
Zhang Jiao memiliki perawakan besar dengan otot-otot yang terlihat menyeramkan. Dia memakai jubah bertudung berwarna hitam, sehingga wajahnya tidak terlalu jelas. Namun jika tudungnya dilepas, wajah garang dan seramnya akan terlihat, dengan mata berwarna ungu cerah, dan rambut berwarna hitam gondrong.
Tingginya tiga meter, sehingga walaupun dia ditutupi tudung, dia pasti akan menarik perhatian warga.
Pria disebelahnya adalah Jin Xie, memiliki paras yang sangat tampan, dengan perawakan yang sama seperti remaja umumnya.
Rambutnya berwarna hitam pendek, dengan mata berwarna emas cerah. Sama seperti Zhang Jiao, dia juga memakai jubah bertudung hitam. Dia melakukan itu untuk menyembunyikan wajah tampannya dari dunia luar, sebab itu sangat merepotkan.
"Bagaimana? Apakah kompasnya bereaksi?"
Jin Xie mengeluarkan sebuah kompas berwarna emas dari sakunya, Jarum kompas itu terlihat terbuat dari tulang hitam yang mengeluarkan aura mencekam. "Hmmm..... Sebelumnya kompas ini menunjukkan kearah alam atas. Namun 1 Minggu yang lalu, entah kenapa kompas ini berpindah kearah alam emas."
"Berpindah kealam emas? Padahal aku sudah menyiapkan bor kebangganku," Zhang Jiao berucap kecewa sembari meletakkan sebuah bor berwarna ungu emas dipundaknya.
Jin Xie menatap sinis bor itu, "Bor Penghancur Dinding Dimensi. Dikenal sebagai senjata anomali yang mampu menghancurkan dinding batas antara dua alam. Singkatnya, bor itu mampu membuat seseorang mampu berpindah dari satu alam ke alam lainnya dengan sangat mudah. Namun bayarannya tidak main-main, jiwa pemakainya akan terkikis perlahan-lahan saat mengaktifkannya. Sehingga bor itu dilabeli sebagai senjata terlarang, tetapi semua keadaannya berubah setelah Zhang Jiao menyentuh bor itu, entah kenapa bor itu tidak mengikis jiwa Zhang Jiao sama sekali, mungkin karena Bor itu mengakui kekuatan Zhang Jiao."
Zhang Jiao menghela nafas sembari menatap langit. "Lalu dimana letaknya?"
"Letaknya berada di pemuda bermata merah tadi," Jin Xie menjawabnya dengan wajah datar.
Zhang Jiao memejamkan matanya, lalu melotot seketika. "Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku dari tadi bodoh?!"
"Sinyalnya baru saja masuk, mungkin sinyal itu terhalang oleh aura dewa agung," Jin Xie menjawab dengan tenang tanpa rasa takut sama sekali, dia tidak peduli Zhang Jiao marah atau tidak.
"Baru saja masuk? Dewa Agung baru saja datang sekarang! Kau darimana saja selama seminggu itu?!"
Jin Xie menatap tajam Zhang Jiao, "Jangan membentakku bangsat, aku bukan bawahanmu."
Krekkk
Zhang Jiao mencengkeram erat bor besarnya, "Lalu kenapa? Apa kau ingin mati?"
Jin Xie dan Zhang Jiao saling bertatapan dengan tajam, ruang disekitar mereka menjadi sedikit terdistorsi.
Setelah beberapa saat, Jin Xie mengalihkan pandangannya, "Jika bukan demi Pahlawanku, aku sudah meladenimu dari dulu."
Zhang Jiao tersenyum kecil saat mendengarnya, "Heh, jawab saja pertanyaanku tadi."
"Menurut pengalamanku memakai kompas ini selama triliunan tahun, kompas ini akan menunjukkan dengan tepat benda apa yang kita cari. Namun jika sudah beda alam, jarum kompas ini akan menghilang setengahnya, jika ada dialam bawah, bagian atas jarum kompas ini akan menghilang, dan jika ada dialam atas, bagian bawah kompas ini akan menghilang."
"Saat kita masih ada dineraka, bagian atas jarum ini menghilang, menandakan bahwa hal yang kita cari ada dialam yang ada di bawah kita. Dan saat kita menginjakkan kaki kealam emas satu Minggu yang lalu, bagian atas jarum kompas ini masih tetap menghilang. Namun setelah beberapa saat, bagian yang menghilang ini tiba-tiba muncul. Aku yang mengira ini error, terus menyelidiki apa yang ditunjukkan kompas ini. Namun saat aku sampai dikota ini, seluruh jarum kompas ini ternyata tiba-tiba menghilang! Hal ini membuatku sangat terkejut, dan hal itu terjadi tepat beberapa jam setelah kita datang kealam emas ini." Lanjut Jin Xie.
Zhang Jiao merasa kesal dengan penjelasan Jin Xie yang bertele-tele, "Lalu apa? Itu tidak menjawab pertanyaanku yang tadi!"
__ADS_1
Jin Xie menggeram kesal saat mendengarnya, "Maksudku, Dewa Agung itu sudah datang dari satu Minggu yang lalu! Apa kau masih tidak paham juga?"
"Tinggal jawab begitu saja apa susahnya sih?! Apa kau ingin terlihat pintar?!"
"Tutup mulutmu tua Bangka, atau aku akan memutuskan untuk mencarinya sendirian!"
"Jangan mengancamku, dasar bocah!" Zhang Jiao menggenggam erat kepala Jin Xie.
"Lepaskan aku!"
"Berisik!" Zhang Jiao mengangkat tubuh Jin Xie, lalu melemparnya jauh-jauh keatas langit.
***
Didalam dunia pribadi Xin Huang, hari sudah malam. Hua Mei dan Lian Mei tidur dengan nyenyak, dengan Xin Huang yang masih membuka matanya lebar-lebar.
"Mereka sudah tidurkan?" Xin Huang melirik istri dan putrinya. "Ya, mereka sudah tidur," Xin Huang memejamkan matanya, lalu tiba-tiba menghilang dari sana.
.....
Bing Lian terlihat sedang membaca buku didalam kamarnya, kebetulan membaca buku adalah hobinya. Dia tidak sempat membaca buku saat ada Bing Xiwang, sebab dari balik tampang datarnya, Bing Xiwang sangat manja pada Bing Lian.
Bing Xiwang selalu ingin tidur bersama ibunya. Bing Xiwang memang tidak butuh tidur, tetapi saat berada didalam pelukan ibunya, Bing Xiwang akan tertidur dengan sangat pulas. Menunjukkan dengan jelas berapa usia Bing Xiwang, mungkin itu karena Bing Xiwang hanya setengah ras Monster Hitam saja.
"Hmmm...." Bing Lian membaca buku sembari memakan cemilannya, tetapi dia tiba-tiba berteriak saat melihat Xin Huang tiba-tiba muncul disebelahnya.
Sementara itu Bing Lian masih terlihat syok akibat kedatangan Xin Huang yang mengejutkan dirinya, "Jeez... Kenapa kau mengagetkanku seperti itu? Dan untuk apa kau datang kemari? Istrimu tahu mampus kau."
"Tenang saja, aku sudah memberinya obat tidur."
Bing Lian menaikkan sebelah alisnya, "Obat tidur? Kau mau macam-macam denganku ya? Bahkan kau pun tidak tahan saat melihat tubuhku," Bing Lian menggelengkan kepalanya, dia benar-benar heran kenapa bisa terlahir dengan paras yang sangat cantik dan tubuh yang sangat seksi.
"Jangan berpikir yang macam-macam, dasar mesum. Aku hanya ingin menepati janji saja," Xin Huang tahu penyebab Lian Mei tidak terluka sama sekali saat ada diturnamen itu, sebab Bing Xiwang selalu membunuh musuh yang sekiranya bisa membuat Lian Mei terluka, walaupun pada akhirnya, yang paling membuat luka parah ditubuh Lian Mei adalah Bing Xiwang sendiri.
"Menepati janji?" Bing Lian tidak pernah ingat Xin Huang berjanji padanya. Janji yang dia ingat adalah saat dia disuruh mengurus Lian Mei disaat Xin Huang dan Hua Mei pergi, dan janji itu telah ditepati. Jadi dia bingung, ada janji apalagi yang harus ditepati oleh Xin Huang kepadanya.
"Sudahlah nona Bing, tolong duduk dikasurmu."
Bing Lian menuruti kata-kata Xin Huang, dan duduk manis diatas ranjangnya. "Lalu?"
"Lalu diam saja," Xin Huang berjalan mendekati Bing Lian.
Sementara itu jantung Bing Lian berdegup kencang, dia takut akan diperkosa oleh Xin Huang. Melihat perangai Xin Huang yang selalu tidak ramah pada dirinya, Bing Lian takut jika Xin Huang akan main kasar padanya.
__ADS_1
Wajah Xin Huang dan Bing Lian berdekatan, Bing Lian memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa takutnya, walaupun itu tidak berguna.
Xin Huang menatap wajah Bing Lian, dia benar-benar terpesona dengan kecantikan Bing Lian yang seperti Dewi.
[Ups, aku menjadi saksi perselingkuhan.]
Xin Huang mengabaikan kata-kata system, lalu mengalihkan pandangannya pada leher Bing Lian. "Inilah janji yang harus kutepati," Xin Huang melepaskan kalung anjing yang dipakai Bing Lian.
Bing Lian yang merasakan itu, segera membuka matanya, "Apa ini? Apa aku dibebaskan?"
"Dibebaskan? Sejak kapan aku mengurungmu nona Bing? Aku hanya butuh jaminan saja."
"Dan jaminannya telah kau lepas," ucap Bing Lian sembari menyentuh leher putihnya.
"Tidak lah, jaminannya masih ada, tapi tidak bisa dilihat oleh orang lain."
Bing Lian menatap Xin Huang dengan tatapan tidak peduli, "Ya... Okelah."
"Kau tidak ingin tau jaminannya ada dimana?"
Bing Lian menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas, "Jika tidak terlihat, pasti tidak jauh-jauh dari jantung ataupun jiwaku."
"Ih, kau pintar sekali nona Bing, sekali-kali kau harus bagi kepintaranmu pada istriku."
"Ya ya, cepat pergi sana, tidak sopan tau pria berada dikamar wanita terlalu lama."
"Tunggu, masih ada lagi yang harus kukatakan," Setelah itu Xin Huang menjelaskan semuanya pada Bing Lian, menjelaskan tentang perjanjian antara dirinya dan Bing Xiwang.
Bing Lian menutupi mulutnya menggunakan tangannya, "Jahat sekali kau Xin, mengorbankan anakku untuk bisa melindungi anakmu."
"Ini keinginan Bing Xiwang sendiri, walaupun tidak membicarakannya secara langsung, aku tahu isi hatinya, dia benar-benar ingin menjadi murid Dewa Agung," Xin Huang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, tetapi dia tidak sering menggunakannya, dia hanya menggunakannya sekali pada Bing Xiwang.
"Begitu ya.... Jadi aku bisa minta apapun padamu?"
Xin Huang mengangguk, "Ya, kau mau apa?"
Bing Lian mengelus dagunya, lalu menggeleng, "Simpan saja untuk nanti, aku tidak terlalu membutuhkannya."
"Baiklah, sesuai keinginanmu," setelah itu Xin Huang tiba-tiba menghilang dari sana.
.
.
__ADS_1
.
.