
Lian Mei terus menyusuri seluruh pulau dan mengalahkan musuhnya hingga satu jam berlalu. 300 plat nomor sudah dia dapatkan diwaktu satu jam itu.
Hal itu membuat para penonton yang tadinya memerhatikan anak bangsawan, menjadi beralih memerhatikan Lian Mei.
"Hey, apa dia anak dari seorang master pedang? Kekuatannya tidak main-main diumurnya yang belia itu! Apalagi teknik pedangnya, teknik pedang itu benar-benar menyeramkan!"
"Ya, dia memang hebat, namun jika kau bertanya siapa yang paling hebat, itu tentu saja peserta bocah monster itu! Dia bisa mengalahkan ribuan lawan hanya dengan berdiri santai saja!"
Para penonton kembali mengalihkan pandangannya pada Bing Xiwang. Dilayar penonton, terlihay Bing Xiwang sedang duduk diatas ribuan mayat peserta, pemandangan itu benar-benar tak cocok untuk anak berumur dibawah 10 tahun.
"Yah.... Kau memang benar, namun itu tidak indah."
Para penonton mulai ribut berdebat siapa yang paling kuat. Ada yang memilih Lian Mei, ada juga yang memilih Bing Xiwang. Namun karena Lian Mei adalah seorang gadis cantik yang berhati baik, para penonton kebanyakan memilih Lian Mei, dan kebanyakan yang memilih Lian Mei adalah laki-laki.
***
"Bajingan! Memang ini bukan dunia nyata, namun apa kau tega membunuh ribuan orang seperti itu?! Apa kau seorang monster?!" Teriak seorang gadis cantik berambut pirang, dengan Jirah besi yang menutupi tubuhnya. Dan terlihat tangan kirinya sudah hancur, mungkin karena pertarungan yang dia lalui.
"Ini kan cuma turnamen, dan mereka nanti akan hidup lagi, buat apa menaruh empati pada mereka?" Bing Xiwang menjawab dengan santai. Kondisinya kali ini benar-benar menyeramkan, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup akibat darah dari orang yang dia bunuh, dan sesuatu yang didudukinya saat ini, adalah tumpukan mayat yang terbuat dari 4500 orang.
"Bayangkan mereka bertanding untuk keluarga mereka, dan saat keluarga mereka melihat anaknya mati seperti itu, apa kau tidak sedih membayangkan wajah mereka?!" Gadis cantik berambut pirang itu juga sedang merasakannya, dia berjuang dengan keras untuk bisa menaikkan derajat orang tuanya. Namun begitu dia melihat monster bocah yang ada didepannya membunuh orang sesuka hati, membuat hatinya benar-benar sakit.
"Buat apa aku memikirkan itu? Itukan bukan urusanku." Bing Xiwang menggaruk telinganya dengan malas, dia benar-benar tidak suka meladeni orang yang terlalu baik.
"Bukan urusanmu?! Kau tidak pernah merasakannya sendiri! Jadi jangan berbicara seperti itu! Dasar katak dalam sumur!" Gadis cantik berambut pirang itu mengangkat pedangnya keatas. "Jangan pernah meremehkan hidup seseorang, disaat kau berada diatas angin! Sebab jika kau melakukan itu, kau akan segera mendapatkan karmanya!" Gadis cantik itu menginjak tanah, lalu menerjang Bing Xiwang.
__ADS_1
Wushhhhhh
Bing Xiwang bergeming tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Saat pedang gadis cantik itu hampir mengenai leher Bing Xiwang. Pedang itu langsung hancur seketika, gadis cantik berambut pirang merasa bahwa yang dia tebas saat ini, adalah sebuah besi yang super keras, bahkan besi juga tidak sekeras itu!
"Apa kau benar-benar.... Monster?" Tangan sang gadis gemetaran hebat, dia merasa bahwa dia telah salah memilih lawan saat ini.
Grep....
Bing Xiwang tiba-tiba mencekik leher sang gadis. Hal itu membuat seluruh tenaga sang gadis habis, sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kau tanya apa aku monster? Ya! Aku memang monster, lalu kenapa?!" Bing Xiwang membanting gadis itu keatas tanah.
Buakkkkkk
"Kau bilang bahwa kita harus menghargai nyawa seseorang saat kita berada diatas angin? Teori bodoh apa itu?! Orang lemah itu harus dikerasi! Bukan dimanja! Mau jadi apa jika orang lemah dan miskin dimanja?! Yang ada mereka akan menjadi semakin malas, dan akan terus berada dibawah selama-lamanya! Hanya membuang-buang tenaga saja untuk membenahi orang miskin!" Bing Xiwang membanting sang gadis sekali lagi.
Buakkkkkkk
"Buang saja semua rasa empatimu, dan kau akan menjadi orang yang lebih tinggi dan besar. Jangan buang-buang tenaga hanya untuk mengurusi sesuatu yang bukan urusanmu." Setelah berbicara, Bing Xiwang mematahkan leher gadis itu agar sang gadis mati.
Krekkkkkk
Dan akhirnya sang gadis mati dengan mata yang melotot. "Kakak Lian Mei, dimana kau kakak Lian Mei?" Bing Xiwang melayang diudara, lalu melesat cepat diatas langit.
__ADS_1
***
"Wang'er, kenapa kau jadi jahat begitu?" Bing Lian benar-benar merasa aneh saat melihat watak Bing Lian, yang menurutnya benar-benar jahat dan menyeramkan. Setelah itu dia menatap Xin Huang. "Hei bocah! Apa yang kau lakukan pada anakku?! Kau tidak mengajarkan hal yang aneh-aneh kan pada anakku!?"
Xin Huang tersenyum kecil sembari menatap Bing Lian juga, "Itu sifat ayahnya, apa kau lupa ayahnya itu siapa? Aku tidak pernah mengajari hal-hal yang aneh pada anak itu, sebab aku sayang anak kecil."
Bing Lian mengerutkan dahinya sembari mengingat Zhou Lin. "Tetap saja ini terasa aneh, jika memang aku tidak pernah mengajarkan hal yang aneh dan jahat itu pada Bing Xiwang, maka sifat bawaan ayahnya pun menjadi tidak berguna, ini pasti ada campur tangannya dari orang ketiga, dan itu pasti kau kan!?" Bing Lian pernah sekali memergoki Xin Huang yang menghasut anaknya, sehingga dia menjadi sangat curiga dengan Xin Huang.
"Fitnah ah, gak asik." Xin Huang cemberut sembari memeluk lengan Hua Mei. Hua Mei hanya menggelengkan kepalanya sembari terus memerhatikan putrinya.
"Itu pasti kau kan! Tingkahmu saja mencurigakan seperti itu!"
"Fitnah."
"Ngaku saja! Dasar kau pengaruh buruk!"
***
(1 Minggu kemudian)
Lian Mei menatap langit dengan santai. Dia benar-benar menikmati pemandangan dunia palsu ini. "Aku capek, aku ingin istirahat dulu." Lian Mei membuka kantong makanannya, dan mengambil sebuah nasi kepal dari dalamnya.
Setelah itu dia memakan nasi kepal yang baru diambilnya, sesekali juga dia meminum air dari elemen airnya. "Ini sangat enak, ibu memang yang terbaik." Lian Mei benar-benar suka dengan masakan yang dibuat ibunya, sebab itu benar-benar enak. Tak ada orang yang bisa memasak makanan seenak ibunya, itukah pikirnya. "Sudah satu Minggu aku berada disini, dan berada disini juga tidak terlalu buruk." Lian Mei mengunyah nasi kepal buatan ibunya. "Sudah 15.000 Plat nomor kudapatkan, hanya tersisa satu peserta saja untuk aku bisa memenangkan turnamen ini, dan itu adalah kau, WangWang. Tolong keluar dari situ WangWang, aku sudah tahu kau telah memata-mataiku sejak tadi." Lian Mei melirik pohon besar yang ada dibelakang tubuhnya.
"Hehe, insting kakak Lian Mei memang sangat tajam." Bing Xiwang muncul dari balik pohon dengan wajah cengengesan.
__ADS_1
"WangWang, tolong menyerah saja, aku tidak mau menyakitimu." Lian Mei memasukan seluruh makanannya kedalam kantong kecilnya. Setelah itu dia berdiri, lalu memegang gagang pedangnya.
Bing Xiwang tertawa kecil, lalu menghapus senyumannya. "Harusnya aku yang bilang seperti itu."