Power System

Power System
Berburu Untuk Menjadi Tabib


__ADS_3

Setelah makan-makan enak di restoran, Xin Huang keluar dari sana dengan Hua Mei disampingnya.


"Kita akan kemana Xin?"


"Kita temui kaisar Yun Cheng"


"Menemui kaisar Yun Cheng? untuk apa?"


"Kita akan bertanya padanya tentang pintu menuju alam atas"


"Oh iya! kita kan datang kesini untuk pergi ke alam atas!"


"Kau masih muda tapi sudah pikun saja"


"Xin!!! Kenapa kau mengejekku terus?!" kali ini Hua Mei marah dan mengeluarkan auranya.


"Maafkan aku Hua'er" Xin Huang dengan buru-buru memeluk Hua Mei agar tidak mengamuk.


Amarah Hua Mei memudar seketika saat dipeluk Xin Huang. "Baiklah Xin, kau kumaafkan"


"Kenapa kau gampang sekali dibodohi?"


"Apa?!!"


"Maaf Maaf"


Setelah pertikaian singkat itu, Xin Huang dan Hua Mei berjalan bersama menuju istana kekaisaran Yun.


***


"Apakah disini?" sebuah istana super besar berwarna biru langit terlihat dihadapan Xin Huang.


"Sepertinya..." jawab Hua Mei yang masih terpana melihat istana raksasa dihadapannya.


"Besar sekali yah"


"Ya... Besar sekali..."


"Apa kau mau istana besar?"


"Tentu saja mau, memangnya kau punya?"


"Bukan aku yang punya, tapi teman rahasiaku yang punya, walaupun itu akan menjadi milikku juga"


"Wah... Nanti bila kau sudah jadi penguasa, buat istana yang sangat besar yah!!!"


"Tentu saja, aku akan membuat istana yang tingginya sampai menembus kelangit, dan bisa dilihat oleh orang-orang dipenjuru dunia"


"Hebat....."


Saat kedua pasangan itu sedang merencanakan masa depannya, terdengar suara teriakan yang menggangu. "Oy Bocah! kau sedang apa didepan istana?!" teriak salah satu penjaga istana disana.


"Apa-Apaan?! dasar kau pengganggu!" Xin Huang sangat marah saat khayalannya dengan Hua Mei memudar akibat teriakan penjaga itu.


"Sabar Xin! dia hanya menjalankan tugas!"


"Fyuhhh...." Xin Huang menghela nafasnya. "Aku hanya ingin bertemu dengan kaisar Yun" Xin Huang berbicara dengan nada rendah.


"O-Oh..." Penjaga itu sedikit merasakan takut saat melihat pemuda dihadapannya marah. "Apa kau punya janji?" Kali ini penjaga itu berbicara lebih sopan.


"Kenapa penjaga itu bicara sopan?" Batin Xin Huang. "Tidak ada" Xin Huang menggelengkan kepalanya.


"Jika begitu, kau tidak bisa bertemu kaisar Yun"


"Hah? Apakah tak ada cara lain?"


"Hmmm... Bisa sih. Putri kaisar sedang sakit, mungkin bila kau tabib, kau bisa menemuinya"


"Hooo... Besok aku akan datang lagi" Xin Huang menarik lengan Hua Mei dan pergi dari sana.


"Xin, kita mau kemana?"


"Kau cari penginapan, aku ada urusan"

__ADS_1


"Urusan apa?"


"Urusan penting" jawab Xin Huang dengan wajah serius.


"Begitu... Ya sudah Xin, aku akan cari penginapan, kita bertemu lagi direstoran palu emas ya...."


"Baiklah. Cari penginapan ya, bukan cari laki-laki lain"


"Apa?!! aku itu setia!!! dasar kau!!!" Sekali lagi Hua Mei geram dengan tingkah laku Xin Huang.


"Hahaha" Xin Huang tertawa keras, dan tiba-tiba menghilang dengan Teleportasi.


"Hmphhh!" Hua Mei mendengus, lalu pergi mencari penginapan.


***


(Didalam Hutan Anlong)


"Menggoda Hua'er sudah tak aman lagi" Xin Huang bisa-bisa bonyok, bila Hua Mei marah saat dijahili.


"Sistem, aku mau beli profesi tabib"


[Tabib Kelas 1\= 10.000 PS]


[Tabib Kelas 2\= 20.000 PS]


[Tabib Kelas 3\= 30.000 PS]


[Tabib Kelas 4\= 40.000 PS]


[Tabib Kelas 5\= 50.000 PS]


[Tabib Kelas 6\= 60.000 PS]


[Tabib Senior\= 100.000 PS]


[Tabib Master\= 1.000.000 PS]


[Tabib Kuno\= 100.000.000 PS]


[Tabib Surgawi\= 1.000.000.000 PS]


"Sial! aku harus mengeluarkan 1 miliar PS lagi!" Xin Huang tidak mau merasakan sakit dihatinya saat melihat PS nya habis.


[Bila tuan tidak ingin sakit hati, lebih baik tuan diam dan bercinta dengan istri anda]


"Sistem, omonganmu kasar sekali"


[Tuan sudah jarang berbicara pada system semenjak tuan menikah]


"Hahaha, kau cemburu?"


System tak menjawab. "Ya sudah, aku ingin berburu dulu... System! berikan aku spot memburu yang menguntungkan!"


[Di arah Utara tuan berada, ada retakkan ruang yang mengarah pada dunia para monster]


"Wow...." Xin Huang berjalan ke arah yang system tunjukkan.


***


"Xin itu! apa dia tidak percaya padaku?!" Hua Mei terus mengomel di sepanjang perjalanan. Walaupun terlihat sedang kesal, Hua Mei masih terlihat imut Dimata para penduduk.


"Siapa wanita itu?"


"Cantik sekali! dia sedang kesal yah?!"


"Wah... Walaupun aku buta, aku masih tetap bisa melihat kecantikan wanita itu"


"Ah... Hatiku meleleh"


"Hei! Kau kan wanita!!!"


"Ah, aku lupa... Hehe"

__ADS_1


Hua Mei tidak peduli dengan pujian para penduduk, dia hanya akan merasa sangat senang bila Xin Huang yang memujinya. "Huh... Aku kesepian... Padahal baru sebentar tak bertemu...."


Hua Mei terus berjalan hingga melihat sebuah bangunan 5 tingkat dengan plank bertuliskan Malam Utara. "Sepertinya itu" Hua Mei berlari kecil ke dalam bangunan itu. Didalam, Hua Mei melihat interior-interior yang menghiasi kedua sisi tembok ruangan penginapan. Lalu ditengah-tengahnya, terlihat wanita resepsionis, sedang melayani seseorang.


"Hehehe, nona resepsionis, tubuhmu seksi sekali, aku ingin menyantapnya" ucap seseorang berjubah hitam sembari menjilat mulutnya.


"Tu-Tuan! itu pelecehan" terlihat wanita resepsionis itu ketakutan dengan tubuh yang gemetar.


"Bukan pelecehan bila dibayar...." pria itu terus mengeluarkan senyuman mesum.


"Tu-Tuan... Aku akan melaporkan tuan pada manager!"


"Hei.... Jangan membuatku jadi liar" Pria berjubah hitam itu mengeluarkan aura membunuhnya.


"E-Ekk" Wanita resepsionis itu merasa bahwa dirinya seperti tercekik.


"Hey tuan, apa kau mau minggir?" Hua Mei menepuk bahu pria berjubah hitam itu.


"Apa...?" Pria berjubah hitam itu menatap sinis Hua Mei. "Ahahahaha, ternyata ada wanita yang lebih cantik!" sasaran pria itu berubah kepada Hua Mei.


"Halo nona, apa kau mau memuaskan ku dengan tubuhmu?"


"Hei tuan, apa kau mau minggir...?" Hua Mei mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat, cukup kuat untuk membuat pria berjubah hitam itu tidak bisa bergerak.


"Ergh...." Pria berjubah hitam itu sangat terkejut saat tubuhnya tak bisa bergerak.


"Hei tuan, apa kau mau minggir?" Hua Mei mendekati pria jubah hitam, lalu memegang bahunya.


"Ma-Maafkan aku, nona senior"


"Hei tuan, apa kau mau minggir?"


Kressss


"Arghhhhhh" Pria jubah hitam itu berteriak kesakitan saat bahunya dicengkeram Hua Mei sampai hancur.


"Hei Tuan, apa kau mau minggir?" kali ini Hua Mei memegang kepala pria itu.


"Ma-Maafkan aku senior" Jantung pria berjubah hitam itu langsung berdetak sangat kencang saat disentuh kepalanya oleh Hua Mei.


"Hei tuan, apa kau mau minggir?"


Kressss


Kepala pria itu hancur menjadi bubur saat dicengkeram Hua Mei. "Menjijikan" Hua Mei mengendalikan tanah di ruangan itu, dan membuat mayat pria itu ditelan tanah.


"Te-Terima kasih nona" mata wanita resepsionis itu mulai berkaca-kaca.


"Sama-sama nona, apa kau terluka?"


"Tidak..."


"Ya sudah, aku pesan satu kamar"


"Ini nona" wanita resepsionis itu memberikan Hua Mei sebuah kunci perak. "Oh iya, ini gratis"


"Gratis?"


"Ya! itu tanda terima kasihku!"


"Ya sudah, terima kasih ya..."


"Em" Wanita resepsionis itu mengangguk-anggukan kepalanya.


Setelah memesan, Hua Mei langsung pergi ke kamarnya, lalu merebahkan dirinya di kasur.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2