
"Bagaimana Xin?" tanya Hua Mei dengan wajah riang.
"Enak... Kau memang jenius, Hua'er..."
"Hehe...." Pipi Hua Mei terlihat merona saat dipuji Xin Huang.
"Ya sudah, ayo kita temui Yun Cheng"
"Ayo!"
Sudah satu Minggu Xin Huang mengajari Hua Mei memasak, dan Hua Mei kali Ini sudah bisa memasak dengan sangat enak. Bila bukan karena bantuan sistem, Hua Mei pasti baru bisa memasak setelah 1 tahun, mungkin bisa lebih dari itu. Setelah itu, Xin Huang keluar dari rumahnya. Setelah diluar, Xin Huang dan Hua Mei pergi berjalan ke arah istana.
....
"Xin, memangnya kau tabib?" Tanya Hua Mei ditengah perjalanan.
"Tentu saja, jika tidak, aku tidak akan sepercaya diri ini pergi ke istana"
"Beneran?! Kukira kau akan mengancam Yun Cheng dengan kekuatanmu"
"Walaupun kekuatan adalah segalanya didunia ini, aku akan tetap mencoba menggunakan jalan lain untuk hidup didunia ini"
"Wah... Kau benar-benar sudah berubah" Hua Mei ingat bahwa Xin Huang pernah menyuruhnya memakai kekuatan untuk mengancam orang.
"Tentu saja! Aku harus menjadi contoh baik untukmu"
"Hehe" Hua Mei sangat senang diperhatikan lebih oleh Xin Huang.
"Ah, itu dia" Xin Huang menunjuk sebuah istana super besar berwarna biru.
"Ya... Berapa kali pun aku melihatnya, aku tetap masih terpana oleh istana itu"
"Ya sudah, ayo masuk"
"Ayo"
Xin Huang dan Hua Mei berjalan ke arah gerbang istana itu, disana terlihat penjaga yang kemarin bertemu Xin Huang, sedang berdiri tegak.
"Halo pak penjaga" Xin Huang memanggil penjaga itu.
"O-Oh... Ha-Halo"
"Aku ingin menemui kaisar Yun Cheng"
"Ka-Kan sudah kubilang, kau harus menjadi tabib terlebih dahulu"
"Ini" Xin Huang menyerahkan sebuah lencana berwarna emas, menunjukkan dia adalah tabib kelas 6.
"Tabib kelas 6?!!" Mata penjaga itu melebar terkejut saat melihat lencana emas ditangan Xin Huang.
"Ya, cepat izinkan aku masuk"
__ADS_1
"Ba-Baiklah, kalian tunggu disini, aku akan meminta izin dulu pada kaisar"
"Ya, sana"
Penjaga itu lari terbirit-birit kedalam istana kekaisaran. "Fyuhh... Berhasil" Xin Huang mendapatkan lencana itu di dalam kediaman Gong Tianzong. "Aku lupa bahwa aku punya ini" Xin Huang menatap lencana emas ditangannya.
"Hebat... Tabib kelas 6" Hua Mei terpana saat mengetahui bahwa suaminya adalah super duper jenius yang ada setiap 1 triliun sekali.
"Hahaha, aku menjadi pria yang bisa apa saja adalah karena dirimu, Hua'er"
"Karena diriku?"
"Tentu, aku tidak mau kau sakit, aku tidak mau kau kesusahan, dan aku tidak mau kau bersedih"
Pipi Hua Mei mengeluarkan rona merah yang membuat wajahnya terlihat menjadi sangat imut. "Te-Terima kasih, Xin...." jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Angkatlah kepalamu, Hua'er" Xin Huang mengangkat dagu Hua Mei. "Dan, teruslah tersenyum" Xin Huang berucap dengan senyuman hangat.
"Tentu saja Xin..." Hua Mei mendekatkan wajahnya pada Xin Huang. Xin Huang yang melihat itu, mendekatkan wajahnya juga pada Hua Mei.
Wajah Xin Huang dan Hua Mei saling mendekat, kemudian mereka mendekatkan bibirnya. Xin Huang bisa merasakan nafas Hua Mei yang memburu. Saat Xin Huang ingin mencium Hua Mei, terdengar suara pria dibelakangnya.
"Tuan! kau boleh masuk!" ucap penjaga itu dengan santainya.
Saat mendengar itu, Xin Huang menatap tajam penjaga itu. "Lagi-lagi kau mengganggu" sedikit aura membunuh merembes keluar dari tubuh Xin Huang.
"Er-Erk" Penjaga itu langsung ambruk dan berlutut dibawah tekanan aura Xin Huang.
"Xi-Xin! jangan lakukan itu! kita yang salah mau melakukan itu diluar sini!" Hua Mei berusaha menenangkan Xin Huang.
"Ba-Baiklah" penjaga itu bangun, lalu berjalan dengan Xin Huang dan Hua Mei yang mengikuti dari belakang.
***
"Disini, tuan dan nona" Penjaga itu mengantarkan Xin Huang dan Hua Mei didepan sebuah pintu besar berwarna hitam.
"Jadi aku hanya harus masuk saja?"
"Betul tuan"
"Baiklah, ayo Hua'er" Xin Huang menggenggam lengan Hua Mei.
"Ayo"
Xin Huang dan Hua Mei membuka pintu itu, lalu memasukinya. Didalam ruangan, terlihat seorang pria berambut putih dengan wajah yang terlihat sudah berumur duduk disebuah sofa.
"Halo tuan kaisar" Xin Huang dan Hua Mei menunduk pada pria itu.
"Remaja?" Seingat Yun Cheng, yang akan mendatanginya adalah tabib kelas 6, bukan sepasang remaja.
"Ini yang penjaga tadi maksudkan, tuan kaisar" Xin Huang menjelaskannya saat melihat wajah bingung Yun Cheng.
__ADS_1
"O-Oh! Silahkan duduk!"
"Baik tuan kaisar" Xin Huang dan Hua Mei duduk di sofa. "Kudengar... Putri tuan kaisar sakit ya?" Xin Huang mencoba untuk membuka pembicaraan.
"Betul tuan tabib.... Putriku sudah tidur dikasurnya selama 3 tahun penuh"
"Hooo.... Cepat antarkan aku pada putrimu" Xin Huang merasa tertarik saat mendengar kondisi kesehatan putri Yun Cheng.
"Tapi sebelum itu.... Tunjukkan aku lencana emas itu" Mau bagaimanapun, Xin Huang adalah orang asing di mata Yun Cheng, dan Yun Cheng membutuhkan bukti untuk percaya pada Xin Huang.
"Aku mengerti..." Xin Huang mengeluarkan lencana emas dari dalam cincin penyimpanannya.
Yun Cheng yang melihat itu, menganggukan kepalanya. "Baiklah tuan...." tiba-tiba Yun Cheng menghentikan kata-katanya, lalu terlihat dia sedang memikirkan sesuatu.
"Oh... Maafkan ketidak sopanan ku, Kaisar Yun Cheng. Namaku adalah Xin Huang, dan wanita yang ada disebelahku adalah Hua Mei, istriku"
"Tak apa tuan Xin, mari kuantar ke kamar putriku berada" Yun Cheng beranjak dari duduknya.
"Ayo tuan kaisar" Xin Huang juga bangun dengan Hua Mei yang mengikutinya.
"Ayo" Yun Cheng berjalan di paling depan, dan memimpin kedua orang dibelakangnya untuk pergi ke kamar putrinya.
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Xin Huang dan Hua Mei dibawa Yun Cheng ke bagian yang lebih dalam di istananya. Di bagian yang lebih dalam itu, Xin Huang melihat taman bunga yang lumayan besar dengan sebuah rumah mewah kecil di tengahnya.
"Disitu" Yun Cheng berjalan sembari menunjuk rumah mewah kecil itu.
Yun Cheng, Xin Huang dan Hua Mei melanjutkan jalannya lebih dekat lagi ke rumah mewah kecil itu.
Setelah sampai, Yun Cheng berbicara. "Istriku sangat suka dengan bunga, oleh sebab itu dia membangun taman bunga di bagian tengah istana ini. Karena tidak ingin berada jauh dari bunga, Istriku membangun rumah kecil di tengahnya, lalu tinggal disana. Tempat lahir putriku pun ada dirumah ini" ucap Yun Cheng yang sedang bernostalgia.
"Lalu, istrimu ada dimana?"
"Dimana? Entahlah, dia mati saat melahirkan putriku"
"Begitu...."
"Baiklah, ayo masuk" Yun Cheng membuka pintu itu, lalu masuk kedalam.
Xin Huang dan Hua Mei saling menatap, lalu masuk juga kerumah itu.
.
.
__ADS_1
.
.