
Rasanya sangat menjijikan menahan hasrat membunuh untuk waktu yang sangat lama. Jin Xie terus merasakan hal itu selama triliunan tahun lamanya. Namun karena demi sang pahlawan keadilan panutannya, dia bisa menahan rasa itu untuk waktu yang sangat lama.
Menurut Jin Xie, Zhang Jiao adalah manusia yang paling menyebalkan. Tak ada yang bisa membuatnya sekesal itu kecuali Zhang Jiao. Jin Xie memiliki banyak sekali alasan untuk membenci Zhang Jiao, salah satunya adalah Zhang Jiao selalu menganggap dirinya sebagai budak, padahal jika disandingkan, kekuatan mereka setara, tak ada yang lebih lemah, maupun lebih kuat.
Tapi Zhang Jiao yang selalu bersikap superior dihadapan dirinya, membuat Jin Xie benar-benar merasa sangat kesal. Padahal jika alasan Zhang Jiao bersikap superior karena usia, harusnya itu juga tidak masuk akal, sebab usia keduanya juga tak jauh berbeda, hanya terpaut 1-2 tahun saja.
Hanya saja Jin Xie terlihat lebih muda dan tampan karena gen keluarganya.
***
Diatas bangunan panjang yang menjulang keatas, terlihat dua orang pria sedang duduk dan berdiri. Si pria yang besar sedang berdiri, dan pria yang kecil sedang duduk.
"Hey Zhang bajingan."
Sang Pria besar yang sedang berdiri menyahutinya, "Ada apa Jin bocah?"
"Apa kau juga mempunyai hutang Budi pada tuan Xiao?" Ternyata kedua pria itu adalah Jin Xie dan Zhang Jiao. Mereka sedang menunggu kedatangan orang yang mereka cari diatas gedung, sebab mereka juga tidak tahu harus melakukan apa.
Zhang Jiao tersenyum kecil, "Dia adalah keluargaku, jadi pantas saja bukan jika aku menghormatinya?"
"Hanya alasan keluarga tidak terlalu masuk akal untuk rasa hormat yang terlalu tinggi itu," Jin Xie mengakui bahwa rasa hormat Zhang Jiao pada pahlawan keadilannya sangat tinggi, bahkan Zhang Jiao rela meninggalkan anak dan istrinya demi sang pahlawan keadilan.
"Jika kita mendapatkan apa yang kita cari, baru aku akan memberitahunya."
Jin Xie mengangguk, lalu memejamkan matanya, "Sudah muncul."
Zhang Jiao menyeringai lebar saat mendengarnya, "Ayo kita kesana! Tunggu apa lagi?"
Jin Xie menganggukan kepalanya.
Setelah itu mereka berdua tiba-tiba menghilang darisana.
***
Xin Huang muncul ditengah kota bersama Lian Mei, Lian Mei merengek ingin jalan-jalan didunia luar karena bosan tidak ada Bing Xiwang. Biasanya Lian Mei selalu bermain dengan Bing Xiwang, tetapi karena Bing Xiwang sudah pergi, Lian Mei tidak punya teman main lagi.
Xin Huang yang tidak mau anaknya sedih, tentu saja menurutinya, sebab Lian Mei sendiri pun masih sedikit terpukul karena tidak bisa menjadi murid Shen Jian.
"Ayah, sekarang aku hanya ingin jalan-jalan, besok aku akan full latihan,"
Xin Huang mengangguk, "Ya, tak apa-apa."
Saat keduanya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba muncul dua orang pria dihadapannya, hal itu membuat Xin Huang dan Lian Mei terkejut
"Wah wah, ternyata masih bocah," Ucap Zhang Jiao sembari menepuk kepala Xin Huang.
Jin Xie hanya mengiyakannya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Xin Huang sedikit risih saat kepalanya digenggap pria besar dihadapannya. "Status,"
[Nama: Zhang Jiao]
[Level: Dewa Hitam (18)]
[Nama: Jin Xie]
[Level: Dewa Hitam (18)]
Xin Huang sedikit tertegun saat melihat level keduanya, jika dia bertarung dengan keduanya, dia yakin bisa dikalahkan dalam waktu satu detik saja. Namun itu jika mereka berdua bertarung dengan kekuatan penuh.
"Jelaskan bocah Jin!"
Jin Xie mengangguk lalu berjalan mendekati Xin Huang, "Kami sedang mencari sampel darah dari ras raksasa, apa kau mau memberikannya?"
Xin Huang menyunggingkan sudut bibirnya, "Apa yang akan terjadi jika aku tidak mau memberikannya?"
Jin Xie menatap Zhang Jiao.
Zhang Jiao mengangguk, lalu mengeluarkan bornya. "Maka neraka lah hadiahnya jika kau tidak ingin menurut."
Zhang Jiao menempelkan ujung bor itu keleher Xin Huang.
"Haha, neraka ya, kebetulan tujuanku selanjutnya adalah neraka," Xin Huang menganalisa Bor yang hampir tertancap dilehernya. "Analisa dong system."
[Nama: Bor Penghancur Dinding Dimensi]
[Level: Dewa
Xin Huang tersenyum lebar saat mendengarnya, "Tuan-tuan, bagaimana jika kita membuat kontrak?"
Zhang Jiao menaikkan sebelah alisnya sembari saling tatap dengan Jin Xie.
"Kontrak?" Jin Xie tahu Zhang Jiao rada-rada bodoh, jadi dia inisiatif mengambil percakapan tentang kontrak yang dibicarakan Xin Huang.
"Ya, tapi sebelum itu, ayo kita cari tempat yang nyaman,"
Jin Xie menyipitkan matanya, dia benar-benar curiga pada Xin Huang, "Kekuatanmu berada dibawah kami, jadi buat apa kami menuruti semua perkataanmu?"
Xin Huang tersenyum, lalu menyentuh ubun-ubun kepala Lian Mei.
Wushhhh
Lian Mei tiba-tiba menghilang dari sana, meninggalkan wajah keterkejutan Zhang Jiao dan Jin Xie.
"Aku ini pengguna ruang dan waktu. Aku bisa membuat dunia pribadi yang hanya akulah yang bisa memasukinya, jadi jika kalian tidak mau bermain lembut denganku, aku bisa saja kabur dengan mudah."
__ADS_1
Jin Xie terdiam, "Bagaimana aku bisa percaya bahwa kau tidak akan berkhianat?"
"Ini akan kita bicarakan nanti."
Jin Xie dan Zhang Jiao saling menatap, lalu menganggukan kepalanya.
***
Xin Huang dan kedua orang itu memutuskan untuk membicarakan semuanya direstoran terdekat.
Xin Huang pun sedikit bingung kenapa mereka malah memutuskan berbicara direstoran, padahal restoran adalah tempat yang paling ramai.
Saat ini Xin Huang dan keduanya sedang duduk direstoran, mereka tidak memesan apapun, sebab mereka tidak butuh makan.
"Kenapa restoran?" Ucap Xin Huang sembari menatap kesekitarnya. Xin Huang memesan di lantai 2, dia tidak bisa memutuskannya, sebab kedua orang misterius itulah yang memesannya.
"Kenapa banyak tanya?" Tanya balik Jin Xie dengan nada nyolot.
Xin Huang menggeleng, dia tidak mau meneruskan masalah sepele itu. "Baiklah, akan kujelaskan kemauanku."
Zhang Jiao menggebrak meja, matanya melotot menusuk insting Xin Huang, "Kenapa kemauanmu? Apa kau merasa superior karena memiliki jaminan?"
Xin Huang tersenyum kecil, "Tolong jangan berpikiran negatif, kalian tidak perlu memberi tahu kemauan kalian, karena kalian sudah memberi tahunya tadi, apa aku benar?"
Zhang Jiao mengerutkan dahinya, lalu memejamkan mata, "Cih, cepat katakan saja!"
"Baiklah. Diumur kalian yang sudah tidak bisa dihitung lagi, apa kalian bersedia menunggu selama 2 tahun?"
Jin Xie menaikkan sebelah alisnya, dia masih bingung dengan pertanyaan Xin Huang, "Ya, kami bisa, asalkan kau memberi tahu apa alasannya."
"Beberapa tahun silam, aku memiliki janji pada seseorang, dan kebetulan untuk bisa menepati janji itu, aku harus pergi ke neraka. Namun, aku harus melakukan sesuatu dulu di dunia ini, dan hal itu membutuhkan waktu dua tahun, apa kalian bersedia?"
Jin Xie masih tidak mengerti apa yang Xin Huang butuhkan dari dirinya, "Sebenarnya kau membutuhkan apa dari kami? Jangan bertele-tele bocah, waktu sangat berharga bagi orang tua seperti kami."
"Aku membutuhkan bor yang dimiliki temanmu untuk pergi ke neraka. Sebab setahuku, untuk pergi ke neraka kau harus berbuat dosa lalu mati, dan aku tidak mau melakukan itu."
Jin Xie mengangguk tanda paham, "Baiklah, tapi berikan dulu darah ras raksasa itu."
"Hehe, kita harus menggunakan cara yang adil dan benar."
Xin Huang mengarahkan telunjuknya diudara kosong, dia terus melakukan itu seolah sedang menggambar sesuatu, hingga setelah beberapa saat berlalu, kertas putih polos terbentuk dihadapan ketiganya.
"Kertas kontrak ya?"
.
.
__ADS_1
.
.