
"Kata orang-orang, kau itu langka?" Tanya seorang gadis kecil, pada sebuah cahaya hijau yang terbang mengelilinginya.
"Ya! Eksistensi kami memang langka, karena para monyet-monyet itu hanya mengetahui bahwa ras peri sudah punah miliaran tahun yang lalu" Jawab cahaya hijau itu, yang ternyata adalah seorang gadis mini, yang hanya sebesar jempol pria dewasa. Gadis mini itu memiliki wajah yang sangat cantik, dengan kedua sayap transparan dipunggungnya.
"Woah, jadi ras mu belum punah?" Mata gadis kecil itu terlihat berbinar-binar saat mendengar itu.
Gadis mini itu mengangguk dengan kencang, "Ya! Kau beruntung sudah menemukanku didalam pulau kecil ini!"
Gadis itu tertawa senang saat menyadari bahwa dia akan mempunyai teman didalam pulau kecil ini. "Omong-omong, siapa namamu, nona peri?"
"Namaku Xian Ai, panggil saja Ai" Xian Ai berbicara sembari mengelus hidungnya bangga.
"Haha, jad namamu Ai yah? Kalau namaku adalah Qiqiu, pulau ini juga memiliki nama yang sama sepertiku, tapi orang-orang tidak ada yang tahu bahwa aku itu ada, walaupun tahu, orang-orang itu pasti akan mengabaikanku" Awalnya wajah Qiqiu berseri-seri, namun semakin lama Qiqiu berbicara, wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi sedih, hingga dibagian akhirnya, Qiqiu menundukkan kepalanya.
Ai menaikkan sebelah alisnya, lalu menepuk kepala Qiqiu, "Kau tenang saja, kan ada aku! Kita akan keluar dari pulau ini, lalu menjelajahi dunia bersama-sama!"
Qiqiu tersenyum manis saat mendengarnya, "Terimakasih Ai, tapi walaupun wujudku seperti ini, umurku sudah lebih dari ribuan tahun"
"Hmphh! Hanya ribuan tahun?! Kau tahu berapa lama peri bisa hidup!? Jutaan tahun!!!"
"Hehe, jadi kau akan terus menemaniku hingga akhir?"
"Tentu saja Qiqiu, jadi jangan bersedih lagi, aku tidak suka melihatnya"
Qiqiu mengangguk senang saat mendengarnya.
Qiqiu adalah seorang gadis kecil yang sudah tinggal dipulau ini sendirian selama ribuan tahun lamanya. Dia selalu heran, kenapa dia dibuang kesini? Apakah dia adalah monster terkutuk yang dibuang karena alasan tertentu? atau dia adalah seseorang yang sudah ditakdirkan hidup sendirian? Tapi itu sudah tidak penting lagi, sebab dia sudah memiliki teman baru, Peri Ai.
....
Tak terasa sudah 20 tahun lebih Ai mengajari Qiqiu tentang kultivasi, dan kini, Qiqiu sudah berada ditahapan Inti Jiwa puncak. Ai sendiri mengakui bahwa Qiqiu sangatlah jenius, sebab baru 20 tahun berkultivasi, dia sudah berada ditahapan Inti Jiwa, yang orang normalnya membutuhkan ribuan tahun untuk ketahap itu, dengan sumber daya yang terbatas.
"Bagus! Tapi jangan bangga dulu! Tahapanmu itu hanya sampah didunia yang luas ini! Jadi lanjutkan latihanmu, tanpa perlu mengkhawatirkan sesuatu!"
"Baik Ai!" Qiqiu kembali memejamkan matanya, lalu mulai menyerap Qi kembali.
__ADS_1
***
"Pulau Qiqiu ya...." Xin Huang mengedarkan pandangannya kesegala arah, dia bisa melihat banyaknya pohon rindang yang tumbuh dipulau itu.
Sudah puas mengamati, Xin Huang berjalan masuk kedalam hutan itu, tapi sebelum masuk, dia mengedarkan persepsi spiritualnya. "Seorang gadis kecil.... Dengan seorang.... peri....?" Xin Huang mengerutkan dahinya saat melihat seorang peri, sebab dari buku yang dia baca, ras peri sudah punah dibantai oleh penguasa dunia sebelum Raja Dewa penguasa dunia saat ini.
Merasa bahwa mengira-ngira tidak mendapatkan hasil apapun, Xin Huang berteleportasi kedekat kedua gadis itu, sembari menyembunyikan auranya.
Kresek... Kresek....
Xin Huang tanpa sengaja membuat suara-suara, yang membuat gadis peri itu mengetahui dirinya. "Siapa kau!" Gadis peri itu mengeluarkan sebuah pusaran angin yang menyapu seluruh semak-semak, sehingga menampilkan seorang pria tampan bermata merah yang sedang tertawa cengengesan.
"Hehe, santai gadis kecil" Xin Huang tidak berniat untuk mencari ribut dengan ras yang katanya sudah punah itu.
"Siapa kau!" Gadis peri itu membuat sebuah pedang yang terbuat dari angin, lalu menodongkannya pada leher Xin Huang.
"Aku hanya seorang pengembara, yang sedikit tertarik dengan ras yang katanya sudah punah" Xin Huang menggunakan skill penipunya untuk meyakinkan gadis peri itu.
Mendengar keributan-keributan yang ada disebelahnya, Qiqiu membuka matanya, lalu melihat seorang pria tampan bermata merah, sedang ribut dengan Ai.
Gadis peri itu langsung marah saat dipanggil peliharaan oleh Xin Huang, "Peliharaan?! Dasar kau manusia brengsek! Akan kubuat kau menjadi peliharaanku! Dan kusuruh kau untuk menjilat kakiku!"
Qiqiu berdiri, lalu menenangkan gadis peri didepannya, "Tenanglah Ai, kita dengarkan dulu apa tujuannya"
"Tenang?! Kau suruh aku tenang saat seseorang memanggilku peliharaan?!"
"Aduh... Tuan asing, tolong minta maaflah, gadis mini ini memang sedikit sensitif" Qiqiu tertawa gelisah, sembari memegangi gadis peri yang sudah membawa pisau angin.
"Haha, maafkan aku nona peri" Xin Huang membungkukkan tubuhnya untuk menunjukkan rasa penyesalannya.
Peri itu sedikit tenang saat melihat Xin Huang yang membungkukan tubuhnya, "Hmph! Kau akan kumaafkan bila memanggilku nyonya agung 3 kali!"
"Nyonya agung, nyonya agung, nyonya agung" Xin Huang tanpa keberatan sama sekali menuruti ucapan peri didepannya.
Peri itu melebarkan matanya terkejut, melihat ketebalan muka manusia didepannya, "Dasar kau lelaki yang mudah menyerah!"
__ADS_1
Xin Huang hanya tertawa kecil saat mendengar itu, "Jadi nyonya peri, apa aku dimaafkan?"
Peri itu melipat tangannya, lalu mendengus, "Hmmph! Kau kumaafkan, tapi kau masih harus memberikan penjelasan yang masuk akal padaku!"
Xin Huang menganggukan kepalanya, lalu menceritakan semuanya dengan skill menipunya.
Qiqiu menganggukan kepalanya tanda paham, "Jadi begitu....."
"Sepertinya dia sudah tertipu dengan omonganku....." Xin Huang menjelaskan bahwa dia adalah seorang master pengembara, yang tak sengaja melihat Ai saat melewati pulau ini. "Jadi gadis manis, namamu Qiqiu... Dan untuk nyonya peri, namamu Xian Ai kan? Boleh kupanggil Ai saja?"
"Hmmph! Terserah kau!" Ai menjawab Xin Huang dengan ketus.
Xin Huang hanya menggelengkan kepalanya saat melihat sikap Xian Ai, berbeda sekali dengan gadis manis bernama Qiqiu didepannya. Dia jadi sadar bahwa hal yang paling penting diajarkan pada putrinya bukanlah pelajaran sekolah, ataupun ranking satu, tapi adalah Sopan santun. "Baiklah Qiqiu, apa aku boleh berbicara berdua dengan peri manis itu?"
Qiqiu menaikkan sebelah alisnya, "Bicara berdua? Apa yang ingin tuan Xin bicarakan dengan Ai?"
"Ya! Buat apa kau mau berbicara denganku!?" Xian Ai tiba-tiba menyahut pembicaraan Xin Huang dengan Qiqiu.
"Aku hanya ingin menelitinya saja, bukan sesuatu yang besar kok, tapi tetap saja lebih enak bila hanya berdua saja" Xin Huang tertawa sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Aku sih tidak apa-apa, tapi apa Ai mau?" Qiqiu mengalihkan pandangannya pada Xian Ai yang sedang menggerutu kesal.
"Hmmph! Aku butuh rayuan untuk mengikut apa keinginan manusia!"
Xin Huang menyeringai, lalu memberikan sebuah permata berwarna hijau dari cincin penyimpanannya, "Ini adalah permata ingatan, permata yang bisa memulihkan ingatanmu, dan kau bisa tahu apa asal-usulmu"
Xian Ai sedikit tersentak, lalu dia terdiam selama beberapa waktu, "Baiklah, ikut aku" Xian Ai melayang diudara, lalu melesat kearah Utara.
.
.
.
.
__ADS_1