Power System

Power System
Hua'er ku....


__ADS_3

Didalam dunia pribadinya, Xin Huang muncul dibelakang halaman rumah kesayangannya. Saat dia datang, dia sangat amat terpana dengan sosok wanita cantik yang sedang menabur bunga diatas makam, kulitnya putih, dengan wajah yang sangat cantik dan imut, bibirnya mungil dan berwarna merah muda, tubuhnya juga sangat eksotis, lekukan-lekukan tubuhnya yang sangat menonjol, membuat pria manapun yang melihatnya, menjadi tegang dan basah, dibagian dadanya, bertengger dua gunung yang ukurannya sedang, mungkin akan terlihat lebih besar jika dia sedang telanjang.


"Hua'er...." Keinginan Xin Huang untuk memeluk wanita itu dari belakang sangat tinggi, namun semua keinginan itu menghilang saat dia melihat nama yang tertulis dibatu nisan itu. "Kok namaku tertulis disitu sih? Aku kan belum mati." Xin Huang dengan perlahan-lahan berjalan mundur untuk pergi lagi dari situ, namun karena keberuntungannya habis, Bing Lian dengan tiba-tiba datang dari arah depan, dan dengan jelas melihat Xin Huang sedang berdiri disana.


"Tuan Xin?" Ucap Bing Lian polos sembari memiringkan kepalanya.


"Huh?" Hua Mei yang mendengarnya, segera mengalihkan pandangannya pada apa yang dilihat Bing Lian. "Xin?!!!" Hua Mei dengan segera beranjak, dan berlari memeluk Xin Huang.


Grep


Xin Huang diam dan menerima pelukan Hua Mei dengan dengan hangat, "Halo Hua'er, kau tambah cantik saja."


Hua Mei tidak menjawab, dia hanya membenamkan wajahnya kedada Xin Huang, dengan pelukan yang semakin erat.


Xin Huang tersenyum tipis, dan mengelus kepala Hua Mei dengan lembut, sementara itu, Bing Lian hanya pura-pura tidak melihat, dan pergi dari sana dengan wajah yang cemberut.


"Kau kemana saja sih? Apa kau tidak tahu bahwa aku sangat kerepotan mengurus Lian Mei? Dia itu gadis yang aktif tau, apa kau tidak takut bahwa gadis kecil itu akan melupakanmu? Dan siapa gadis cantik yang kekuatannya tidak masuk akal itu? Apa dia istri barumu?" Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan oleh Hua Mei, dia benar-benar sangat senang melihat Xin Huang yang akhirnya bisa dia temui setelah beberapa bulan tidak melihatnya.


"Maaf Hua'er, aku sangat sibuk dengan urusan diluar sana, hingga aku tak ada waktu untuk menemuimu." Sebenarnya Xin Huang mempunyai banyak sekali waktu luang saat menunggu Zhou Lin dan Wei Chuan bertarung, namun dia tidak pulang kerumahnya karena takut dengan Hua Mei, walaupun dia tahu bahwa rasa takutnya itu hanya sia-sia. "Oh iya Hua'er, dari semua pertanyaan yang kau lontarkan, sepertinya kau tidak rindu padaku ya?"


Hua Mei menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku tidak merindukanmu! Kau jahat!" Tentu saja Hua Mei sangat marah dengan Xin Huang yang dia duga telah melupakannya, bahkan mungkin saja Xin Huang sudah lupa dengan wajah anaknya.


Xin Huang menghela nafasnya, "Maafkan aku Hua'er, kau memaafkanku kan?"


Hua Mei melipat tangannya, dan menatap Xin Huang dengan marah, "Aku akan memaafkanmu, jika kau menjelaskan siapa wanita berbaju hijau yang baru saja datang!"

__ADS_1


Xin Huang tertawa cengengesan sembari menggaruk belakang kepalanya, "Haha, dia adalah temanku, dia tidak melukaimu kan?"


"Tidak, dia tidak melukaiku, namun dia sudah pergi entah kemana"


"Syukurlah...." Xin Huang mengelus dadanya, karena lega Liu Wen tidak berbuat macam-macam didalam dunianya, jika saja Liu Wen melukai Hua Mei, Xin Huang akan membunuh Liu Wen miliaran kali.


"Emm...." Wajah Hua Mei mulai memerah, dan dia menundukkan kepalanya sembari memain-mainkan jarinya.


"Syukurlah dia tidak melakukan hal yang esktrem, tapi aku masih penasaran dengan makam yang bertuliskan namaku." Bukannya memperhatikan Hua Mei yang sedang malu-malu, Xin Huang malah memperhatikan makam dirinya yang ada dibelakang tubuh Hua Mei. "Hua'er, itu makam siapa?"


"Huh? Itu.... Itu......" Hua Mei terlihat sangat malu saat ingin mengatakan sesuatu, "Itu.... Itu.... Aku buat untuk dijadikan objek kepuasanku...."


Xin Huang melongo tidak percaya dengan apa yang diucapkan Hua Mei, dia benar-benar harus menjaga Hua Mei agar otaknya tidak miring, "Kau gila?"


Hua Mei terlihat cemberut dengan wajah yang masih memerah, "Itu kan gara-gara kau! Imajinasiku tidak bisa membayangkanmu dengan jelas karena kau hanya melakukannya sekali denganku! Jadi aku membuat makammu dan bertingkah seolah aku telah menjadi janda agar aku bisa membayangkanmu dengan jelas!"


"Baiklah..... Emm...... Apa kau ingat bahwa aku memiliki tubuh Dewi kehidupan?"


Xin Huang menganggukan kepalanya, "Ya, aku sangat ingat dengan itu."


Hua Mei tersenyum tipis dengan wajah yang memerah, tangannya dia letakkan kebelakang sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya, dia terlihat imut saat melakukan itu, "Um... Setelah aku meneliti tubuhku lebih dalam lagi, ternyata aku mempunyai kekuatan spesial yang sangat mengejutkan! Itu adalah kekuatan untuk menyerap apapun, seperti Qi ataupun energi kehidupan seseorang."


Xin Huang mengelus dagunya, sembari menganggukan kepalanya, "Ya, lalu?"


Hua Mei semakin melebarkan senyumannya, lalu mendekatkan wajahnya pada Xin Huang, "Tadi saat memelukmu, aku menggunakan kemampuan spesialku untuk menyerap energi kehidupanmu, tapi kenapa kau tidak mati mati?"

__ADS_1


Xin Huang ingin menangis saat mendengar itu, dia benar-benar tertipu dengan tingkah imut dan senyuman manis Hua Mei yang dia tunjukkan tadi, "Hua'er, maafkan aku.... Jangan menyeramkan seperti ini dong.... Kumohon...." Xin Huang memeluk tubuh Hua Mei, dan berbicara dengan nada


bersalah, karena seingat Xin Huang, Hua Mei bisa dengan mudah memaafkannya jika dia bertingkah seperti itu.


"Aku memaafkanmu kok, aku hanya bertanya saja."


"Beneran?"


"Ya, tapi nanti kita tidurnya pisah ya? Soalnya aku lebih suka tidur memeluk Lian'er, daripada dipeluk oleh mu."


Tubuh Xin Huang benar-benar lemas saat mendengarnya, sebab dia sangat antusias saat membayangkan kenikmatan yang akan dia rasakan nanti malam, saat melihat paras Hua Mei yang begitu cantik. "Jangan gitu dong.... Lian'er kita titipkan dulu pada saja Bing Lian satu malam, setelah itu kau boleh memeluk Lian'er sepuasmu."


"Hoho, menitipkan anak pada istri kedua ya? Menarik."


"Tidak! Bing Lian bukan istriku! Dia... Dia.... Dia adalah anjingku!"


"Benarkah? Saat ini, malah kau yang terlihat seperti anjing."


Xin Huang tertunduk lemas saat mendengar itu, "Jahat...."


"Maafkan aku Xin... Tapi aku harus memberi makan anakku dulu." Hua Mei mencium pipi Xin Huang, lalu pergi berjalan dari sana, dia juga tak lupa untuk menghancurkan makam kosong itu sebelum benar-benar pergi dari sana, meninggalkan Xin Huang yang sedang duduk lesu diatas tanah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2