
"Arghhhh!!!" Xin Huang berteriak di udara dengan cahaya hijau yang menyelimutinya.
"Hiks... Xin... Xin..." Hua Mei sangat panik melihat keadaan Xin Huang yang sedang berteriak kesakitan.
"Arghhhhhhh" Cahaya hijau yang menyelimuti Xin Huang mulai bersinar lebih terang dan menyelimuti area sekitar dengan cahaya hijau.
Saat cahaya hijau mulai meredup, terlihat Xin Huang sedang melayang dengan keadaan tak sadarkan diri.
Brukkkk
Sebelum Xin Huang jatuh, Hua Mei sudah menangkapnya dari bawah. Setelah itu, Hua Mei merebahkan tubuh Xin Huang di alas yang sudah dia keluarkan dari cincin penyimpanannya.
"Hiks... Xin!!!" Hua Mei menepuk-nepuk pipi Xin Huang yang sedang tak sadarkan diri.
Wushhhhhhh
Tiba-tiba cahaya hijau mulai menyelimuti tubuh Xin Huang lagi. Yang berbeda dari sebelumnya adalah, tubuh Xin Huang berubah menjadi lebih tinggi, rambut pendeknya bertambah panjang dan wajah Xin Huang yang berubah menjadi lebih tampan.... Sangat tampan!.
"Erghhhh" Xin Huang terbangun dari pingsannya.
"Xin!" Hua Mei langsung berlari memeluk tubuh Xin Huang yang baru sadar.
"Hua'er" Xin Huang tersenyum, lalu memeluk balik Hua Mei. "Aku tak apa-apa Hua'er" Xin Huang mengelus-elus kepala Hua Mei.
"Xin!" Hua Mei terus-terusan menangis dipelukan Xin Huang.
"Kau ini... Aku yang terluka, malah kau yang menangis"
"Itu karena aku khawatir! Bodoh!"
"Iya iya... Baiklah, lepaskan pelukanmu, kita lihat harta apa yang dijaga selama 300 triliun tahun"
"Beristirahatlah dulu Xin! kau baru saja sadar!"
"Aku kuat, kau tidak perlu khawatir"
"Bukan masalah kuat atau tidak! tapi kekhawatiran ku yang terus-menerus menghantuiku! jadi... Beristirahatlah!"
"Baiklah, kita akan tinggal disini selama satu hari"
"Janji ya"
"Ya" Xin Huang mengelus lagi kepala Hua Mei.
***
Setelah kejadian itu, Xin Huang membeli rumah besar dari sistemnya, dan tinggal disana selama satu hari.
"Wow! aku tampan sekali!" Xin Huang terpana melihat wajah tampannya di dalam pantulan kaca. "Apa aku memakan semua pilku saja ya?" Xin Huang mengelus dagunya.
"Jangan! Nanti kau pingsan lagi!" Hua Mei tiba-tiba masuk ke kamar mandi tempat Xin Huang berada.
"Yaampun, ini kamar mandi laki-laki, Hua'er"
"Lagian kau tidak telanjang kan?!"
"Iya iya" Xin Huang mengalihkan pandangannya.
"Dan satu hal lagi! jangan memakan pil kebugaran sebanyak itu sekaligus! nanti kau pingsan lagi, dan aku akan khawatir"
"Iya Hua'er. Sana, aku mau mandi"
"Baiklah. Dan ingat apa yang kukatakan tadi!" Hua Mei berjalan pergi keluar dari sana.
Melihat Hua Mei pergi, Xin Huang mengaca lagi. "Rambutku menjadi panjang juga" Xin Huang menyentuh rambutnya. "Ketampananku bertambah gara-gara rambut ini, jadi tak akan kupotong!" Xin Huang mengelus-elus, lalu mencium rambutnya. "Wangi...."
Setelah puas berkaca, Xin Huang keluar dari kamar mandi, dia berencana untuk tidur di kamarnya. Dikamar Xin Huang, terlihat Hua Mei sudah tertidur pulas di ranjang. "Bocah itu tidur nya cepat sekali" Gumam Xin Huang, lalu dia merebahkan tubuhnya di kasur.
Saat Xin Huang ingin memejamkan matanya, terdengar Hua Mei berbicara. "Xin...." ucapnya pelan.
"Hm? kau belum tidur?"
"Belum...."
"Ada apa? apa ada yang mengganjal pikiranmu?"
"Tidak ada...."
"Lalu? ada apa kau memanggilku?"
"Tidak ada....."
"Apa sih? kau tidak jelas sekali" ucap Xin Huang sedikit kesal, lalu memejamkan matanya.
"Xin!" Terdengar Hua Mei menggeram pelan.
"Apa? apa? cepat katakan, aku mengantuk!"
__ADS_1
"Xin!"
"Ada apa Hua'er?" Xin Huang mencoba untuk menahan omongannya.
"Aku... Aku..."
"Apa?"
"Aku... Tidak tahulah! dasar kau bodoh!" Hua Mei terdengar marah, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Tidak jelas kau" Xin Huang merubah posisi tidurnya, lalu memejamkan matanya.
***
(Keesokan harinya)
"Hua'er, cepat bangun" Xin Huang mencoba untuk membangunkan Hua Mei.
"Emmm" Hua Mei menjawab dengan mata yang masih tertutup.
"Cepat bangun pemalas!" Xin Huang menggoyang-goyang kan tubuh Hua Mei.
"Emmmm" Hua Mei masih tetap menutup matanya.
"Aku tidur pulas karena habis pingsan, kau tidur pulas karena apa?" Pada umumnya, Inti Suci puncak tak membutuhkan tidur. Tak terkecuali dengan Xin Huang, dia tidur karena habis tak sadarkan diri, dan tubuhnya masih membutuhkan pemulihan.
"Kau bawel sekali Xin, seperti ibuku saja" Hua Mei terbangun dari tidurnya.
"Cuci muka sana... wajahmu tak karuan"
"Apa?!" Wajah Hua Mei memerah, lalu berlari ke kamar mandi dengan wajah yang ditutupi kedua tangannya.
"Hah...." Melihat kelakuan istrinya, Xin Huang hanya menghela nafas.
.....
"Ayo! kita cari tahu harta apa yang ada disini" ucap Xin Huang.
"Sebentar! aku makan pil dulu" Hua Mei sering memakan pil kebugaran untuk mempercantik dirinya.
"Kau sudah cantik Hua'er, ayo cepat"
"Aku tak mau kau selingkuh gara-gara wajahku yang kurang cantik! jadi tunggu saja dulu!"
"Sial" Xin Huang duduk menunggu disebelah Hua Mei.
"Xin! ayo pergi!"
"Sudah selesai?"
"Ya! ayo pergi!"
"Baiklah"
Xin Huang dan Hua Mei keluar dari rumahnya. Setelah diluar, Xin Huang memasukan rumah sistemnya ke inventory.
"Fyuhh... Akhirnya" Xin Huang menghela nafas lega. Waktu yang di tunggu-tunggu nya akhirnya tiba.
"Kau kenapa Xin?"
"Tak apa, ayo pergi"
"Ayo!"
Xin Huang dan Hua Mei saling menggenggam, lalu pergi berjalan dari sana.
Perjalanan mereka berdua tak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai ditempat yang paling kuat aura hartanya.
"Sepertinya disini..." ucap Xin Huang sembari melihat goa hitam besar dengan banyaknya lumut di setiap dindingnya.
"Xin, goa ini terlihat menyeramkan" kaki Hua Mei sedikit bergetar melihat goa besar itu.
"Tentu saja menyeramkan, goa ini sudah ada sejak 300 triliun tahun yang lalu" Xin Huang membawa Hua Mei masuk.
"Ya..." Hua Mei hanya pasrah saja di tarik lengannya masuk ke dalam goa.
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Xin Huang dan Hua Mei memasuki goa itu. Terlihat banyak tumbuhan langka dan lumut-lumut di sekitar dinding goa.
"Hua'er! cepat pungut itu!" ucap Xin Huang sembari menunjuk sebuah tanaman berdaun kuning.
__ADS_1
"Oke!" Hua Mei berlari ke arah tanaman kuning itu, lalu memetiknya.
"Itu! itu! itu juga!" Xin Huang menyuruh Hua Mei memungut semua tanaman langka yang ada disana.
"Xin! bantu aku juga!"
"Kau lelah? itu tidak mungkin! kau kan Inti Suci puncak satu ledakan"
"Ya memang tidak lelah! tapi kau tega membiarkan istrimu memungut tanaman yang kotor?!"
"Ya... Tega-tega saja sih"
"Xin!"
"Hahaha, baiklah baiklah" Xin Huang membantu Hua Mei memungut tanaman-tanaman langka yang ada di sana.
"Tapi Hua'er... apa kau tahu tanaman apa yang kau pungut?"
"Ee... Tidak sih, aku hanya mencabut tanaman apa yang kau suruh"
"Oh...."
Setelah memungut tanaman-tanaman langka yang ada disana, mereka berdua melanjutkan perjalanannya.
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Mereka terus melanjutkan perjalanannya sehingga mereka bertemu dengan sebuah pintu batu besar.
"Disini..." Xin Huang menyentuh pintu batu itu. Aura kekuatan besar terasa didalam ruangan yang ada dibalik pintu batu.
"Hua'er, hancurkan pintu ini"
"Baiklah!" Hua Mei mengambil posisi. "Teknik Peri Bunga: Lotus Tiga Warna"
Wushhhhh
Ditangan Hua Mei tiba-tiba muncul lotus dengan tiga warna yang berbeda-beda. "Hancurlah kau pintu batu!" Xin Huang melempar lotus itu ke arah pintu batu.
Wushhhhhhh
Duarrrrrrrrrrrrrrr
Ledakan besar terdengar di dalam Goa, goa itu sampai bergetar akibat serangan yang dilontarkan Hua Mei.
Shhhhhhhh
"Hahaha, aku kuat kan Xin?!" Hua Mei menggosok-gosok hidungnya bangga.
"Ya kau kuat, tapi belum cukup kuat untuk menghancurkan pintu batu itu"
Asap-asap yang menghalangi pandangan mulai menghilang, terlihat pintu batu masih berdiri kokoh tanpa goresan sedikitpun.
"Apa?!" Hua Mei sangat terkejut melihat serangannya tak berdampak apapun pada pintu batu.
"Ya... Sudah kubilang"
"Bila kau tahu, kenapa kau menyuruhku menghancurkan pintu ini?!"
"Aku hanya ingin melihatmu terkejut saja"
"Kau!!!" Hua Mei sangat geram melihat kelakuan Xin Huang.
"Hahaha" Xin Huang tertawa terbahak-bahak saat mengingat wajah Hua Mei yang terkejut.
"Jangan tertawa!" Wajah Hua Mei terlihat merah padam saat melihat Xin Huang tertawa.
"Baiklah baiklah" Xin Huang mendekati pintu batu itu. Setelah sampai, Xin Huang menyiapkan tinjunya.
Bummmmmmmmm
Sesaat setelah Xin Huang memukulnya, Goa tempat Xin Huang dan Hua Mei bergetar hebat akibat pukulan itu.
Saat asap yang mengepul hilang, terlihat pintu batu itu hancur berkeping-keping. "Inilah kekuatan" Xin Huang berucap singkat, lalu memasuki goa itu.
"Dasar kau" Hua Mei mengikuti Xin Huang dengan perasaan geram.
.
.
.
__ADS_1
.