Power System

Power System
Cinta Pedang


__ADS_3

Xin Huang benar-benar bingung harus menjawab apa, sebab pertanyaan yang dilontarkan Hua Mei terlalu banyak, bahkan dia tidak bisa terlalu jelas mendengar apa yang Hua Mei katakan. "Tenanglah Hua'er, katakan semuanya pelan-pelan." Ucap Xin Huang sembari memeluk tubuh Hua Mei.


"Kenapa kau lama sekali....?"


"Maaf Hua'er, aku memiliki urusan yang sangat penting! Bahkan nyawaku hampir melayang akibatnya! Tolong maklumi saja ya....." Xin Huang bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak berbohong, jadi Xin Huang lebih memilih berbohong daripada harus mendengar ocehan Hua Mei.


"Benarkah? Kau tidak bohong kan?"


Xin Huang mengusap lembut kepala Hua Mei, "Apakah suamimu ini suka berbohong? Sekalinya aku berbohong pasti hanya untuk becanda."


"Baiklah Xin, aku percaya padamu...." Setelah itu Hua Mei menatap para warga desa yang dia lindungi. "Xin...."


Xin Huang bisa mengerti apa yang mau di katakan Hua Mei, jadi dia dengan segera membuat sebuah formasi pelindung yang bisa diatur sesukanya oleh para warga, dan dia juga memberi banyak harta para warga itu, dia tidak peduli mereka lurus atau bengkok, jika Hua Mei memintanya, dia pasti akan menurutinya.


Para warga berterimakasih, pria yang waktu itu menenangkan Hua Mei, tidak berani berbicara banyak pada Hua Mei saat melihat sosok Xin Huang yang benar-benar mengerikan, mungkin para warga yang lain tak bisa mengetahuinya, namun pria itu bisa dengan mudah mengetahui itu karena instingnya yang benar-benar tajam.


Setelah itu Hua Mei berpamitan pada para warga, lalu pergi kedunia pribadinya bersama Xin Huang.


***


Wushhhhhh


Disetiap paginya, Lian Mei selalu berlatih pedang bersama Liu Wen, entah kenapa Liu Wen benar-benar tertarik melatih Lian Mei seni pedang, mungkin karena Lian Mei yang benar-benar berbakat menggunakan pedang. Bing Lian mengizinkan itu, namun hanya sebentar saja, dia tidak mau kulit Lian Mei menjadi kasar karena terlalu sering berlatih.


"Lian'er, waktu berlatihmu sudah habis, sini makan dulu." Bing Lian berteriak pada Lian Mei, sebab tempat latihan Lian Mei dan tempat duduk Bing Lian memiliki rentang jarak yang lumayan jauh.


"Ahh.... Aku masih mau berlatih.... Plis ya mamah? Kumohon...." Pertama kali Lian Mei memegang pedang, entah kenapa dia langsung merasa tertarik dengan pedang, dia merasa bahwa jodoh dia yang sebenarnya adalah sebuah pedang, sebuah senjata yang sangat simpel dan sederhana, namun sangat mematikan dan berbahaya, tapi dari balik kengerian sebuah pedang, Lian Mei mampu melihat sosok indah dan cantik dari sebuah pedang, sehingga dia menjadi sangat terobsesi dengan yang namanya pedang.


"Jangan panggil ak-" Bing Lian melebarkan matanya, seluruh tubuhnya terasa merinding dan bergetar, dia tidak mampu lagi membuka mulutnya untuk berbicara.


"Mamah? Tolong jelaskan semua ini, nona Bing....." Ternyata yang membuat Bing Lian ketakutan sedemikian rupa adalah Xin Huang yang tiba-tiba muncul dari udara kosong.


"Ayah?" Lian Mei sangat terkejut saat melihat sosok pria tampan yang tiba-tiba muncul, dia dengan segera berlari kearah pemuda itu, dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Xin Huang menarik kembali aura intimidasinya, seluruh rasa kesal yang dia rasakan seketika menghilang saat dipeluk oleh gadis imut berumur 2,5 tahun. "Li-Lian'er?" Xin Huang tak menyangka anaknya sudah tumbuh menjadi lebih besar dan bisa dengan bebas berlari-lari.


"Halo ayah, aku merindukanmu." Lian Mei tersenyum manis pada Xin Huang, dan meminta Xin Huang untuk menggendongnya.


Xin Huang dengan senang hati menggendong tubuh Lian Mei yang mungil, dia juga bisa mencium bau wangi yang keluar dari anaknya. "Harum sekali kau Lian'er.... Kau ternyata masih kenal ya dengan ayah? Ayah senang deh...."


"Hehe, aku masih bisa mengenali ayah, bahkan saat ayah pergi ribuan tahun lamanya."


Hati Xin Huang sedikit tertusuk, namun dia dengan segera mencium dahi mungil Lian'er, "Kau menyindir ayah ya? Tak mungkin kan bila ayah meninggalkan anak seimut ini selama ribuan tahun?"


"Hehe, aku sangat sayang pada ayah... Aku tidak akan menyindir ayah yang sangat kusayangi."


"Hehe..." Xin Huang menempel-nempelkan pipinya pada pipi Hua Mei.


"Oh iya ayah, ibu mana?"


"Ibu sedang mandi sayang, biasalah..."


Xin Huang menaikkan sebelah alisnya, "Huh? Latihan pedang?"


"Ya! Didunia ini ada lima orang yang paling kucintai. Yang kelima adalah Nona Liu Wen, yang keempat adalah Mamah Bing Lian, yang ketiga adalah pedang, dan yang kedua dan pertama adalah ayah dan ibu! Ayah mengerti itu kan?"


Xin Huang tersenyum senang sembari menganggukan kepalanya, "Aku mengerti sayang, tapi kau baru boleh berlatih pedang saat umurmu lima tahun, untuk saat ini, kau jangan latihan pedang dulu. Kau mengerti itu kan sayang?"


Lian Mei sedikit cemberut, namun dia mengerti apa yang dikhawatirkan oleh ayahnya, "Baiklah....."


"Anak baik.... Tapi omong-omong, kenapa kau memanggil nona Bing Lian mamah?"


Lian Mei cekikikan kecil, "Entah kenapa aku sangat suka memanggilnya mamah, mungkin karena bibi Bing Lian imut? Ayah tak keberatan kan?"


Mau tak mau Xin Huang harus mengiyakan, sebab dia tidak mau Lian Mei kehilangan senyumannya lagi, "Tentu saja, itu hanya sebuah sebutan kan?"


"Terimakasih ayah!"

__ADS_1


"Sama-sama...."


"Baiklah ayah, aku pergi mandi dulu ya..."


"Iya."


Setelah itu Lian Mei memeluk Xin Huang sekali lagi, lalu pergi berlari kedalam rumahnya.


Melihat sosok Lian Mei yang perlahan-lahan menghilang, membuat hati Bing Lian menjadi gemetar tak karuan, Liu Wen yang tidak mau kena masalah, menggunakan kekuatannya untuk kabur dari sana.


Xin Huang tersenyum lalu duduk disebelah Bing Lian, dia juga menggenggam lengan Bing Lian yang sangat lembut dan halus. "Saat kau masuk ke level Dewa Daratan, kau pasti pernah merasakan sakitnya petir kesengsaraan kan?"


Bing Lian menganggukan kepalanya, telapak tangannya sudah penuh dengan keringat karena digenggam oleh Xin Huang, yang jelas-jelas itu bukanlah genggaman tangan hangat, namun genggaman tangan yang penuh dengan kebencian.


"Jika kau tidak bisa membuatku puas dengan jawabanmu, kau akan merasakannya lagi sebanyak ribuan kali."


Bing Lian merasa ingin menangis, dia benar-benar takut dengan tatapan tajam Xin Huang. "Maafkan aku.... Kau tahukan itu bukan kemauanku, aku hanya tidak tega saja melihat mata bulat Lian Mei yang selalu dia tunjukkan saat meminta sesuatu."


Xin Huang menganggukan kepalanya, "Kau memang hebat, bahkan aku tidak perlu mengatakan pertanyaannya untuk kau menjawabnya." Setelah itu Xin Huang melepas genggam tangannya, dan mengeluarkan sebuah pedang yang mengeluarkan aura dingin sangat mencekam dari dalam cincin penyimpanannya. "Maafkan aku karena terlalu kasar nona Bing, ini hadiah yang kujanjikan saat aku ingin pergi dulu." Xin Huang memberikan pedang itu kepada Bing Lian.


Mata Bing Lian berbinar-binar dan menerima itu dengan senang hati, sebab pedang yang diberikan Xin Huang, bukan hanya piring bekas biasa, namun sebuah senjata mitos yang sangat langka. "Te-Terimakasih Xin Huang...."


Xin Huang tersenyum manis, "Aku yang harusnya berterimakasih kepadamu Nona Bing, kau sudah mengurus anakku dengan sangat baik, bahkan dia terlihat lebih sehat daripada saat dia diurus oleh istriku."


"Hehe, aku sudah terbiasa mengurus anak saat masih kecil dulu, sebab adikku sangat banyak, dan akulah yang paling tua." Kehidupan Bing Lian dulu sangatlah damai, bahkan dibalik tubuh Yin nya yang dingin, dia mempunyai hati yang sangat hangat, namun semua itu berubah saat seorang penjual budak menculiknya, dan Liang Guang membelinya. Entah kemana seluruh adik-adiknya pergi, Bing Lian tidak pernah mengetahui itu, sebab kejadian itu terjadi puluhan ribu tahun lalu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2