anakmu. Semua dendammu sudah kubalaskan, jadi, beristirahatlah dengan tenang di alam sana" Sama seperti sebelumnya, Xin Huang menaburkan bunga di makam Fei Rong.


"Baiklah Hua'er, ayo kita pergi..." Xin Huang berdiri dari sana.


"Baik Xin..." Hua Mei juga berdiri mengikuti Xin Huang.


"Aku tahu tempat belanja yang bagus, apa kau mau ikut?" Xin Huang menggenggam lengan Hua Mei.


"Belanja?! Aku mau!" wajah Hua Mei yang sebelumnya murung, kembali menjadi riang saat mendengar kata belanja.


"Ya, ayo" Xin Huang pergi sembari menggenggam lengan Hua Mei.


.


.


.


.


"Woahhh..." Hua Mei sangat kagum melihat bangunan organisasi Matahari Utara.


"Bagaimana? apa kau mau?"


"Entah, kau kan yang tinggal dikota Xuan selama enam bulan" Xin Huang mengangkat bahunya.


"Oh iya! Saat kota Zhongyang hancur, aku mendengar bahwa cabang organisasi Matahari Tengah berkhianat dan membentuk organisasi baru"


"Oh...." Xin Huang menjawab singkat, dia merasa bersalah karena dia yang menghancurkan kota Zhongyang.


"Baiklah Hua'er ayo cepat masuk"


"Ayo!" Hua Mei memeluk lengan Xin Huang, lalu masuk kedalam.


**


"Xin, Benarkah aku boleh membeli apapun yang ku mau?" tanya Hua Mei pada Xin Huang.


"Tentu saja, aku kaya"


"Benarkah?"


"Benar sayang...." Xin Huang mengelus kepala Hua Mei.


"Hem... Terima kasih" Hua Mei memeluk Xin Huang, lalu pergi membeli barang.


"Senang sekali dia" Batin Xin Huang dengan senyuman kecil.


....


"Wow, wanita itu cantik sekali" seorang pemuda berambut hitam panjang terpana saat melihat wajah Hua Mei yang sangat cantik dan memesona.


"Hei....." Seorang wanita berambut hitam panjang disebelahnya ,mengeluarkan aura membunuh yang menekan pria itu.


"Hehe, maaf" pria itu menunduk dan menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal.


"Kau sudah punya aku Wang, jangan khianati aku"

__ADS_1


"Iya Yan'er" Pria itu mencium lengan wanita disebelahnya.


"Janji ya" wajah wanita itu terlihat memerah saat dicium pria disebelahnya.


"Tentu saja" jawabnya dengan senyuman manis.


Mereka adalah tuan dan nona muda dari keluarga Wang dan keluarga Liu. Yang pria bernama Wang Hou dan yang wanita bernama Liu Yan.


Mereka berdua dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Liu Yan yang mencintai Wang Hou tentu saja senang dengan itu. Hanya Wang Hou yang tidak senang dengan perjodohan orang tuanya.


Dia dipaksa oleh orang tuanya untuk pura-pura mencintai Liu Yan, tentu saja dia tidak mau. Tapi dia terpaksa pura-pura mencintai Liu Yan karena Liu Yan lebih kuat darinya.


"Hah.... beruntung sekali bila aku menikahi wanita yang kucintai" Wang Hou menghela nafasnya.


"Wang sayang, kenapa kau menghela nafas?" Liu Yan heran melihat suaminya menghela nafas.


"Tidak ada..." jawabnya singkat.


**


"Aku sudah selesai Xin" ucap Hua Mei dengan banyaknya tas belanja ditangannya.


"Masukan saja kedalam cincin dimensimu"


"Tapi bayar dulu...."


"Ayo" Xin Huang berjalan pergi ke arah kasir.


Setelah selesai membayar, Xin Huang dan Hua Mei kebetulan berpapasan dengan Wang Hou dan Liu Yan.


"Eh?" Wajah Wang Hou memerah saat melihat Hua Mei.


"Erghh..." Liu Yan sangat kesal melihat wajah suaminya yang memerah karena wanita lain.


"Oh, halo" Xin Huang hanya menundukkan kepalanya, lalu pergi dari situ.


Bruakkkk


Liu Yan menginjak kaki Wang Hou dengan keras, sampai-sampai lantai bangunan itu retak. Wang Hou yang diinjak hanya menangis dalam hati, akan sangat memalukan jika dia menangis didepan umum.


"Ke--Kenapa Yan'er?" Wang Hou menyentuh kakinya yang sudah berdarah-darah.


"Berisik kau dasar pria sial! awas saja kau!" Liu Yan pergi dari sana sembari marah-marah.


"Mati aku...." Wang Hou yang melihat itu hanya tertunduk pasrah dan ketakutan.


"Halo saudara Wang..." Xin Huang sedikit iba melihat Wang Hou yang kesakitan.


"Oh, halo..." Wang Hou mencuri pandang kepada Hua Mei.


"Kenapa kau menatao istriku?" Xin Huang bingung melihat pemuda didepannya memandangi istrinya.


"Istri?! dia istrimu?!" Wang Hou sangat terkejut melihat wanita yang dikaguminya mempunyai suami.


"Tentu saja...."


"Oh...." Wang Hou tertunduk lesu, lalu pergi meninggalkan Xin Huang.


"Orang aneh... Ayo Hua'er, kita pergi"


"Ayo" Xin Huang dan Hua Mei pergi dari sana dengan tangan yang saling menggenggam.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2