
Setelah mengelap tombak emasnya, Zheng Yi berjalan mendekati Yun Yue dan Qiqiu, "Kalian berdua, apa kalian tidak apa-apa?"
Wajah Qiqiu tampak berseri-seri, "Terimakasih kakak tampan, dan aku baik-baik saja karena kakak tampan menyelamatkan kami!" Ucap Qiqiu dengan kaki yang masih sedikit gemetaran, akibat melihat potongan-potongan daging yang berceceran dimana-mana.
Melihat Qiqiu yang masih gemetar ketakutan, Zheng Yi mengibaskan tombaknya, dan daging-daging yang berceceran itu langsung tersapu oleh angin, dan menghilang seperti debu. "Gadis kecil, apa kau sudah lebih enak?"
Qiqiu menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis, "Ya kakak, terimakasih"
"Sama-sama, dan...." Zheng Yi menatap Yun Yue yang sedang tersipu malu sembari memain-mainkan bajunya. "Nona, apa kau baik-baik saja?"
Yun Yue sontak terkejut saat ditanya oleh Zheng Yi, "Y-Ya, aku baik-baik saja." Wajah Yun Yue semakin lama semakin merah padam akibat melihat Zheng Yi yang sedang berjalan mendekatinya.
"Cantik sekali, untung saja dia tidak dirusak oleh laki-laki bejat tadi" Walaupun dari luar terlihat tidak peduli, sebenarnya Zheng Yi sangat terpana dengan kecantikan luar biasa milik Yun Yue. "Nona, wajahmu merah, apa kau sedang sakit?"
"Ya... Aku sedang sakit karena jatuh...." Yun Yue menghentikan ucapannya saat dia baru saja menyadari apa yang mau dia ucapkan. "Ti-Tidak jadi...." Yun Yue menundukkan kepalanya lagi.
Zheng Yi menaikkan sebelah alisnya, dia sangat bingung dengan tingkah wanita yang ada dihadapannya, "Em... Baiklah bila kau tidak apa-apa, aku akan pergi dulu" Zheng Yi membalikkan tubuhnya, dan hendak pergi dari situ, namun saat dia hendak pergi, lengan bajunya terasa sedang ditahan oleh sesuatu.
"Tunggu dulu...." Ternyata lengan baju Zheng Yi ditahan oleh Yun Yue yang wajahnya sudah berubah warna menjadi merah padam.
Zheng Yi membalikkan tubuhnya kembali, dan hendak mendengarkan apa yang ingin dikatakan wanita pemalu didepannya. "Ada apa nona?"
"Kau kuat, dan aku lemah, jadi.... Apa kau mau membawa kami untuk menemani perjalananmu? Aku tidak akan jadi beban kok"
Zheng Yi menaikkan kedua alisnya, lalu tersenyum sembari menghela nafas, "Tentu saja mau, ditemani dua gadis cantik saat berpetualang adalah impianku"
Yun Yue tersenyum senang saat mendengarnya, "Te-Terimakasih, tuan Zheng Yi"
"Sama-sama... Omong-omong, siapa nama kalian?"
Yun Yue mengelus kepala Qiqiu, "Gadis kecil ini bernama Qiqiu, dan namaku adalah Yun Yue." Yun Yue memperkenalkan dirinya dengan sedikit malu-malu.
__ADS_1
"Baiklah, aku paham, ayo kita pergi"
Qiqiu dan Yun Yue menganggukan kepalanya, "Ayo...."
***
Didalam aula kekaisaran Zhou, terlihat Zhou Lin, Xueshi, dan Zhang Shu yang sedang bercengkrama sembari meminum teh, mereka santai-santai saja, sebab mereka sangat percaya diri dengan teknologi sensor area miliknya, hingga Zhou Lin menghapus senyumannya saat melihat sekilas masa depan.
"Bersiaga!" Ucapan Zhou Lin membuat Xueshi dan Zhang Shu memasang kuda-kuda bertarung.
Wushhhhhh
Ruangan sedikit terdistorsi saat sebuah aura yang tiba-tiba muncul ditengah aula, dua orang pria memasuki pandangan ketiganya saat situasi sudah mulai tenang.
Zhou Lin tersenyum lebar saat melihat seseorang yang terlihat familiar, "Zhou Yuan, walaupun kau sudah bereinkarnasi, wajahmu masih tetap tidak berubah ya?"
Wei Chuan menatap sinis pria dengan penutup mata didepannya, "Wujudnya masih sama.... Wujud pecundang yang terdoktrin oleh dongeng anak-anak"
"Baik yang mulia!" Keduanya bersujud, lalu tiba-tiba menghilang dari sana.
"Oh iya Xin Huang, perang sudah dimulai, kau tahu artinya kan?" Ucap Wei Chuan sembari melirik Xin Huang.
Xin Huang menganggukan kepalanya, "Ya, aku tahu." Setelah mengucapkan itu, Xin Huang tiba-tiba menghilang dari sana.
Setelah semuanya sudah pergi, Wei Chuan dan Zhou Lin saling bertatapan kembali, "Buku anak-anak? Itu adalah sebuah prestasi yang dikemas dengan baik, sehingga menghasilkan sebuah mahakarya. Bocah kecil sepertimu, tidak akan pernah tahu itu"
Wei Chuan sedikit terdiam, lalu menatap sinis Zhou Lin, dengan sinar mata yang sangat tajam, "Prestasi apanya? Itu hanyalah doktrin yang dikemas dalam buku sejarah, dan kaulah contoh korbannya. Mengorbankan adiknya sendiri, mengorbankan tempat tinggal yang dengan hangat menerima kita, dan mengorbankan orang-orang yang kusayang, itu adalah tindakan yang sangat menjijikan, jadi Zhou Lin, pergilah keneraka"
Zhou Lin menyeringai lebar, "Kenapa kau sangat membenciku? Aku melakukan ini demi tujuan besarku, dan untuk mencapai tujuan besar itu, aku membutuhkan seorang korban, apa ada yang salah dengan itu?"
Wei Chuan sangat geram saat mendengarnya, "Otakmu yang bermasalah ya?. Jika kau tidak membunuhku, aku akan dengan senang hati membantumu mencapai tujuanmu, tapi apa yang kau lakukan?! Kau membunuhku dengan keji! Seolah itu bukan pengorbanan, tapi pembunuhan! Dan kau menanyakan apakah ada yang salah dengan itu?! Apa otakmu cacat?"
__ADS_1
"Jangan kejam begitu adik, aku hanya melakukan apa yang dilakukan oleh raja Anzhen, dan karena raja Anzhen tidak memiliki adik, otomatis aku yang mendapatkan anugrah semangat raja Anzhen menjadi ingin membunuhmu, karena jika aku tidak membunuhmu, aku bukanlah raja Anzhen"
"Kau memanglah bukan raja Anzhen, tapi seorang psikopat gila"
Zhou Lin tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya, "Sudahlah adik, lebih baik kau pulang saja, sebab darah yang mengalir ditubuhmu, sudah bukan lagi darah yang sama yang mengalir ditubuhku"
"Pulang? Jika aku pulang, lebih baik aku mati" Wei Chuan bertransformasi kewujud asli ras raja Dewa.
Zhou Lin yang melihat itu, hanya tersenyum kecil sembari menyentuh penutup matanya. "Jadi kita benar-benar harus bertarung ya? Baiklah jika itu maumu." Zhou Lin membuka penutup matanya, dan terlihat sebuah mata yang sangat indah berwarna hijau giok.
***
Xin Huang tiba-tiba muncul dihadapan Xia Shu dan para pasukan 30 benua besar, para pasukan 29 benua besar lainnya menjadi terkejut dengan kedatangan Xin Huang yang hanya seorang diri.
"Kau! Kau! Kau!" Xia Shu menggeram kesal sembari mengepalkan tangannya dengan erat.
Xin Huang hanya terkekeh kecil, melihat Xia Shu yang gemetaran karena amarah yang tertahan. "Nona Xia, apa kau tahu dimana keberadaan tuan Tian Bufen?"
"Tidak tahu"
"Hehe, tuan Tian Bufen sudah kuantarkan kesuatu tempat, yang letaknya sangat jauh dari sini, kuantarkan kesebuah pulau kecil yang terletak jauh disebelah benua Meijing, aku yakin nona Xia mengetahui tempat itu"
Xia Shu melebarkan matanya, sebab dia sangat familiar dengan tempat yang dikatakan Xin Huang, "Jangan-jangan...."
Xin Huang terkekeh kecil, menahan tawanya agar tidak terdengar orang lain, "Ya, Tian Bufen kuantarkan tepat dihadapan markas tuanmu, Xiao Shun.
.
.
.
__ADS_1
.