Power System

Power System
Kota Dong


__ADS_3

"Jadi ini kota Dong?" terpampang dihadapan Xin Huang sebuah tembok batu yang sangat besar dan panjang. "Hmmm... Sama seperti sebelumnya, tidak ada bedanya" Xin Huang cemberut melihat bagian luar kota Dong yang hampir sama dengan bagian luar kota Xuan. "Kukira kota Dong akan lebih besar dan megah dari kota Xuan"


"Itu tidak mungkin Xin" Sahut Hua Mei. "Kota Xuan adalah kota yang paling besar dari empat kota besar lainnya" lanjut Hua Mei.


"Kenapa? apakah ada alasan khusus?" Xin Huang bingung kenapa kota Xuan bisa lebih besar dari empat kota besar lainnya.


"Bai Xuantian, walikota kota Xuan. Walaupun pemalas, dia menduduki urutan kedua dalam hal kekuatan dibenua naga"


"Kedua? jadi kekuatannya dibawah kaisar Shen?"


"Betul! dia berada di Inti Suci puncak 6 ledakan!"


"Oh...." Dimata orang lain, mungkin Bai Xuantian itu kuat, tapi Dimata Xin Huang, dia cuma serangga kecil yang bisa mati ketika diinjak.


"Baiklah! ayo kita masuk kekota Dong!"


"Sepertinya kau sudah tidak sabar..." Seingat Xin Huang, dia yang mengajaknya makan, tapi kenapa Hua Mei lebih semangat darinya?.


"Itu karena, kita akan makan berdua"


"Oh... Dasar kau" Xin Huang mencubit pipi Hua Mei.


"Hehe" Hua Mei hanya tertawa kecil dengan pipi yang sedikit merona.


Setelah percakapan singkat itu, Xin Huang dan Hua Mei menyelesaikan administrasi untuk memasuki kota, dan mereka mendapatkan kartu emas saat membayar 100.000 emas.


"Kartu apa ini?" Xin Huang membolak-balikan kartu emas yang ada ditangannya.


"Aku tidak tahu" Hua Mei mengangkat bahunya.


"Eh... Kau tidak pernah pergi kekota Dong?" seingat Xin Huang, Hua Mei adalah nona muda dari bangsawan tingkat menengah. Jadi mungkin saja bila dia pernah datang ke semua kota besar.


Hua Mei yang mendengar itu, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak pernah, keluargaku tidak punya urusan dengan kota Dong"


"Oh...." Xin Huang berjalan menuju wanita administrasi tadi. "Nona, kartu ini untuk apa?" tanya Xin Huang pada wanita administrasi.


"Ini adalah kartu kasta. Kartu ini menunjukan kasta anda di kota Dong. Kartu ini memiliki empat tingkatan: Perunggu-Perak-Emas-Platinum" wanita itu menjelaskan.


"Pemilik kartu emas hanya ada empat dikota Dong, itu termasuk tuan dan nona muda yang baru datang dikota ini" lanjut pelayan itu menjelaskan.


"Lalu kartu platinum?"


"Hanya ada lima, walikota empat kota besar dan kaisar Shen"


"Begitu..." Xin Huang berjalan kembali ke arah Hua Mei.


"Bagaimana? apa kau sudah tahu kegunaan kartu ini?"


"Ya..." Xin Huang menjelaskan secara detail sesuai yang dikatakan wanita administrasi tadi.


"Oh...." Hua Mei mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baik, kita tidak akan lama dikota ini. Kita hanya akan makan disini, lalu akan pergi kebenua Utara besok"

__ADS_1


"Baik Xin..."


Xin Huang memasuki kota Dong. Disepanjang perjalanan, Xin Huang hanya melihat sedikit penduduk yang berlalu-lalang. "Kenapa sepi sekali?" Xin Huang menoleh ke segala arah.


"Entah...." jawab Hua Mei.


"Hehehe.... Sapi...." terdengar suara kekehan di dalam gang, dan Xin Huang mendengarnya.


"Eh, kau kenapa kek?" Hua Mei terkejut saat mendengar suara kekehan itu.


"Sapi! Sapi! Sapi!" kakek tua itu berteriak, lalu kabur dari sana.


"Apa-apaan, makin tua malah makin gila" Xin Huang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dia gila karena suatu alasan...." Tiba-tiba datang seorang pria muda dengan rambut hitam dan mata yang selaras di sebelah Xin Huang.


"Alasan? tidak, yang lebih penting itu, kau siapa?" Xin Huang tidak kenal dengan pria berambut hitam itu.


"Perkenalkan, namaku Hei Chuzi" pria berambut hitam itu menyodorkan tangannya.


"Oh... Hei Chuzi! Perkenalkan, namaku Xin Huang!" Xin Huang menjabat tangan Hei Chuzi.


"Xin Huang? kau pahlawan kota Xinan?" Hei Chuzi terkejut saat mendengar nama Xin Huang.


"Pahlawan kota Xinan? apa itu?"


"Baru-baru ini, walikota Xin Qiang membangun patung orang-orang yang berjasa saat mengalahkan Mo Gui, dan salah satunya adalah kau"


"Oh... Berarti benar, kau adalah pahlawan kota Xinan"


"Tapi kenapa aku baru tahu? aku sudah tiga bulan tinggal dikota Xinan"


"Itu karena patung-patung itu dibuat satu bulan yang lalu"


"Oh..."


"Adaw!" Xin Huang merasakan bahwa tangannya dicubit seseorang. "Perkenalkan aku juga!" Hua Mei mendekati telinga Xin Huang.


"Oh iya...." Xin Huang menggaruk kepalanya. "Hei Chuzi, perkenalkan ini adalah istriku, Hua Mei. Hua Mei, perkenalkan, ini adalah Hei Chuzi" Xin Huang memperkenalkan keduanya.


"Hua Mei? Kau nona muda dari keluarga Mei?"


"Betul! tapi keluargaku semua sudah tidak ada" Hua Mei menundukan kepalanya.


"Jangan bersedih Hua'er, kau kan ada aku" Xin Huang memeluk tubuh Hua Mei.


"Eeee.... Apa kalian peserta turnamen juga?" Hei Chuzi berniat mengalihkan topik pembicaraan.


"Betul! Jika kau penonton, kau pasti ingat pada seseorang yang membakar wajah Hua'er dan itu aku" Hua Mei yang mendengar itu hanya cemberut.


"Oooo" mulut Hei Chuzi berbentuk O. "Tapi aku bukan penonton, aku adalah Hei Chuzi, si jenius belati" Hei Chuzi memperkenalkan dirinya dengan bangga.


"Oh! kau adalah idolanya Jian Tan! aku pernah melihat pertandinganmu dengan wanita dari keluarga Mei"

__ADS_1


"Ah! pantas saja aku merasa familiar dengan wajahmu, ternyata kau adalah orang yang mengalahkan Cha Mei!" Hua Mei mengingat sesuatu saat mendengar kata jenius belati.


"Cha Mei? siapa itu?" tanya Xin Huang.


"Dia adalah temanku! dia sangat baik padaku, sehingga dia dan aku melakukan kontrak saudara"


"Oh...." Xin Huang menganggukkan kepalanya. "Lalu kau, kau tadi mau menjelaskan sesuatu kan?"


"Ah, benar. Alasan kakek itu gila adalah, saat dia ingin mengambil kembali anaknya yang dibawa tim pemburu kota. Dia diberi kartu emas akibat hal heroik itu, walalupun dia menjadi gila gara-gara misi penyelamatannya"


"Pemburu kota? apa itu?"


"Pemburu kota ditugaskan untuk menangkap orang-orang yang tidak mempunyai kartu. Mereka akan dibawa kesuatu tempat yang tidak aku tahu" Hei Chuzi menjelaskan.


"Oh... pantas saja disini sepi"


"Ya, orang yang tidak punya kartu itu banyak. Mereka akan dibawa oleh pemburu kota, atau bersembunyi di suatu tempat" sahut Hei Chuzi.


"Baiklah, tujuanku disini hanya untuk makan, bukan untuk menyelamatkan mereka. Kau setuju kan Hua'er?" Xin Huang menolehkan pandangannya ke arah Hua Mei.


"Ya, Xin. Aku hanya menurut saja" Hua Mei menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Tuan Hei Chuzi, Apa kau ingin makan kuliner yang terkenal?"


"Tidak, aku hanya punya kartu perak"


"Memangnya apa hubungannya dengan kartu?"


"Hanya orang yang mempunyai kartu emas yang bisa memakan kuliner terkenal itu"


"Ya ampun, sungguh menjijikan sekali tinggal disini"


"Betul, kota ini sangat menjunjung nilai material, walalupun itu hanya kamuflase saja"


"Kamuflase?"


"Betul, orang yang mempunyai kartu berkasta tinggi tidak bisa dijamin aman. Mereka bisa saja dirampok oleh orang yang lebih kuat darinya, dan mereka akan menjadi orang yang tak punya kartu, lalu ditangkap oleh pemburu kota"


"Jadi hukum rimba masih berlaku disini" Xin Huang menganggukkan kepalanya. "Baiklah tuan Hei Chuzi, kami pergi dulu" Xin Huang menggenggam lengan Hua Mei.


"Ya, sampai jumpa lagi"


"Sampai jumpa" Xin Huang tetap mengatakan itu walaupun dia tidak tahu apakah dia bisa bertemu dengannya lagi atau tidak.


Setelah percakapan itu, Xin Huang pergi bersama Hua Mei ke arah restoran yang memiliki makanan terkenal itu, Xin Huang tahu restoran itu karena diberi tahu oleh system. Omong-omong, System dan Xin Huang berbaikkan saat Xin Huang memberi system satu miliar Poin Sistem.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2