Power System

Power System
Menghadiri Pernikahan


__ADS_3

Setelah mengamati gunung api itu secara seksama, Xin Huang melanjutkan perburuannya. Hingga akhirnya satu Minggu berlalu, dan Hua Mei belum saja sadar. Xin Huang sangat khawatir dengan keadaan Hua Mei, bahkan label tabib Surgawinya tidak bisa membantu sama sekali, dia terus mencari cara agar Hua Mei bisa lebih cepat sadar, Xin Huang sangat ingin pergi menghadiri pernikahan Bai Jian bersama istrinya, tapi setelah mencoba ratusan kali, Hua Mei masih belum juga sadar.


Xin Huang mengelap dahinya, lalu menghela nafas, dia berpikir bahwa dia akan menghadiri acara pernikahan Bai Jian sendiri saja, bahkan bila Xin Huang tidak mau melakukan itu, dia terpaksa untuk melakukannya.


Karena waktu yang mepet, Xin Huang terpaksa harus berteleportasi untuk pergi kekota Hitam. Sesampainya disana, Xin Huang baru ingat sesuatu, "Bai Jian kan bukan orang kota Hitam!" Entah kenapa pikiran Xin Huang menjadi tumpul, dia mengira bahwa pernikahan Bai Jian diadakan dikota Hitam, padahal kota Hitam itu berada didalam kekuasaan sekte Es Abadi.


Setelah berpikir sebentar, Xin Huang membuka peta sistemnya. Didalam peta sistem, terlihat sebuah titik Biru yang menunjukkan dimana dirinya berada, sementara dibagian Utara peta, tertulis Sekte Pedang Agung. Sekte Pedang Agung memiliki wilayah kekuasaan yang sangat besar, sekte itu menguasai seluruh bagian Utara benua Xiongwei, membuat sekte itu disegani oleh banyak orang.


Setelah melihat-lihat lagi, Xin Huang memutuskan untuk berteleportasi kebagian hutan yang ada didekat Sekte Pedang Agung.


Blink!


Xin Huang tiba-tiba menghilang dari sana, lalu muncul ditengah kawasan hutan yang terletak beberapa kilometer jauhnya dari Sekte Pedang Agung. Xin Huang mengelap bajunya yang kotor akibat debu, lalu berjalan ke arah Sekte Pedang Agung.


Setelah berjalan selama 15 menit, akhirnya Xin Huang bisa melihat jalan setapak. Xin Huang terus berjalan di jalan setapak itu, hingga Xin Huang bisa melihat banyak kereta-kereta kuda yang sedang berjalan didepannya. "Ini pernikahan patriak sekte besar, sudah pasti akan ramai dengan tamu undangan" Gumam Xin Huang, lalu dia melanjutkan perjalanannya hingga terlihat sebuah tembok super raksasa didepan matanya. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, Xin Huang tertarik dengan sebuah Pedang Super Raksasa yang terletak ditengah-tengah kota. "Hebat....." Xin Huang sangat terpana melihat pedang raksasa itu.


[Itu adalah pedang milik jendral raksasa kerajaan Anzhen. Saat jendral raksasa itu mati, pedangnya menancap ditanah, dan tubuhnya sudah lapuk dimakan waktu, sehingga Sekte Pedang Agung dibangun diatas mayat, dengan pedang raksasa itu sebagai pusatnya]


"Kau kadang tahu sesuatu, kadang tidak tahu sesuatu"


[Ilmu sistem menggunakan cara random]


"Bercanda kau sistem" Xin Huang mengakhiri pembicaraannya, lalu mendekati gerbang. Setelah sudah sampai didekat gerbang, dan hendak memasukinya, Xin Huang tiba-tiba ditahan oleh salah satu penjaga.


"Tuan, tolong tunjukkan kartu pengenal anda, bila tuan ingin masuk kekota ini" ucap penjaga itu sopan, memang sudah seharusnya penjaga itu sopan, bila tidak sopan, dan tidak sengaja menyinggung orang kuat, sudah dipastikan bahwa dia akan hancur.


"Ini" Sebelumnya Xin Huang sudah membuat kartu pengenal dikota Hitam, sehingga Xin Huang tenang-tenang saja saat ditanya kartu pengenal.


Penjaga itu mengambil kartu Xin Huang, lalu melihatnya. Setelah dirasa sudah aman, Xin Huang diperbolehkan masuk. "Silahkan masuk tuan" Penjaga itu menunduk hormat sembari mengembalikan kartu Xin Huang.


Xin Huang sangatlah senang melihat penjaga yang begitu sopan, dia mengambil kartunya, lalu memberi penjaga itu sekantong emas.


Awalnya penjaga itu menolak, tapi karena Xin Huang memaksa, penjaga itu dengan terpaksa mengambil uang itu, walaupun tak terlalu terpaksa juga, siapa yang bisa menolak godaan uang?

__ADS_1


Setelah itu, Xin Huang memasuki kota pedang, kota dimana Sekte Pedang Agung berdiri. Xin Huang terus berjalan ke arah pusat kota, tempat dimana pernikahan Bai Jian diadakan. Darimana Xin Huang tahu? dia tahu dari kereta-kereta kuda yang diduga tamu, dan mengikuti kereta-kereta itu. Setelah mengikuti kereta-kereta selama 15 menit, akhirnya Xin Huang sampai dipusat kota. Dipusat kota sendiri terlihat sebuah bangunan besar dengan banyak dekorasi-dekorasi yang menghiasinya, bangunan itu juga penuh dengan lautan manusia. Setelah puas melihat, Xin Huang memasuki bangunan itu, tapi sebelum Xin Huang memasuki bangunan itu, dia dicegat oleh seorang pria tua dengan pakaian putih dan simbol pedang emas dibagian belakangnya.


"Apa kau punya kartu undangan?" Ucapnya datar.


"Tidak, tapi aku punya ini" Xin Huang menunjukkan kartu VIP pada pria itu.


"V-VIP!" Pria tua itu terkejut sembari melebarkan matanya. Seseorang yang mempunyai kartu VIP sudah pasti memiliki status yang kurang lebih sama dengan patriaknya. Bila seorang VIP itu tersinggung dengan perkataannya tadi, sudah pasti dirinya akan hancur.


"Bagaimana? Apakah ini cukup?"


"Te-Tentu saja!" Penjaga itu berbicara gugup dan mengeluarkan keringat dingin dipunggungnya.


Xin Huang tak menjawab. Setelah itu, Xin Huang memasuki bangunan besar itu, didalamnya terlihat banyak sekali orang-orang yang sedang bercengkerama, dan hanya Xin Huang saja yang sendirian, dia merasa kesepian akibat tidak ada Hua Mei yang menemaninya "Fyuh...." Xin Huang menghela nafas, lalu mencari tempat duduk.


Tak berselang lama Xin Huang duduk, tiba-tiba datang seorang wanita cantik yang mengenakan baju berwarna biru langit, dan setelah dilihat lagi, ternyata itu adalah Xiu Lan, "Wah, kau sendiri saja nih?" ucapnya centil. Setelah itu, dia duduk disebelah Xin Huang.


"Kau terlalu tua untuk bersikap centil" jawab Xin Huang datar.


"Tuan Xin, kau kan tahu bila tidak sopan membicarakan umur dengan wanita"


"Tuan Xin, apa kau tertarik untuk datang ke rumahku saat acara ini selesai?"


"Untuk apa?"


"R-A-H-A-S-I-A" ucap Xiu Lan dengan senyuman manis.


Xin Huang menganggukan kepalanya untuk menjawab Xiu Lan. Dan kenapa Xin Huang mau mengikuti apa kata Xiu Lan? Itu karena dia penasaran apa yang membuatnya menarik Dimata Xiu Lan, bahkan orang sekuat Liang Guang saja tidak bisa menarik perhatian Xiu Lan.


***


Setelah 5 jam, acara pernikahan Bai Jian dengan istrinya sudah selesai. Setelah memberi hadiah dan ucapan-ucapan doa, Xin Huang pergi dari sana dengan Xiu Lan disampinya. Sebenarnya acara itu belum selesai, masih ada pesta yang akan diadakan setelah proses pernikahan, hanya saja Xin Huang malas melakukan itu, jadi dia memanggil Xiu Lan, dan pergi dari sana.


"Tuan Xin, rumahku ada dikota Hitam, jadi pasti akan memakan waktu yang sangat lama, kuharal tuan Xin tidak bosan" Xiu Lan mempersilahkan Xin Huang memasuki kereta kudanya.

__ADS_1


"Apa kau gila?" Bila memakai kereta kuda, sudah pasti akan memakan waktu berbulan-bulan untuk sampai ke kota Hitam, dan Xiu Lan tetap ingin memakai kereta kuda? Apa dia gila? Pikir Xin Huang.


"Aku tidak gila tuan Xin, aku hanya ingin lebih dekat denganmu, dan waktu yang berbulan-bulan itu bisa membuatku lebih dekat dengan tuan Xin" Xiu Lan tidak tersinggung dengan perkataan Xin Huang, dia sendiri sudah tahu bahwa dia akan mendapatkan pertanyaan itu.


"Dekat? Maksudmu dekat seperti apa?"


"Bisa menjadi teman bisnis, teman, teman dekat, atau.... Istri...." Xiu Lan mengucapkan kata terakhir itu secara berbisik-bisik di sebelah telinga Xin Huang.


"Nona Xiu, kau pasti sudah tahu kan bahwa aku sudah punya istri?" Xin Huang semakin yakin bahwa wanita didepannya sudah gila.


"Kau terlalu kuno, tuan Xin. Sudah tak aneh lagi bahwa seorang pria mempunyai dua istri" Xiu Lan terkekeh kecil.


"Dan kau ingin menjadi nomor dua?"


"Menjadi yang kedua pun tak apa, yang penting kau adil padaku"


"Tidak mau, bila hanya itu yang ingin kau bicarakan, sebaiknya aku tidak usah pergi kerumahmu" Xin Huang membalikkan badannya. Tapi sebelum berbalik, lengan Xin Huang sudah ditahan oleh Xiu Lan.


"Aku hanya bercanda tuan Xin, lagian aku sudah punya suami" Xiu Lan tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


"Baiklah, aku mau kerumahmu, tapi tidak dengan kereta kuda"


"Lalu? Terbang?"


"Tidak" Xin Huang memeluk Xiu Lan.


"Eh?" Pipi Xiu Lan merona saat dipeluk Xin Huang, dia merasa bahwa pelukan Xin Huang sangatlah hangat, beda dengan pelukan suaminya, bahkan suaminya tidak pernah memeluk Xiu Lan.


"Teknik Ruang dan Waktu: Teleportasi" Xin Huang dan Xiu Lan tiba-tiba menghilang dari sana.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2