
"Hmmm.... Kau mau sate?" Di sepanjang perjalanan, Xin Huang selalu makan sate.
"Xin... Nanti kau sakit perut loh" Hua Mei memperingati Xin Huang.
"Hahaha, Inti Suci puncak tidak mungkin sakit perut!" Xin Huang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Hua Mei.
"Aku khawatir malah di ketawain" Hua Mei merasa menyesal telah memperingati Xin Huang.
"Iya, iya, kau memang yang terbaik"
"Hmmm...." Hua Mei tak menjawab, dia hanya melanjutkan kultivasinya.
"Kira-kira, monster yang ada disana, sekuat apa ya?" Gumam Xin Huang.
"Yah, sekuat apapun monster itu, aku bisa mengalahkannya hanya dengan satu jari" Xin Huang menutup matanya, lalu dia tertidur.
***
"Akhirnya sampai juga" Xin Huang melihat dataran kosong yang diselimuti aura merah darah dihadapannya.
"Xin... Ini terlihat mengerikan" kaki Hua Mei bergetar melihat pemandangan di hadapannya.
"Sepertinya benua ini sudah kosong dari 300 triliun tahun yang lalu" Xin Huang mengelus dagunya
"Sepertinya begitu...."
Mobil terbang mendarat di dataran benua barat, lalu Xin Huang dan Hua Mei turun dari mobil terbang dan menginjakkan kakinya di tanah benua barat.
"Seperti yang dikatakan bawahan Gong Tianzong. Ada sebuah aura harta dan aura kekuatan yang sangat kuat" gumam Xin Huang.
"Xin...." Kaki Hua Mei terlihat gemetaran saat menginjakan kakinya.
"Bila kau takut, sini peluk aku" Xin Huang melebarkan tangannya.
"Iya" Hua Mei memeluk Xin Huang.
Setelah percakapan singkat itu, Xin Huang dan Hua Mei melanjutkan perjalanannya sembari saling memeluk.
"Aura kekuatan yang kurasakan, ada 100 Meter di depan sana" gumam Xin Huang.
"Xin...." semakin dekat dengan aura itu, kaki Hua Mei semakin gemetaran.
"Sudah sudah, tenang saja. Ada aku" Xin Huang menepuk-nepuk pundak Hua Mei agar istrinya tenang.
"Mental Hua'er termasuk kuat. Jika aku berada di tingkat yang sama, aku pasti sudah pingsan" batin Xin Huang.
Wushhhhhh
Muncul sekelebat bayangan merah lewat dihadapan Keduanya. "Si-Siapa itu?" Kaki Hua Mei langsung terasa lemas melihat sekelebat bayangan merah itu.
"Hmmm...." Mungkin bagi orang lemah, bayangan itu sangat cepat. Tapi tidak untuk Xin Huang, mahluk cepat itu terlihat seperti lari joging Dimata Xin Huang.
Wushhhh
Xin Huang memasukan Hua Mei ke dalam dunia pribadinya. "Analisa" gumam Xin Huang.
[Nama: Qilin Darah]
[Level: Inti Suci Puncak 56 Ledakan]
"Wow, pantas saja selama 300 triliun tahun tidak ada yang menelusuri benua ini" tiba-tiba muncul mahluk raksasa berwarna merah dari balik bayangan.
"Manusia, cepat pergilah, aku sudah lelah untuk membunuh" terdengar mahluk itu berbicara pelan.
"Lelah? Kau tidak boleh lelah saat menjalankan tugasmu. Jika kau sudah lelah, sebaiknya kau mati saja" Xin Huang mengangkat jari telunjuknya.
"Aku inginnya sih begitu... Tapi, apa kau bisa membunuhku?" Aura membunuh merembes keluar dari tubuh Qilin. Bayangan monster besar bisa terlihat dibelakang Qilin.
"Dengan kultivasimu yang berada dilevel Inti Suci 56 Ledakan, kau sudah hidup terlalu lama ya?"
__ADS_1
"1.300 Miliar tahun, itulah umurku"
"Tak kusangka kau masih muda... Sebelum kau lahir, siapa yang menjaga benua ini?"
"Entahlah, aku sudah lupa"
"Hmmm... Kau terlalu cepat lupa di umurmu yang segitu..."
"Kau bisa enteng berbicara seperti itu karena umurmu masih bisa dihitung dengan jari"
"Betul... Aku ingin tahu, apa yang kau jaga?"
"Kalahkan aku dulu... Baru akan kuberi tahu" Qilin darah mengambil posisi bertarung.
"Heee... Baiklah kalau begitu" Xin Huang mengacungkan jari telunjuknya ke arah Qilin Darah.
Dummmmm
Qilin darah menginjak tanah dan melesat dengan sangat cepat ke arah Xin Huang. "Matilah, manusia" Qilin darah mengayunkan cakar raksasanya.
Bummmmmm
Duarrrrrrrrrrrrrrrr
Ledakan yang sangat besar terjadi akibat serangan itu, kawah raksasa tercipta akibat serangan Qilin Darah.
Ssshhhhhhh
Saat asap mulai menghilang, Terlihat Xin Huang menahan serangan Qilin hanya dengan satu jari.
"A--Apa?" Qilin Darah melompat kebelakang dengan wajah terkejutnya.
"Dari gerakan tadi, kau sudah tahukan perbedaan kekuatan kita?" Jari telunjuk Xin Huang hanya terluka setitik saja.
"Jangan sombong manusia, aku belum mengeluarkan seluruh kekuatanku"
"Kau bercanda manusia! jangan membual!" jantung Qilin berhenti berdetak sebentar saat mendengar pernyataan Xin Huang.
"Jika kau tidak percaya, ya sudah" Xin Huang mengangkat bahunya.
"Cih!" Qilin Darah ingin sekali menonjok wajah Xin Huang, tapi dia tidak bisa, kakinya tidak bisa berhenti bergetar saat melihat Xin Huang.
"Hei, kenapa kau tidak maju?" Xin Huang menyipitkan matanya. Lalu Xin Huang menyunggingkan bibirnya. "Hehe, apakah kau takut?" Xin Huang berhasil menangkap gerak-gerik mencurigakan mahluk raksasa dihadapannya.
"Takut?! Jangan bercanda kau manusia rendahan!" Qilin Darah mengumpulkan Qi darah dimulutnya.
Sringgggggggg
"Terima ini manusia!" Sebuah bola
raksasa merah terlihat di depan mulut Qilin Darah.
Wushhhhhhh
Bola raksasa itu melesat ke arah Xin Huang dengan cepat. Xin Huang yang melihat itu hanya mengarahkan telapak tangannya ke depan.
Duarrrrrrrrrrrrrrrr
Ledakan besar tercipta akibat serangan itu, kawah besar terbentuk saat serangan itu meledak.
Shhhhhhhhh
Terlihat ditengah kawah Xin Huang masih berdiri tegak dengan tangan yang berasap. Tubuhnya tidak terluka sedikitpun, bahkan serangan itu tidak menggores pakaiannya sedikitpun.
"A--Apa?" Kaki Qilin Darah semakin lemas melihat serangannya gagal.
"Sudahlah. Menyerah saja, beri tahu aku apa yang kau jaga selama 1300 miliar tahun itu" Xin Huang berjalan perlahan mendekati Qilin Darah.
"Erghhh" Qilin Darah yang ingin menjauh, tidak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun akibat aura kekuatan yang dikeluarkan manusia di depannya.
__ADS_1
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Setelah berjalan untuk waktu yang tak terlalu lama, akhirnya Xin Huang sampai dihadapan Qilin Darah.
"Ayo cepat, ceritakan padaku" ucap Xin Huang di hadapan Qilin Darah.
Brukkk
Melihat Xin Huang sudah sampai dihadapannya, Qilin Darah itu ambruk ke tanah dengan lemas. "Ughhhh" Qilin darah merasa kehilangan tenaganya saat melihat Xin Huang didepannya.
"Cepatlah..." Aura membunuh mulai merembes keluar dari tubuh Xin Huang.
"Baiklah.... Akan kuceritakan..." Qilin Darah tidak mempunyai pilihan lain, dan memilih untuk menceritakan semuanya.
"Silahkan" Xin Huang duduk di tanah dan saling berhadapan dengan Qilin Darah.
"Menurut kisah yang diceritakan ibuku dan para leluhurnya. 300 triliun tahun yang lalu, istri dari raja para naga menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya saat melawan bawahan Iblis Kuno. Untuk menghormati istrinya, raja naga meletakan tubuh istrinya di benua ini, benua tempat kelahirannya, dan memerintahkan Leluhur Qilin dan Shen Jin Long untuk menjaga dunia kecil ini. Shen Jin Long bertugas untuk menjaga dunia ini agar tak dimakan kekosongan, Leluhur Qilin bertugas untuk menjaga benua ini, sekaligus menjaga tubuh istri raja naga. Jadi bila disimpulkan, harta yang ku jaga adalah tubuh istri dari raja para naga" Qilin menghentikan kisahnya.
"Jadi begitu, lalu...." Xin Huang mengedarkan pandangannya. "Kenapa benua ini menjadi benua mati?" menurut kisah yang diceritakan Qilin Darah, seharusnya 300 triliun tahun yang lalu benua ini masih hidup dan baik-baik saja.
"Tubuh Istri raja para naga sangatlah berharga, setidaknya satu tingkat dibawah tubuh para dewa agung. Sehingga membuat para penduduk ingin mengambil tubuhnya dan memakainya untuk keuntungan dirinya sendiri. Leluhur Qilin yang melihat itu mengambil keputusan, Membantai seluruh penduduk benua barat. Hingga akhirnya benua barat menjadi benua mati, dan tidak membiarkan satu orang pun manusia untuk menginjakan kakinya di benua barat"
"Begitu... Kejam sekali keputusan leluhurmu" Xin Huang menggelengkan kepalanya.
"Ya, dia sudah terlalu tua, sehingga pikirannya menjadi pendek"
"Baiklah, tugasmu sudah selesai. Kau tahu kan apa yang akan terjadi selanjutnya?" Xin Huang berdiri dari duduknya.
"Ya, aku tahu" Qilin Darah menundukan kepalanya.
"Baiklah, selamat tinggal Qilin Darah"
Zrashhhhhhhh
Xin Huang memotong kepala Qilin Darah seperti memotong tahu. Kepala Qilin Darah menggelinding di tanah.
[Ding! Tuan telah membunuh Qilin Darah]
[Mendapatkan 800.000 PP]
[Mendapatkan 80.000 PS]
"Baiklah Hua'er, ayo keluar" Xin Huang mengeluarkan Hua Mei dari duni pribadinya.
"Ini..." Hua Mei merasakan, ketakutannya yang datang sebelumnya telah hilang.
"Dalangnya sudah mati" Xin Huang menunjuka mayat Qilin Darah pada Hua Mei.
"A--Apa itu?" Hua Mei merasa terkejut melihat mayat monster raksasa didepannya.
"Itu adalah penjaga benua ini..."
"Begitu...."
"Ayo kita lanjutkan mencari harta nya" Xin Huang menggandeng lengan Hua Mei.
"Ehm" Hua Mei menganggukan kepalanya.
.
.
.
.
__ADS_1