
"Arghhhhhhh!!!"
"Arghhhhhh!!!"
"Tolong hentikan!!!!"
"Sakit!!!!"
Selama perjalanan pulang ke benua naga, Xin Huang terus bermain-main dengan ruang siksaan untuk melihat Mo Bai yang sedang disiksa. Ruang siksaan sendiri berbentuk kotak kecil dengan warna hitam pekat. Xin Huang bisa memilih siksaan apa yang akan ditujukan pada Mo Bai secara bebas, dia memilih untuk menggunakan siksaan sayatan, siksaan dimana korbannya akan dikuliti hidup-hidup untuk selama-lamanya, bila dia mati, dia akan hidup lagi, dan akan dikuliti lagi, siksaan itu akan berjalan terus-menerus sepuas hati Xin Huang. Xin Huang melakukan itu untuk membalas kematian ibunya.
"Satu tahun"
"Sepuluh tahun"
"Seribu tahun"
"Satu juta tahun.... Selama apapun kau menunggu, aku tidak akan pernah mengeluarkanmu dari benda ini. Bahkan bila aku matipun, Siksaan ini akan terus berjalan, selama-lamanya"
"Jadi.... Nikmati saja" Xin Huang tersenyum, lalu memasukan ruang siksaan itu di inventorinya.
"System, kau masih marah?" Sudah dua Minggu setelah peristiwa pembantaian benua iblis, dan system masih saja marah pada Xin Huang.
"Ayolah system, maafkan aku.... Aku tidak sengaja bilang begitu.... Kau itu adalah teman terbaikku, jadi jangan marah ya" Xin Huang mencoba untuk merayu sistem.
"Sistem... Sistem...." Xin Huang menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya menaiki mobil terbang akan lama sampainya" bila Xin Huang terbang, dia bisa sampai dalam satu jam, atau bisa saja dalam satu menit.
"Yah... Tapi aku tidak peduli..." Xin Huang memilih menikmati perjalanannya dulu dengan mobil impiannya.
.
.
.
__ADS_1
.
"Xin Huang.... sudah enam bulan kita tidak bertemu.... apa kau akan menepati janjimu?" terlihat di tengah hutan seorang wanita sedang bergumam dengan wajah sedih.
"Ah.... Xin Huang.... Aku mencintaimu..." sejak perpisahannya dengan Xin Huang, Hua Mei tidak bisa melupakan Xin Huang. Entah kenapa, padahal tidak ada dari sikap Xin Huang yang membuat wanita jatuh cinta, mungkin Hua Mei wanita yang sedikit aneh.
"Benarkah itu?" terdengar suara pemuda dibelakang Hua Mei.
"Siapa itu?!" Hua Mei langsung berdiri dan memasang sikap siaga.
"Analisa..." gumam pemuda itu.
[Nama: Hua Mei]
[Rank: Inti Emas (1)
"Lumayan Nona Mei...." ucap pemuda itu.
Tuk..
Tuk...
Terdengar suara langkah kaki didalam kegelapan, setelah mulai dekat dengan cahaya, terlihat Xin Huang datang dari balik kegelapan itu.
"Xin... Xin... Xin Huang?!!" terlihat wajah Hua Mei berubah menjadi sangat girang.
"Halo... Dan, apakah itu benar?"
"A--Apa?!" Wajah Hua Mei menjadi memerah.
"Yang kau katakan tadi, bahwa kau mencintaiku"
"Eh... Eh... Eh... Be-Benar" Hua Mei tertunduk malu sembari menutup wajahnya.
"Benarkah?" Xin Huang baru pertama kalinya dicintai seseorang, apalagi oleh seorang wanita.
__ADS_1
"I--Iya..."
"Bagaimana, bila kita menikah?" bila belum menikah, Xin Huang tidak bisa leluasa memberi Hua Mei kasih sayang.
"Menikah?" Wajah Hua Mei bertambah merah padam.
"Benar... Mungkin sekarang aku tidak mencintaimu, tapi nanti, aku pasti akan mencintaimu" Xin Huang mengandeng lengan Hua Mei.
Hua Mei merasa sangat malu saat tangannya di genggam Xin Huang. "Ba-Baiklah, Xin Huang" ucap Hua Mei sembari tersenyum malu.
"Baiklah..." Xin Huang membeli cincin Dimensi lagi. "Cincin ini akan menjadi bukti pernikahan kita..." Xin Huang memakaikan cincin Dimensi itu dijari tangan Hua Mei.
"Lagi?" Hua Mei sekarang sudah punya dua cincin Dimensi. "Tapi ini terlalu mahal, Xin" Hua Mei merasa tidak enak hati, sebelumnya dia sudah diberi banyak barang oleh Xin Huang, sehingga membuat kultivasinya meningkat dengan sangat pesat.
"Untuk istriku, aku akan memberi apapun, bahkan nyawa sekalipun" Xin Huang menyentuh pipi Hua Mei, lalu menciumnya.
Wajah Hua Mei kembali memerah saat dicium oleh Xin Huang. "Terima kasih..." Hua Mei sangat senang mempunyai tempat untuk bersandar lagi, sebelumnya dia sangat manja pada orang tuanya, tapi orang tuanya sudah meninggal akibat pertarungan walikota dan lainnya dengan Mo Gui.
"Lalu... kenapa kau tinggal ditengah hutan?" dengan banyak uang yang diberikan Xin Huang, setidaknya dia bisa membeli satu rumah besar. Tapi kenapa dia malah tinggal dihutan?, itulah yang dipertanyakan Xin Huang.
"Apa kau ingat tuan muda keluarga Zhi yang dulu bertemu kita?"
"Oh, yang direstoran itu?"
"Benar!"
"Ada apa dengannya?"
"5 bulan yang lalu, saat aku sedang berjalan-jalan, dia tiba-tiba menggodaku, lalu dia memaksaku untuk menikah dengannya. Tentu saja aku tidak mau, dia mengancam ku dengan nama keluarganya, tapi aku masih tidak mau, aku kabur dari sana. Sampai saat ini dia terus mengejarku, itu sangat menakutkan Xin" mata Hua Mei terlibat berkaca-kaca saat menceritakan itu.
"Sepertinya dia harus diberi pelajaran" Xin Huang mempunyai tujuan baru, membantai keluarga Zhi.
.
.
__ADS_1
.
.