
(Halaman belakang rumah Xin Huang)
Hua Mei berjalan mendekati Xin Huang, lalu berkata, "Xin... Aku sudah bertambah kuat...."
"Ya, aku tahu"
"Kau sudah memberiku pil dan lain-lainnya sehingga aku menjadi kuat"
"Ya... Lalu?"
"Kau memang sudah memberiku semuanya, tapi kau belum pernah memberiku pengalaman nyata"
Xin Huang mengerutkan dahinya, "Pengalaman nyata? Kau mau bertarung denganku?"
"Iya Xin, Kau memang selalu mengerti perasaanku" Wajah Hua Mei terlihat berseri-seri.
"Tapi pertarungan bukan Soal perasaan..."
"Ayo Xin! Kita bertarung!" Hua Mei mengambil posisi bertarung.
"Ayo Ayo saja.... Tapi jangan disini"
Wushhhhhhh
Xin Huang dan Hua Mei menghilang dari sana, lalu mereka berdua tiba-tiba muncul ditempat yang sangat indah dengan pemandangan alam.
"Xin! Bila kau ingin memindahkanku ke duniamu! Bilang-bilang dulu dong!" Perubahan lingkungan yang secara tiba-tiba, membuat perut Hua Mei sedikit mual.
"Sudahlah... Ayo kita bertarung" Xin Huang mengarahkan jari telunjuknya.
"Kau!.... Kau!.... Kau mau melawanku dengan satu jari?!"
"Hehehe, iya. Karena kau lemah, Hua'er" Xin Huang menyeringai.
"Erghhhh!!!" Hua Mei mengangkat lengan kanannya. "Teknik Peri Bunga: Daun Kristal!" Muncul sebilah pedang berwarna hijau kristal, sesaat Hua Mei mengucapkan itu.
"Kau mau apa dengan tusuk gigi itu?Hua'er...?" Xin Huang bertanya dengan wajah mengejek.
"Erghhhh" Hua Mei melesat cepat ke arah Xin Huang. "Teknik Pedang Bunga: Duri Kristal" Hua Mei menghunuskan pedangnya.
Wushhhhhh
Duarrrrrrrrrrrr
Serangan Hua Mei yang sangat penuh dengan kekuatan, bisa ditahan Xin Huang hanya dengan satu jari.
Hua Mei Melebarkan matanya terkejut. Setelah itu, dia mengangkat pedangnya. "Teknik Pedang Bunga: Ledakan Mawar!" Hua Mei mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Sringggggg
Bummmmmm
Duarrrrrrrrrrrrrrrr
Sebuah kawah besar terbentuk akibat serangan Hua Mei. "Ditahan?!" Hua Mei melihat Xin Huang sedang melindungi tubuhnya dengan tangan.
"Ah... Gatal nih!" Xin Huang menggaruk-garuk lengannya.
"Cih!" Hua Mei melompat kebelakang.
"Hua'er, aku ajarkan ya...." Xin Huang mengangkat tinjunya.
Wushhhhhhh
"Dalam pertarungan, jangan lengah sekalipun" Xin Huang memukulkan tinjunya ke perut Hua Mei.
"Khuokkkk" Hua Mei memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.
Duakkkkkk
__ADS_1
Wushhhhhhh
Hua Mei terlempar ratusan meter jauhnya. "Dan jangan pernah berpikir bahwa aku akan menahan diri... Kau ingin pengalaman nyata kan?" Xin Huang menyeringai, lalu berlari ke arah Hua Mei.
"Teknik Peri Bunga: Dandelion Tajam" Hua Mei mengangkat tangannya ke atas.
Wushhhhhh
Muncul bola bunga dandelion raksasa diatas kepala Hua Mei. "Serang!!!" Hua Mei berteriak sembari menunjuk Xin Huang.
Wushhhhh
Wushhhhh
Wushhhhh
Wushhhhh
Bagaikan bunga Dandelion yang terkena hembusan angin, bunga-bunga kecil yang menyelimutinya akan terbang kesegala arah. Hanya saja bunga Dandelion milik Hua Mei berbeda, bunga-bunga kecil yang menyelimutinya akan terbang secara satu arah, dan yang lebih penting lagi, bunga-bunga 'kecil' itu tidak pantas disebut kecil. Bunga-bunga raksasa yang tajam itu, melesat secara bertubi-tubi ke arah Xin Huang.
Duar
Duar
Duar
Duar
Ledakan asap, serta kawah-kawah yang lumayan besar tercipta akibat hantaman bunga-bunga 'kecil' itu. Dan Xin Huang bisa mengindari itu dengan mudah.
"Hua'er, berlatihlah menembak dengan benar", Tentu saja Xin Huang hanya bercanda. Akurasi yang dimiliki Hua Mei sangatlah tinggi, hanya saja lawan Hua Mei kali ini adalah Xin Huang, orang yang kekuatannya diluar nalar. Xin Huang menyiapkan tinjunya, terlihat aura berwarna hitam menyelimuti kepalan tangan Xin Huang. "Teknik Ruang: Pukulan Ruang" Xin Huang memukulkan tinju itu ke perut Hua Mei.
Hua Mei tidak sempat bereaksi dengan kecepatan Xin Huang yang sangat cepat, "Khooook" Hua Mei merasakan perasaan yang teramat sakit dibagian perutnya.
Duakkkkkk
Bummmmmmm
Sama seperti sebelumnya, tubuh Hua Mei terlempar ratusan meter jauhnya. "Hehe, sudah kubilang, jangan lengah sedikitpun"
"Erghhhh" Hua Mei memanfaatkan gesekannya dengan udara untuk menghentikan dampak serangan Xin Huang. "Teknik Peri Bunga: Transformasi"
Duarrrrrrrrrrrrrrr
Sebuah ledakkan besar terjadi, dibalik asap-asap yang menghiasi ledakkan, muncul sebuah raksasa merah yang meraung diudara. "Groaaaaarrrrrrrr"
"Hua'er, kau imut sekali" Xin Huang menanggapi itu dengan senyum santai.
"Grarggghhhhh" Raksasa itu mengayunkan cakarnya ke arah Xin Huang.
Wushhhhhhh
"Teknik Ruang: Pelindung Ruang" Muncul sebuah pelindung berwarna hitam menyelimuti tubuh Xin Huang.
Duarrrrrrrrrrrrrrr
Sebuah ledakkan besar terjadi. Gelombang kejut yang diakibatkan ledakkan besar itu, menghempaskan seluruh tanah-tanah, pepohonan, hingga gunung-gunung yang berjejeran sampai hancur berhamburan kesegala arah.
Ssshhhhhhhh
Asap-asap yang mengepul mulai menghilang, terlihat kawah super raksasa, dengan sebuah bola hitam, yang berdiri kokoh ditengahnya.
"Ah.... Itu kurang Hua'er" Tabir hitam itu menghilang, memperlihatkan seorang pemuda berambut hitam panjang, sedang berdiri tegak dengan senyum santai diwajahnya.
"Groarrrrrr" Raksasa merah itu mengumpulkan Qi dimulutnya. "Teknik Peri Bunga: Meriam Bunga" ucap Hua Mei yang sedang berada didalam tubuh bunga raksasa itu.
Sringggggggg
Bunga-bunga mawar mulai berkumpul didepan mulut raksasa. Mawar-mawar itu mulai berputar, lalu membentuk satu buah piringan spiral dengan cahaya merah ditengahnya. "Groarrrrrrrr"
__ADS_1
Duarrrrrrrrrrrrrr
Serangan projectil merah tertembak dari piringan spiral itu. Serangan itu menghancurkan apapun yang ada dipermukaan tanah. Asap-asap yang menghalangi mulai menghilang, terlihat kawah super raksasa terbentuk akibat serangan itu, juga terlihat seorang pemuda berambut hitam sedang mengangkat tangannya. "Aku tak perlu memakai pelindung ruang, hanya telapak tangan pun aku bisa menahan seranganmu"
"Groarrrrrrrrrr" Raksasa itu meraung, lalu....
Blarrrrrrrrrrrr
Raksasa bunga itu meledak, bunga-bunga yang berperan sebagai pondasi tubuhnya menyebar kesegala arah. "Hehe...." Xin Huang tertawa kecil saat melihat itu.
"Xi-Xin?! Kenapa ini?!" Hua Mei terkejut kaget melihat raksasanya hancur.
"Itu jurusku, Hua'er" Xin Huang berlari kecil untuk menangkap tubuh Hua Mei yang terjatuh.
Grep
Hua Mei terjatuh tepat digendongan Xin Huang. "Halo Hua'er" Xin Huang tersenyum hangat.
"Aku kalah...." Wajah Hua Mei berubah menjadi muram.
"Tak apa Hua'er, kau hanya kalah dariku, mahluk yang kuatnya diluar nalar" Xin Huang menurunkan tubuh Hua Mei, lalu mengelus kepalanya.
"Hahhh.... Baiklah Xin, kuharap aku bisa memukul wajahmu sekali" Hua Mei menunduk murung.
"Hahaha, itu hanya ilusi!" Xin Huang tertawa terbahak-bahak.
"Xin!!! Kenapa kau tidak menyemangatiku?!" Hua Mei heran, kenapa kata-kata semangat untuknya tidak pernah keluar dari mulut Xin Huang?
"Hehe, tak usah kusemangati pun, kau sudah penuh dengan semangat, Hua'er" Xin Huang tersenyum hangat.
"Emm.... Itu hanya perkataan manis kan?" Pipi Hua Mei mulai merona.
"Iya"
"Xin!!!"
"Hahaha.... Ayo pulang" Xin Huang tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba berpindah tempat ke depan rumahnya.
"Fyuhhh.... Sehabis bertarung denganmu, tubuhku terasa gerah...."
"Mandi saja, kenapa harus lapor padaku?"
"Xin.... Apa kau mau mandi bareng denganku?" tanya Hua Mei malu-malu.
"Sial! Hua'er sudah mulai agresif!" Batin Xin Huang terkejut. "Tentu saja tidak mau"
"Kenapa? Apa kau benci padaku?"
"Menolak mandi bareng, bukanlah kebencian Hua'er"
"Tapi... Kita kan suami istri? Apa yang salah? Pasangan yang lainpun begitu kok"
"Pasangan yang lain? Siapa itu?"
"Ayah dan ibuku.... Mereka sering mandi bareng, tapi aku selalu dilarang untuk ikut mandi bareng dengan mereka. Jadi aku ingin mandi bareng denganmu, Xin...."
"Kau pasti sudah tahu kenapa kau dilarang kan?"
"Tentu saja tahu... Jadi kau tidak mau mandi bareng denganku?"
"Tidak"
"Hahhh.... Baiklah" Hua Mei berjalan dengan lesu.
"Tahan Xin Huang... Tahan.... Setidaknya tahan sampai Hua'er berumur 17 tahun" Xin Huang mengelus-elus dadanya.
.
.
__ADS_1
.
.