
Xin Huang dan Sun Mofa sepakat untuk melawan klon Shen Jian selanjutnya, namun Sun Mofa masih tidak mengerti kenapa tongkatnya makin terasa getarannya. "Hey bocah, coba pegang ini!" Sun Mofa memberikan tongkat itu pada Xin Huang, Xin Huang yang merasa heran, mengambil tongkat itu dengan sebelah alis yang terangkat.
Drrttttt
Xin Huang merasa getaran besar dari tongkat itu, dia benar-benar baru pertama kalinya melihat tongkat yang bergetar. "Ini bergetar!"
"Ya."
"Untung saja kau bukan gadis....."
"Huh?"
"Tidak tidak, lupakan saja..... System, apa kau tahu kenapa ini bisa terjadi?"
[Tanya saja pada monyet itu, aku sudah pernah memberitahunya.]
Setelah itu Xin Huang menatap Sun Mofa.
Melihat tatapan itu, Sun Mofa menjelaskan apa yang pernah system jelaskan padanya kepada Xin Huang.
Xin Huang menganggukan kepalanya tanda mengerti, lalu mengarahkan tongkat itu keempat arah mata angin. "Getaran semakin besar jika aku arahkan kearah Utara, jadi kita akan mencari gumpalan Qi yang besar terlebih dahulu? atau melawan Shen Jian terlebih dahulu?"
Sun Mofa mengelus dagunya, dia benar-benar berpikir keras untuk memutuskan hal ini, "Kita cari gumpalan Qi dulu, baru kita akan melawan Shen Jian. Aku penasaran soalnya."
"Baiklah."
Setelah itu Xin Huang dan Sun Mofa tiba-tiba menghilang dari sana.
***
"Dimana gumpalan Qi itu?" Sun Mofa menggaruk belakang kepalanya saat melihat arah yang ditunjukkan tongkatnya hanya sebuah samudera yang luas.
"Mungkin berada didalam laut." Xin Huang berpendapat seperti itu saat melihat tongkatnya semakin bergetar jika diarahkan kebawah laut.
"Mungkin saja." Sun Mofa mengangkat kedua tangannya keatas.
"Kau mau apa?" Xin Huang sangat heran melihat Sun Mofa yang hendak melakukan sesuatu.
"Memanggang laut ini sampai menguap, aku tidak mau berenang, sebab aku tidak mau buluku basah."
Ctak....
Wushhhhhhhhh
Kepala Sun Mofa hancur disentil Xin Huang, Xin Huang benar-benar tak sengaja melakukan hal itu, dia tidak menyangka bahwa sentilan kecilnya bisa menghancurkan kepala Sun Mofa hingga terberai-berai. "Ups... Maaf."
Wushhhhh
Tubuh Sun Mofa kembali utuh seperti semula, namun dengan tambahan raut muka kesal diwajah Sun Mofa, "Apaansih sial?"
__ADS_1
"Aku hanya mengingatkanmu, bahwa kau bukan monyet lagi saat ini, kau adalah seorang iblis kuno dengan perawakan seperti manusia biasa."
Sun Mofa mengelus-elus kepalanya, dia masih jelas merasakan sakit saat kepalanya pecah dan terburai, "Ya, terserah kau."
Setelah itu Xin Huang menonaktifkan skill terbangnya, lalu menyelam kedalam lautan, disusul juga dengan Sun Mofa yang melakukan hal sama seperti yang dilakukan Xin Huang.
***
"Xin Huang kemana ya....." Disebuah pedesaan kecil yang dihuni oleh hanya puluhan orang saja, Hua Mei menetap disana. Sembari untuk tempat singgah, Hua Mei juga memperkaya desa itu agar bisa lebih makmur, dia melakukan itu karena hatinya tidak tega melihat anak kecil yang kelaparan.
"Katanya satu tahun, kok ditunggu selama 6 bulan penuh malah tidak datang-datang? Apa terjadi sesuatu dengan Xin Huang? Xin... Dimana kau? Aku takut...." Sudah 1 setengah tahun mereka berdua keluar dan berlatih didunia nyata, dan setelah satu tahun terlewati, Xin Huang tak kunjung datang juga padanya, itu membuat Hua Mei khawatir jika Xin Huang kenapa-kenapa, disetiap malamnya dia selalu gelisah, memikirkan suaminya yang tidak menjemput-jemputnya, pikiran-pikiran negatif terus menyerang Hua Mei, jika dibiarkan lebih lama lagi, mungkin Hua Mei akan depresi berat. Memang benar bahwa mental Hua Mei lemah, ditakut-takuti sedikit saja pasti dia akan menangis kencang sembari terkencing-kencing.
"Nona Mei... Kau kenapa?" Seorang pria yang lumayan tampan datang kedalam pondok Hua Mei, dan bertanya padanya karena khawatir melihat wajah Hua Mei yang lesu.
"Tidak apa-apa, Pan. Aku hanya khawatir pada suamiku."
Pria bernama Pan itu terlihat terdiam sejenak, lalu duduk dihadapan Hua Mei. "Percaya saja pada suamimu, nona Mei, dia sangat kuat kan? Bahkan kekuatanmu tidak ada apa-apanya kan dihadapan suamimu?"
Hua Mei menganggukan kepalanya, "Ya... Tapi tetap saja aku khawatir! Didunia yang cacat ini, akan selalu ada ketidakseimbangan, seperti suamiku yang kekuatannya tidak masuk diakal, namun karena alam atas ini hanyalah alam level 2 didunia, pasti akan selalu ada orang yang lebih kuat dari suamiku, dan itulah yang membuatku takut."
Pria itu memiringkan kepalanya, "Dunia level 2? Apa maksudmu nona?"
Hua Mei terkekeh kecil, "Aku tidak akan menjelaskanmu sebelum kau memasuki tahap inti suci, lalu.... Jangan panggil aku nona, panggil saja Hua Mei."
Pria itu tertawa kecil saat mendengarnya, "Aku tidak berani melakukan itu kepada istri dari orang yang mampu membelah langit."
"Baiklah nona Mei, aku harus pergi dulu, tak baik bila berduaan dengan lawan jenis didalam satu pondok."
"Iya... Dadah...."
"Dadah..."
Pria itu keluar dari pondok Hua Mei, meninggalkan Hua Mei yang masih saja tetap khawatir dengan Xin Huang.
***
"Sial, dadaku sakit." Xin Huang tiba-tiba merasakan nyeri dibagian dadanya.
Sun Mofa menaikkan sebelah alisnya, dia benar-benar heran dengan Dewa Hitam didepannya yang tiba-tiba merasakan sakit, "Saat aku ditingkatanmu, aku bahkan tidak perlu bernafas."
"Ini bukan karena aku sesak nafas sial! Ini karena hal yang lain! Hal yang tidak aku ketahui."
Sun Mofa memukul telapak tangannya saat mendengar itu, "Oh! Aku tahu perasaan itu! Itu adalah perasaan yang kurasakan saat keluargaku dibantai oleh tuhan."
Deg....
Xin Huang semakin khawatir saat mendengar itu, "Aduh... Hua'er... Kita temui istriku dulu yuk...."
"Sayang jika kita tidak melanjutkannya, lihatlah getaran ini." Getaran tongkat yang digenggam Sun Mofa, bahkan bisa sampai membuat gelombang-gelombang air yang sangat besar, gelombang air yang mampu menyapu satu negara penuh dengan satu sapuan.
__ADS_1
"Cih! Baiklah, ayo cepat!"
Wushhhhhh
***
"Mama.... Mama...." Lian Mei akhirnya bisa dengan jelas berbicara, dia juga sudah bisa berlari-lari menggunakan kakinya.
"Aku bukan mamamu sayang.... Mamamu sedang pergi...." Bing Lian mencubit gemas pipi Lian Mei.
"Masa?"
"Ehhh... Kau belajar bahasa itu darimana?" Seingat Bing Lian, dia tidak pernah mengajarkan kata itu pada Lian Mei.
"Dari mamah.... Dulu.... Saat aku kecil...."
"Wah... Kau jenius ya." Bing Lian menarik tubuh Lian Mei, lalu memeluknya dengan hangat.
"Mamah.... Kemana adik Bing? Aku ingin bermain dengannya...."
"Aku bukan mamahmu! Panggil aku bibi.... Jika tidak, kuhukum kau...." Bing Lian takut akan disiksa Xin Huang jika mendengar Lian Mei menyebutnya mama.
"Hehehe.... Mamah...."
"Nantang kamu!"
"Ibu...." Tiba-tiba dari balik pintu kamar Bing Xiwang, muncul Bing Xiwang yang sedang berjalan santai sembari mengucek-ngucek matanya.
"Wang'er.... Sini sini...." Bing Lian menarik tubuh Bing Xiwang dan memangkunya dipahanya. "Ternyata anakku jenius juga ya...." Bing Lian tersenyum senang sembari mengelus lembut kepala Bing Xiwang.
"Susu...." Bing Xiwang mengatakan kata-kata singkatnya, sebenarnya karena dia memiliki setengah ras Monster Hitam, dia sudah mampu berbicara lancar, namun entah karena darah Bing Lian, dia jadi serba malas melakukan sesuatu.
"Baiklah..." Bing Lian membuka baju bagian dadanya, dan membiarkan Bing Xiwang menyusu padanya.
Lian Mei cemberut, dan menyentuh dada Bing Lian, "Aku juga mau...."
"Kau sudah besar, kau tidak perlu minum susuku."
"Mamah jahat...."
"Aku bukan mamahmu!"
.
.
.
.
__ADS_1