
Sebuah mayat naga berwarna hitam legam, terlihat didalam pandangan Xin Huang. Xin Huang melebarkan matanya, lalu menganalisanya.
[Nama: Hei Long]
[Level: Dewa Kuno Puncak]
[Kondisi: Mati]
Hua Mei juga melihatnya, dan wajahnya terlihat kesal. "Xin! Entah kenapa aku merasa benci saat melihatnya!"
Xin Huang menaikkan sebelah alisnya, "Benci? Apa yang membuatmu benci dengan mayat ini?" Perubahan sikap Hua Mei yang tiba-tiba, membuat Xin Huang merasa heran.
"Entahlah Xin! Moodku jadi buruk saat melihat mayat itu!"
"Masalah Mood ternyata.... Ya sudah, sana pergi"
"Apa?! Kenapa kau menyuruhku pergi?!"
"Kau kan kesal saat melihatnya... Kenapa kau tidak pergi ke atas, agar tidak kesal lagi?"
"Oh... Lalu kau mau apa disini?!"
"Aku ingin memakan dantiannya" Xin Huang menyeringai.
"Kau... Kau ingin mendapatkan tubuhnya?"
"Tentu saja, tubuhnya sangat kuat. Bila diperhatikan struktur tulang dan dagingnya, Mayat Naga Hitam ini sudah terkubur 300 Triliun tahun yang lalu. Tapi dari penampilan luarnya, orang awam akan mengira bahwa Naga Hitam itu baru mati kemarin"
"Begitu... Baiklah Xin, aku akan ke atas, kau makan dantiannya"
"Baiklah, sana pergi"
"Ya Ya" Hua Mei melesat terbang ke atas jurang.
Wushhhhhhh.....
Setelah Hua Mei tak terlihat lagi, Xin Huang mendekati mayat Naga Hitam itu. "Baiklah, saatnya menjadi kuat" Xin Huang mengobok-obok tubuh bagian dalam mayat naga hitam itu. "Ketemu" Xin Huang merasakan ada sebuah bola kecil ditelapak tangannya.
Sebuah bola hitam kecil, yang mengeluarkan aura tak mengenakkan, terlihat digenggaman Xin Huang. "Jijik" Xin Huang mengamati bola hitam kecil itu. "Apakah ini bisa dimakan?" Dantian milik naga hitam dengan Dantian milik Dewi Kehidupan sangatlah berbeda. Yang satu mengeluarkan aura yang menenangkan, yang satunya lagi mengeluarkan aura yang mengerikan.
[Makan saja tuan, Dantian naga hitam itu aman untuk dimakan]
"Baiklah...." Xin Huang menelan Dantian itu dengan perasaan jijik. "Hoek, tidak enak", Tiba-Tiba Xin Huang merasakan bahwa tubuhnya ada yang berubah. "Ini...." Xin Huang menyayat lengannya.
Sret
Currrrr
Darah berwarna hitam mengucur dari bekas sayatan Xin Huang. "Darahku berubah menjadi hitam" Xin Huang mengamati darah yang mengucur dari lengannya. "Dan...."
Deg! Sebuah perasaan mencekik datang dari arah jantung Xin Huang. "I-Ini" Xin Huang memegangi dadanya.
[Proses pemasangan dimulai]
[Harap tuan menahan semua rasa sakitnya]
"Si-Sistem.... Arghhhhhhh" Xin Huang berteriak dengan sangat kencang dikedalaman jurang.
[10%]
[20%]
[30%]
[40%]
[50%]
[60%]
[70%]
[80%]
[90%]
[100%]
[Proses pemasangan selesai]
Setelah 1 Minggu berlalu, akhirnya rasa sakit yang dirasakan Xin Huang menghilang. "Bangsat kau sistem..." Xin Huang merasa kesal, dengan System yang tanpa memberi aba-aba.
__ADS_1
[MaAf Ya TuAn]
System menjawab dengan nada mengejek. "Sialan...." Xin Huang terbangun dari tidurnya. "Hua'er?" Hal yang pertama kali dilihat Xin Huang saat bangun adalah, Hua Mei yang sedang menangis kencang memanggil namanya.
"Xin!!!" Hua Mei memeluk Xin Huang yang baru bangun.
"Hua'er, sudahlah" Xin Huang menepuk-nepuk punggung Hua Mei.
"Xin!!!" Hua Mei malah tambah kencang menangisnya. "Hiks... Hiks... Hiks..." Hua Mei menangis sesenggukan dipundak Xin Huang.
"Sudahlah, jangan menangis, seperti bayi saja" Xin Huang mengelus-elus kepala Hua Mei.
"Hiks... Hiks... Aku takut... Aku takut... Jantungmu.... Jantungmu berhenti berdetak selama satu Minggu Xin...."
"Jantungku berhenti berdetak?"
"Betul.... Aku sangat takut...."
"System, kok bisa?"
[Tidak ada yang aneh dengan itu, jantung Hua Mei pun waktu itu berhenti berdetak. Hanya saja kulit raksasa bunga itu melindungi tubuh Hua Mei agar tetap aman]
"Begitu...." Xin Huang menganggukan kepalanya.
"Hiks... Hiks.... Hiks..."
"Sudah ah, Hua'er. Ingusmu jijik ih"
"Xinn!!!!"
"Haha, iya iya, menangis saja sesukamu" Xin Huang memeluk erat tubuh Hua Mei.
Suara tangisan Hua Mei terus terdengar dikedalaman jurang. Sampai 15 menit kemudian suara tangisan itu reda.
"Udah?"
"Ehm" Hua Mei menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya sudah, ayo kita ke atas"
"Gendong...." Hua Mei menggeliat manja ditubuh Xin Huang.
"Manja sekali sih"
"Baiklah Baiklah" Xin Huang menggendong Hua Mei, lalu terbang ke atas jurang.
Wushhhhhh
Xin Huang mengeluarkan rumahnya disisi jurang. "Hua'er, kita tinggal dulu disini"
"Ya...." Hua Mei menjawab dengan senyuman senang.
"Hua'er...." Xin Huang menatap Hua Mei dalam-dalam.
"Apa?"
"Cepat turun"
"Nggak mau...."
"Ya ampun...."
Xin Huang kembali menggendong Hua Mei, lalu merebahkan tubuhnya diranjang yang ada di dalam kamarnya. "Xin... Aku sudah kehilanganmu untuk satu Minggu"
"Lalu?"
"Peluk aku, peluk aku sampai besok ya... Kumohon"
"Hahh... Baiklah"
"Hehe" Hua Mei menarik Xin Huang, lalu memeluknya. "Xin... Kumohon jangan pergi ya...." gumam Hua Mei pelan, lalu terlelap tidur.
***
(Hutan Kegelapan, terletak jauh disebelah utara reruntuhan kerajaan Anzhen)
"Nona Bing, apa kau yakin harta itu ada disini?" ucap pria berjubah hitam.
"Ya, aku bisa merasakannya" jawab seorang wanita berjubah hitam.
"Bila boleh tahu, harta apa itu nona?"
__ADS_1
"Permata Bulan"
"Permata Bulan? Apa itu nona?"
"Harta yang bisa membuat seseorang mempunyai kekuatan bulan"
"Kekuatan bulan?!" Pria berjubah hitam itu terkejut saat mendengar perkataan wanita dihadapannya.
"Betul. Dua kekuatan utama yang sangat kuat, permata bulan dan kristal matahari. Konon, saat seseorang memakai permata bulan, seseorang itu akan dilimpahkan energi Yin yang sangat kuat"
"Jadi.... Kau berencana mencari harta itu untuk menghancurkan sekte cahaya ilahi?!"
"Betul! Dengan tubuh Yin ku, ditambah permata bulan itu. Kau pasti bisa membayangkan sekuat apa aku!"
"Hahaha, Nona Bing memang jenius!"
"Ya, itulah aku"
"Tapi... Apa ada syarat tertentu untuk mendapatkan permata bulan itu?"
"Ada, hanya seorang wanita saja yang bisa mendapatkan permata bulan itu"
"Masuk akal!"
"Sebenarnya ada dua sih... Tapi sepertinya aku tidak perlu menyebutkan itu" Batin wanita berjubah hitam.
.
.
.
.
(Kediaman Xin Huang)
"Xin.... Aku mencintaimu...." ucap lirih Hua Mei.
"Aku juga mencintaimu, Hua'er" Xin Huang mencium dahi Hua Mei.
"Xin... Apa kau tidak mau melakukan itu?"
"Tidak mau... Aku tidak nafsu"
Mendengar itu, Hua Mei cemberut, "Apa yang membuatmu tidak nafsu?!"
"Ah... Kau masih anak-anak"
"Tapi kau juga masih anak-anak kan?!"
"Maaf ya... Walaupun masih anak-anak, seleraku adalah wanita dewasa, tubuh anak kecilmu itu tak akan membuatku nafsu"
"Hmphh! Bila kau mencobanya sekali, kau pasti akan ketagihan!" Hua Mei mendengus kesal.
"Sayangnya aku tidak pernah mencobanya"
"Hmphh" Hua Mei memalingkan wajahnya kesal.
"Sudahlah, ayo kita bangun"
"Memangnya ada urusan apa? Apa kau tidak ingin berduaan saja denganku? Kau sedang tidak buru-buru kan?"
"Memang tidak buru-buru, aku hanya ingin menghirup udara segar"
"Bila kau ingin menghirup udara segar, kenapa kau tidak menghirup ku? aku segar loh" ucap Hua Mei dengan senyuman menggoda.
"Wah, lihatlah. Anak kecil ini sedang menggoda lelaki" Xin Huang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Hua Mei.
"Aku bukan anak kecil!!!" Hua Mei berteriak malu.
"Hahaha" Xin Huang bangun dan berjalan keluar.
"Xinn!!!" Hua Mei heran kenapa Xin Huang sama sekali tak tertarik dengan tubuhnya. "Apa aku memang tidak menggoda ya?" Hua Mei tertunduk lesu sembari melihat dadanya.
.....
"Hua'er, Hua'er... Kau terlalu imut, aku takut aku tidak bisa menahannya" Mau bagaimanapun, Xin Huang dikehidupan sebelumnya berumur 39 tahun, tentu saja dia akan merasa tidak enak hati saat bercinta dengan Hua Mei, yang umurnya masih 12 tahun.
.
.
__ADS_1
.
.