
"Hua'er, sebaiknya kita tinggal dulu disini..." Xin Huang menunjuk sebuah bangunan dua tingkat dengan plank bertuliskan Matahari Utara.
"Baik Xin.... Aku hanya menurut saja" Hua Mei menganggukkan kepalanya.
"Ya, kau bisa berkultivasi disini..."
"Baik.... Lalu kau mau kemana?"
"Aku hanya ingin jalan-jalan" Xin Huang menjawab dengan senyuman hangat.
"Eh... Kau tidak mau jalan-jalan berdua denganku?" mata Hua Mei terlihat berkaca-kaca.
"Bukan... Aku hanya ingin merenung sendirian" Xin Huang mengelus kepala Hua Mei.
"Oh.... Baiklah Xin, aku masuk"
"Ya...."
Setelah percakapan singkat itu, Hua Mei memasuki penginapan, dan Xin Huang pergi berjalan-jalan.
"Ah... Nostalgia..." Kali ini Xin Huang berjalan kedaerah pinggiran kota Xuan. Dia juga berencana untuk membalas Budi pada bibi Su, seseorang yang selalu membantunya saat sendirian.
....
Setelah berjalan selama 15 menit, Xin Huang akhirnya sampai di daerah pinggiran Kota Xuan.
"Eh? Nak Xin?" seorang ibu-ibu yang ada disana langsung mengenali Xin Huang dalam sekali lihat.
"Halo bibi Su..." Xin Huang melambaikan tangannya.
"Nak Xin!" ibu-ibu yang ternyata Bibi Su itu berlari memeluk Xin Huang.
"Haha...." Xin Huang tersenyum haru.
"Hiks... Kau masih hidup?!" Bibi Su menangis sembari memeluk Xin Huang.
"Tentu saja bibi Su" Xin Huang menepuk-nepuk pundak Bibi Su.
"Saat aku mendengarmu meninggal, aku merasa gagal memenuhi permintaan terakhir Fei Rong" selain karena permintaan Fei Rong, Bibi Su juga mengurus Xin Huang karena dia mengingat anaknya yang sudah meninggal.
"Haha, tak apa Bibi Su, aku masih hidup kan?" Xin Huang mencoba menenangkan Bibi Su.
"Ya, ayo kita ke rumahku" Bibi Su dan Xin Huang pergi berjalan lebih dalam lagi ke daerah pinggiran Kota Xuan untuk pergi kerumah bibi Su.
....
"Oh... Aku ingat dengan rumah ini" sebuah rumah yang lumayan besar, dengan toko roti didepannya terlihat dimata Xin Huang.
"Tentu saja kau ingat, kau kan sering kesini untuk makan...." Bibi Su tertawa kecil saat Xin Huang mengatakannya.
"Ayo masuk...." Bibi Su membawa Xin Huanh masuk kerumahnya.
....
"Ah bibi.... Aku kenyang..." terlihat perut Xin Huang menjadi gendut setelah memakan masakan Bibi Su.
"Kenyang? dulu kau makan tiga kali lipat lebih banyak dari ini"
"Itu dulu bibi..."
"Haha, baiklah baiklah, kau sudah besar"
"Baiklah Bi, aku pulang dulu..."
__ADS_1
"Pulang? pulang kemana?"
"Ada deh..."
"Hmmm.... Main rahasia-rahasiaan ya" Bibi Su menyipitkan matanya.
"Hehe...."
"Ya sudah, sana pergi"
"Baiklah...." sebelum pergi, Xin Huang memberi cincin penyimpanan dengan banyak barang di dalamnya.
"Ini... Ini... Ini... Ini terlalu banyak Xi--" saat Bibi Su menoleh, Xin Huang sudah menghilang dari sana.
"Ah.... Terima kasih Xin'er...." Setitik air mata keluar dari mata Bibi Su.
.....
"Kuharap Bibi Su tidak terkena serangan jantung..."
Setelah pergi dari rumah Bibi Su, Xin Huang berencana berjalan-jalan terlebih dahulu sampai sore.
"Ah... Apa ini?" Xin Huang merasakan 10 aura Inti Emas yang menguncinya.
"Setahuku aku tidak cari masalah" Xin Huang masih santai berjalan-jalan.
"Aku mau main-main dulu ah...." Senyuman lebar menghiasi wajah Xin Huang. Setelah itu, Xin Huang membawa ke sepuluh orang itu ke dalam hutan.
"Keluarlah kalian, semut-semut menjijikan" saat sampai ditengah hutan, Xin Huang berhenti dan memanggil mereka.
"Oh... Kau sungguh berbakat bocah" seorang pria berjubah hitam dengan aura Inti Emas puncak keluar dari bayangan.
"Bukan berbakat, tapi kuat" Xin Huang masih terlihat santai, bahkan saat sepuluh orang itu muncul.
"Menyerahlah bocah! Nona Liu Yan menginginkan kepalamu!" salah satu dari sepuluh orang yang mengepung Xin Huang, berteriak.
"Dasar kau bodoh!! kenapa kau memberitahukannya!!" orang yang berada paling depan berteriak padanya.
"Tak apa bos! lagian dia cuma bocah dungu!"
"Kau yang dung---" Belum sempat dia berbicara, leher mereka sudah terpotong rapih.
[Ding!]
[Ding!]
[Ding!]
[Di....]
[.....]
....
"Teknik Ruang dan Waktu: Teleportasi"
Wushhhhhh
Xin Huang menghilang dari hutan itu.
....
"Hua'er!" Saat Xin Huang dipenginapan, Dia tidak melihat Hua Mei dimanapun.
__ADS_1
"Dimana dia?!" Xin Huang menggunakan persepsinya untuk mencari Hua Mei. "Bajingan...." Xin Huang melihat Hua Mei sedang diikat sembari dihajar oleh Liu Yan dikediamannya.
***
"Dasar kau bajingan!!! Kau merebut Wang Hou ku dengan wajahmu itu!!!" Liu Yan menendang wajah Hua Mei.
"Erghhhh" Hua Mei hanya mengerang kesakitan. Sebelumnya dia dikepung oleh sepuluh kultivator Inti Emas puncak, tentu saja dia tidak punya kesempatan melawan, dia berhasil ditangkap, lalu disiksa oleh Liu Yan habis-habisan.
"Baiklah, saatnya kau mati..." Liu Yan mengeluarkan pedangnya.
"Matilah...." Liu Yan hendak memenggal kepala Hua Mei.
"Xin... Maafkan aku...." Hua Mei menangis, lalu memejamkan matanya.
Wushhhhhhhhhh
Sepuluh orang yang ada dibelakang Liu Yan meledak seperti balon. Lalu pedang Liu Yan dihentikan oleh seorang pemuda hanya dengan tangan kosong.
"A--Apa?!" Saat Liu Yan hendak menebaskan pedangnya, dia merasa ada yang menahan pedangnya.
"Nona... Kau keterlaluan...." Xin Huang terlihat marah saat melihat kondisi Hua Mei.
Krakkk
Xin Huang menghancurkan pedang Liu Yan dengan mudah. "Si--Sial!" Liu Yan melompat kebelakang.
"Nona.... Matilah...."
Crattt
Tubuh Liu Yan meledak seperti balon. "Lalu...." Xin Huang menggendong Hua Mei yang sedang pingsan. "Mungkin karena terlalu takut, dia jadi pingsan" Setelah itu Xin Huang berteleportasi ke rumah yang ada ditengah hutan.
....
"Istirahatlah dulu, Hua'er" Xin Huang merebahkan tubuh Hua Mei di kasur. "Dan..." Xin Huang berteleportasi kembali ke kediaman keluarga Liu.
"Kau harus menerima akibatnya" Xin Huang berjalan masuk kekediaman keluarga Liu.
***
"Erghhh..." terlihat Hua Mei bangun dari pingsannya. "Dimana ini? Bukannya aku tadi sedang disiksa?" Hua Mei melihat keseluruh tubuhnya. "Tak mungkin! tubuhku kembali seperti semula!" Hua Mei terkejut saat melihat tubuhnya kembali mulus seperti sebelumnya. "Dan... Kenapa bajuku berubah?" seingatnya, baju yang dikenakannya kali ini berbeda dengan baju yang dikenakannya tadi.
"Hua'er, kau sudah bangun?" terlihat Xin Huang datang dengan sepanci makanan di kedua lengannya.
"Xin?" Setelah dilihat lagi, Hua Mei sadar bahwa dia berada dirumahnya. "Lalu...." wajah Hua Mei terlihat memerah saat dia ingat bajunya telah berubah.
"Tak usah malu Hua'er, kau kan istriku" Xin Huang mendekati Hua Mei.
"Apa kau yang menolongku?" Hua Mei bertanya dengan wajah yang masih sedikit merah.
"Ya" Xin Huang menuangkan sup dari panci, ke mangkuk.
"Maaf Xin, aku hanya beban" Hua Mei tertunduk sedih dengan wajah murung.
"Mau kau lemah, mau kau kuat. Kau tetap istriku" Xin Huang tersenyum sembari menyuapkan sesendok sup.
"Terima kasih Xin... tapi aku ingin menjadi kuat" Hua Mei membuka mulutnya, dan memakan sup Xin Huang.
"Ya, kau akan kulatih menjadi kuat... Sangat kuat....."
.
.
__ADS_1
.
.