
"Hua Mei.... Kemana kau...." ucap seorang pemuda berambut coklat panjang dengan mata yang selaras. Terlihat pemuda itu menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan.
"Tuan muda.... sebaiknya tuan makan terlebih dahulu.... sudah tiga hari tuan muda belum makan" seorang penjaga yang pergi bersamanya menyarankan tuan mudanya untuk makan terlebih dahulu.
"Tidak! Sebelum Hua Mei ketemu, aku tidak akan makan!" Pemuda itu masih kekeh dengan pendiriannya.
"Egh...." Sebenarnya penjaga itu tidak peduli dengan perut tuan mudanya, dia hanya peduli pada perutnya sendiri. Sebab bila tuan mudanya tidak makan, dia juga terpaksa tidak makan.
"Bajingan... Bajingan... Bajingan" Jin Zhi, itulah nama pemuda itu. Dia sudah lebih dari 5 bulan mencari keberadaan Hua Mei, dan hasilnya selalu nihil, sebab itu dia berniat untuk mencari sendiri keberadaan Hua Mei. "Nona Hua Mei.... Kemana kau?"
Jin Zhi menggigit jarinya.
Hidup dibawah tekanan keluarga, membuat Jin Zhi mempunyai dua kepribadian, Kepribadian baik dan kepribadian jahat. Kepribadian baik muncul saat didepan keluarganya, sementara kepribadian jahat muncul saat dia sendirian. Seorang Hua Mei menjadi primadona kepribadian jahatnya, itu membuatnya menjadi liar dan terkendali, bahkan saat dihadapan keluarganya. Keluarganya sangat menyesal saat mengetahui anaknya menjadi gila akibat pelajaran-pelajaran yang diberikannya. Maka oleh Sebab itu, keluarganya membantu mencari keberadaan Hua Mei.
"Ada apa kau mencari istriku?", saat Jin Zhi mencari disudut pohon, dia mendengar suara seseorang berbicara padanya.
"Istri? siapa kau?" Jin Zhi terlihat berusaha berbicara pada suara itu.
"Aku adalah, suami Hua Mei" jawab suara itu.
"Suami....?" terlihat percikan listrik-listrik berwarna kuning di lengan kanan Jin Zhi.
"Hooo.... Kau mau apa dengan listrik-listrik itu?"
"Untuk.... Membunuhmu!!!" percikan listrik itu membesar dan menyambar sekitar area suara yang berbicara.
Duarrrrrrrrrrr
Beberapa pohon hancur akibat serangan itu. "Dia belum mati...." Jin Zhi bisa menggunakan listriknya untuk mengecek area sekitarnya.
Zrashh
Zrashhh
__ADS_1
Zrashhhh
Zrashhhhh
Terdengar suara tebasan dibelakang Jin Zhi. "Apa?! Siapa itu?!" Jin Zhi menolehkan pandangannya. "A--Apa?" Jin Zhi melihat semua penjaganya telah mati dengan leher yang sudah terpotong rapih.
"Jauhi istriku, atau kau dan seluruh keluargamu akan kubantai habis" terdengar suara itu mengancam.
"Hehe, mau sesadis apapun kau mengancam, kau tidak akan bisa membuat nona Hua Mei hilang dari hatiku" ucap Jin Zhi dengan senyuman diwajahnya.
"Ah... Aku sudah malas membantai tau"
"Tunjukan saja dirimu, pengecut!" Jin Zhi terlihat memanas-manasi suara itu.
"Teruslah bersikap tinggi, maka kematian akan mendatangimu"
"Cih!" Jin Zhi merasakan perasaan ngeri saat suara itu mengancam.
"Berlutut lah, bila tidak, besok aku akan mendatangi keluargamu, dan menghancurkan semuanya" Xin Huang muncul dari balik kegelapan.
"Cepat, berlutut"
"Tidak akan..." Jin Zhi tetap tidak mau berlutut bahkan saat Xin Huang mengeluarkan sedikit auranya.
"Hmmm.... Jadi begitu, baiklah, tunggu saja besok" Xin Huang tiba-tiba menghilang dari sana.
"Ya.... Akan kutunggu" ucap Jin Zhi dengan aura membunuh yang keluar dari tubuhnya.
"Hua Mei, kau milikku, bila aku tidak mendapatkanmu, aku akan membunuhmu" Jin Zhi berjalan pergi dari sana.
***
"Istriku, aku sudah menemui Jin Zhi" disebuah hutan, terlihat Xin Huang dan Hua Mei sedang berbicara berdua.
__ADS_1
"Benarkah? apa tanggapannya?"
"Yah, dia memilih kehancuran..."
"Kau akan membunuh seluruh keluarga Zhi?"
"Tentu saja, gara-gara mereka melahirkan sampah, kau jadi kerepotan"
"Apa kau tidak bisa mengancamnya saja?"
"Tidak bisa, mereka terlalu gigih, seperti sia-sia saja aku menunjukan kekuatanku"
"Baiklah Xin, aku menurut saja"
"Oh, kau tidak perlu ikut, aku saja yang akan pergi kesana"
"Baik Xin..."
Setelah berbicara, Xin Huang membeli sebuah rumah besar dari toko sistemnya.
"A--Apa itu?" Hua Mei sangat terkejut saat melihat sebuah rumah yang muncul tiba-tiba.
"Untuk besok, kau tinggal saja disini, jangan tinggal ditengah hutan"
"Baik Xin... Terima kasih..." Hua Mei senang saat diperhatikan oleh suaminya.
"Baiklah Hua Mei, ayo kita tidur" Xin Huang menggengam tangan Hua Mei.
"Iya...." Hua Mei tertunduk malu, lalu masuk kerumah itu.
.
.
__ADS_1
.
.